Cinta Kutu Kupret Part 2




Kurang 10 menit lagi, waktu jam pelajaran berakhir. Anak-anak kelas XII A terlihat gelisah. Ada yang menguap, ada yang pura-pura menyimak, sambil sesekali melirik notifikasi di handphonenya.

Di tempat duduknya. Karina berpikir keras, bagaimana membalas perbuatan Sahrul. Gara-gara bukunya hilang, ia tak belajar, nilai ulangannya jelek, mendapat hukuman dari Pak Imam. Dan yang lebih buruk, ia malu dengan Aksa, anak basket yang diam-diam dia sukai. Selama ini, Sahrul yang terang-terangan mendekatinya.Sayangnya ia malah cuek, tak menggubris. Baginya, sosok Sahrul seperti kutu, kehadirannya membuat dirinya gatal-gatal.
Dalam pikiran Karina hanya Sahrul, yang memiliki kans paling besar untuk mengambil bukunya, supaya Karina memperhatikannya.


Teeetttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt, bel pulang berbunyi. Karina langsung menyambar tas milik Sahrul diatas meja. Cowok cungkring yang lengannya sengaja di coret-coret biar mirip sebuah tato sontak kaget.

“Eittsssssssss…..kamu mau ngajak aku kencan ya” dia berlari mengikuti langkah Karina yang berjalan cepat. Sampai tak memperdulikan teriakan Aksa, sahabatnya

Karina terus berjalan, melewati gerbang sekolah. “Karin….kita mau kemana?” Ucap Sahrul setelah berhasil menjejeri langkah Karina. Nafasnya masih ngos-ngosan. Ia tak menyangka hari ini dia banyak berlari, di tengah cuaca panas begini. Kerongkongannya menjadi kering.

“Please Karin…..jawab aku” dia mulai terlihat kesal. Gadis di sampingnya itu tetap diam membisu dan terus berjalan menuju sungai di samping sekolah. Kemudian dengan muka datar, Karina membuang tas Sahrul ke sungai. Aliran sungai yang deras, membawa tas Sahrul berputar-putar sebelum menjauh dari penglihatan Karina. Disampingnya Sahrulshock. Pikirannya kalut memikirkan tasnya yang semakin menjauh. Bukan buku pelajaran yang dia pikirkan, tapi uang 500 ribu yang ada di dalam tasnya. Uang itu rencananya untuk menebus obat adiknya, yang terbaring sakit. Sedangkan, Karina tersenyum sinis, penuh kemenangan menatap Sahrul.

“Sekarang impas” dan melenggang meninggalkan Sahrul tanpa dosa. “Bukan, aku yang mengambil bukumu….” suara Sahrul bergetar. Karina menghentikan langkahnya sebentar. Di kejauhan Aksa dan Tasya melihat mereka dengan cemas.

***

Dengan memakai baju daster warna pink. Karina tidur-tiduran di lantai ubin kamarnya. Kipas angin, ia putar kencang. Gadis itu membaca komik doraemon dan mulutnya sibuk mengunyah bakwan, buatan mami. 

Lalu, ia di kejutkan dengan kedatangan Tasya. Wajahnya kusut sekali. Serta merta ia memeluk Karina. Karina bingung, apalagi melihat temannya itu masih berpakaian sekolah. 

“Maafkan aku Kar…..aku yang salah, bukan Sahrul” Dia menangis di pelukan Karina.

“Sebentar…..maksudmu apa sih…” Karina membagi minumannya. Tasya menyeruputnya sebentar. Gadis itu sedikit tenang. Kemudian dia mengambil bakwan di samping Karina. Memakannya dengan lahap. Habis satu….dia langsung mengambil 2 potong bakwan sekaligus. Karina berdehem. Tasya nyengir. Setelah itu dia baru bercerita.

“HAHHHHHHHHHH………jadi kamu yang mengambil bukuku?!! Karina setengah histeris mendengar pengakuan Tasya. Ia tak menyangka Tasya tega membuatnya membuatnya menerima hukuman dari Pak Imam. 

“Aku melakukannya atas permintaan Aksa, dan karena aku mencintainya, maka aku mau melakukannya” Karina kaget dengan penjelasan teman sebangkunya itu. Dia juga tak mengira Tasya juga menyimpan hati untuk Aksa. Tapi…yang membuatnya tak nyaman adalah ia telah menuduh dan membuang tas Sahrul, orang yang tak tahu apa-apa. Apalagi setelah mendengar cerita tentang adik Sahrul yang sakit. Karina merasa sangat bersalah. 

“Kamu harus tanggung jawab sekarang, Tas…….antar aku ke rumah Sahrul!!!” Tasya mengkeret mendengar suara Karina. Ia mengangguk cepat. Padahal perutnya lapar sekali. Cepat-cepat Karina keluar dengan membawa tabungan ayamnya.

“Kamu mau kemana Kar….” 

“Mau bongkar celengan….mau ikut?” Tasya menggeleng, lebih baik ia disini, memakan bakwan buatan mami.

15 menit kemudian Karina datang, dan mengajak Tasya, mengantarkannya ke rumah Sahrul. Ia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah di lakukannya tadi siang. Mereka lalu sama mami.

“Sebentar….Karin…..apa kamu yakin mau keluar dengan baju daster bolong itu?” Tanya  Mami aneh. Karina menyeringai, dan berlari ke kamarnya. Berganti pakaian.

***

Menyusuri gang sempit, Karina dan Tasya akhirnya tiba di rumah Sahrul. Gadis itu mengetuk pintu, seorang gadis kecil menyembulkan wajahnya dari balik tirai. Ia tersenyum manis.
Pintu terbuka…


“Mencari siapa kak” kata anak itu ramah.
“Kak Sahrulnya ada, dek….” Tanya Karina. Anak perempuan itu menggeleng. “Jam segini, kakak belum pulang. Ia masih bekerja di warung padang, di depan jalan itu kak.” Jawabnya. 

Uhuk..uhuk..uhuk…uhuk…uhuk…terdengar suara panggilan lemah dari dalam kamar. Anak itu berlari menghampiri. Karina dan Tasya mengikutinya. 

Deg……

Karina dan Tasya saling berpandangan. Di sebuah dipan yang kasurnya sudah tipis. Terbaring bocah kecil dengan ukuran kepala yang lebih besar dari badannya. Anak perempuan itu telaten memberinya minum.

Hati mereka miris melihatnya.”Ibumu mana dek” Tasya tak melihat orang dewasa di rumah itu. 

“Ibu masih ke rumah uwak, sedang ayah masih bekerja kak” kata Adinda, adik Sahrul. Senyumnya masih mengembang, menjawab pertanyaan tamunya. Tak lama kemudian, Ibu Sahrul datang. Sikapnya yang ramah membuat Karina dan Tasya nyaman. Karina langsung meminta tolong pada ibu Sahrul supaya menyampaikan maafnya pada Sahrul. Ia merasa bersalah telah membuang tas Sahrul ke sungai, dan menyebabkan Sahrul tidak dapat menebus obat untuk Tyo. Ibu Sahrul mengerti.Dan memaafkan Karina, ia juga menolak saat Karina memberinya uang sebagai uang pengganti Sahrul yang ia buang. “Nggak usah nak….bawa saja uang ini, ibu sudah punya penggantinya” jawabnya lembut. Tapi Karina tetap menolak. Ia merasa tidak tenang, bila uangnya tidak di terima.

Karina lantas berpamitan, setelah ibu Sahrul menerima uang Karina. Perasaan benci pada Sahrul berubah menjadi kagum. Di balik sifat jahilnya, Sahrul sosok lelaki yang peduli. Menurut penuturan ibunya, 3 tahun silam, Sahrul menemukan Tyo di buang di depan Warung padang, tempatnya bekerja. Dan ia berinisiatif untuk membawa Tyo pulang ke rumahnya, dan meminta orangtuanya untuk mengangkatnya sebagai anak angkat.









Comments

Post a Comment

Tulisan Beken