Cinta Kutu Kupret Part 3



Lewat Tasya, Aksa mengirim pesan. Supaya Karina menemuinya di belakang sekolah saat sekolah usai. Karina membalasnya dengan mengangkat bahu,jengah. Ngapain pula ia menemuinya. Cuih…!! Never!! Sudah jelas ia yang telah memanfaatkan kepolosan Tasya. Dan menyebabkan kerugian bagi orang lain. Eh…sikapnya masih saja arogan dan menganggap dirinya paling penting. Perutnya mengeras.

Karina mengambil ancang-ancang untuk pergi. Tasya menghalanginya. “Karin….ayolah, temui Aksa” katanya dengan mimic memelas.

“Aku tidak mau” jawabnya pedas. Tasya memegang lengannya. ”Tapiiiiiiiiiii…aku sudah berjanji akan membawamu. Masak kamu tega sih,aku dimarahi Aksa” 


“Itu masalahmu, bukan masalahku, kenapa aku yang puyeng” Gadis itu nyengir dan mengambil tasnya lalu bergegas pulang.Tasya semakin ketakutan, mendengar jawaban Karina. Dengkulnya mendadak lemas. Ia kebingungan mencari alasan yang tepat pada Aksa. Cowok itu telah memberinya ultimatum. Bila dia tak berhasil membawa Karina, jangan harap dia akan memperbolehkan Tasya berdekatan dengannya. Dan bagi Tasya, itu pertanda kiamat! Dia mencari ide. 

Sahrul lewat. Sebuah ide cemerlang mendarat di kepalanya. Aha!!! Tasya kemudian mendatangi Sahrul dan membisikinya. Lantas ia buru-buru mengejar Karina, dan meneriakkan namanya keras.

“KARINAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……” gadis manis yang tengah menuruni tangga itu, terpaksa menoleh, dan melihat Tasya berlari kearahnya. Badannya yang bulat, dengan kaki pendek tampak kerepotan, menuruni tangga. “Karin…tunggu..please” ucap Tasya dengan nafas pendek.

“Ada apa lagi sih, aku buru buru nih….” tanya Karina cemberut. Cacing-cacing diperutnya sudah berontak sejak tadi. Dia bangun kesiangan, tak sempat sarapan dan sialnya, uang sakunya ketinggalan dirumah. Untung di saku celananya, masih ada uang sisa kemarin, dan itu hanya cukup buat ongkos naik angkot.

“Sahrul mencarimu….” Karina menautkan kedua alisnya. Tanpa banyak tanya. ia mengikuti langkah Tasya yang bersorak kegirangan.
***
Di belakang sekolah, dulunya di gunakan untuk tempat membuangan sampah. Disana tumbuh tanaman bamboo yang tumbuh subur. Tak ada yang berani menebangnya, sebab menurut pengakuan Pak Ableh, penjaga sekolah, tiap ada yang mengambil bambunya, mereka selalu kesurupan. Dan katanya lagi disitu adalah tempat tinggal jin, yang suka menggoda murid yang berpikiran kosong. Ntah benar apa tidak, tapi ada teman Karina yang pernah kesurupan. Akhirnya tak ada yang berani datang ke belakang sekolah.

Namun, semenjak Pak Sule, guru prakarya, masuk. Tanaman bambunya di teban. Kemudian, dengan inisiatifnya, mengubahnya  menjadi kebun bunga, sayur dan toga. Sekarang tempat itu, berubah menjadi indah.
Selain itu juga, disisi kiri disediakan bangku-bangku hasil recycle ban mobil dan drum bekas minyak. Yang di cat warna warni, sehingga suasananya semakin semarak.

Mata Karina senang sekali, melihat sekeliling. Ia dimanjakan dengan suasana belakang sekolah yang tertata rapi. Bunga-bunga angrek bulan sedang berbunga. Sedangkan tanaman sayur mayur, seperti sawi, kangkung, terung serta brokoli, berjajar rapi, di pot-pot dan tumbuh hijau dan subur. Siap dipanen.

Tasya menyenggol lengannya. Dilihatnya Aksa berjalan bersisian bersama Sahrul dari arah kantin. Tangannya membawa dua botol minuman dingin.

Melihat Aksa, Karina melengos. 

“Karina….apa kamu sudah lama menungguku?” Aksa memberikan botol minuman itu kepadanya. Karina menolak, meskipun ia haus sekali.

“Sorry aku tidak menunggumu, tetapi mau bertemu dengan Sahrul, ohya emang ada apa sih Rul?” Sahrul bengong. Justru ia diberitahu Tasya bahwa Karina ingin bertemu dengannya. Aksa tak mengerti. Lantas, keduanya sama-sama melihat kearah Tasya.

Melihat itu, Karina langsung membalikkan badannya, pulang. Ia sangat kesal dengan Tasya. Bodohnya dia cepat mempercayai perkataan Tasya. Padahal jelas sekali, itu hanya akal-akalannya supaya dia bisa menemui Aksa. Karina misuh-misuh sendiri. Cacing di perutnya semakin ganas memprotes supaya ia cepat makan.

Siang itu, matahari bersinar terik. Karina mengambil buku tulisnya untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Sudah 10 menit ia berdiri di situ, dan belum ada satupun angkot yang lewat. Kerongkongannya makin kering. 

“Ambillah…..” tanpa menoleh, ia mengambil minuman itu, dan meneguknya sampai tandas.
“Hehhehehe….pelan pelan, Neng. Napsu banget minumnya” Karina menoleh, dan ia malu Sahrul tersenyum disampingnya.

“Aku kehausan, tauk……dan makasih untuk minumannya” Sahrul mengangguk. Baru kali ini Karina memberikan senyum padanya. Di balik sikap galaknya, ternyata gadis disampingnya itu baik juga. Kemarin ibunya menceritakan semuanya. Padahal, ia sudah ikhlas uang untuk membeli obat adiknya hilang. Semua karena salah paham.
Tiba-tiba Aksa datang, dengan membawa sepeda motornya dan berhenti di depan Karina dan Sahrul.

“Ayo….kuantar pulang” senyumnya mengembang, diantara deretan giginya yang putih. Selain ganteng, Aksa juga tajir. Ia banyak di gandrungi cewek-cewek di sekolah ini. Karina harusnya senang, Aksa ingin mengantarnya pulang. Tetapi gadis itu menolaknya dengan muka judes. Ia masih kesal dengannya. Ia menunggu permintaan maaf Aksa, tetapi cowok itu sepertinya tak peduli. Dan ia masih merasa berhutang telah membuang buku Sahrul.
“Cepatlah naik…..” Aksa mencoba merayunya. Karina memelotinya. Ia semakin jengah dengan cowok itu. Untungnya angkot yang di tunggunya datang. Ia segera masuk, dan tak memperdulikan teriakan Aksa.
Sungguh..ia ingin cepat-cepat sampai dirumahnya. Dan makan!

***
“Assalamualaikum, Mi….mami…” Karina membuka pintu dan terkejut sewaktu melihat Tasya duduk anteng di di meja makan, dengan sepiring nasi dan lauk pauk di hadapannya. Ia makan dengan lahap. Rasa laparnya seketika hilang. Ia tahu Tasya, kadang anak itu kelewatan, tak memikirkan orang lain. Dengan langkah gontai, ia melangkah ke kamarnya.

“Lho….mami kok nggak denger, kamu datang nak” Mama mencium keningnya. “Ayo..makan dulu, temani Tasya makan, dia sudah menunggumu dari tadi”.

“Apanya yang mau dimakan, Mi……semua sudah habis” jawab Karina sewot, melirik Tasya yang cuma nyengir dengan wajah tak bersalah.

Mami mengeleng-geleng. Gimana badan Tasya mau kurus, kalau nasi dan lauk pauk untuk empat orang di embatnya sendiri.

“Kamu mau makan apa, nak, ayam goreng apa sate jerohan. Biar mami telpong Bang Iyus” bang Iyus adalah tetangganya yang membuka warung yang menjual aneka makanan dan masakan jadi, ada yang dibuatnya sendiri, banyak pula titipan dari tetangga. 

Tasya menoleh, “Tante…..apa saya boleh pesen juga” mulutnya masih penuh dengan makanan. Wajahnya sok di imut-imutin.

“Kagak boleh” Karina ketus menjawabnya.”Cepetan gih, pulang” kata Karina kasar.



Comments

Tulisan Beken