Cinta Kutu Kupret Part 4




Ada hari-hari dimana Karina merindukan keisengan Sahrul. Hari-harinya berjalan monoton. Tanpa disadarinya, keisengan Sahrul, memotivasi dirinya untuk tetap cool, meladeni tingkahnya. Meskipun terkadang tingkahnya terlihat konyol dan membuatnya kesal. Tapi….ia menikmatinya. Gila nggak sih!

Mending Sahrul yang mengerjainya daripada Aksa, cowok arogan yang membuatnya dirinya eneg. Cowok macho yang ternyata tak lebih dari curut bau. Dia merasa dirinya paling top, sehingga tak pernah menyesali apa yang telah di lakukannya.

Cowok cungkring itu berubah drastis, semenjak ia membuang bukunya ke sungai. Sahrul, yang dulu Karina anggap seperti kutu kupret, kini berubah kalem, tak lagi mengejar-ngejar Karina. Gadis itu membuang nafasnya pelan, diliriknya Sahrul yang sedang mengobrol serius dengan Budi. 


Dan semakin lama ia memperhatikan wajah Sahrul. Wajahnya memang mirip Sahrur Khan. Hanya saja tubuhnya kurus. Coba saja badannya gemukan dikit. Hmm pasti di bilang kembarannya. Pikiran liar menggerayangi otaknya. Gadis itu cepat sadar, dan tangannya memukul pelan kepalanya sendiri, Puk. Alamak!!!! Kenapa tiba-tiba Karina memikirnya. Ihhhh…..enggak-enggak. Dia berbicara sendiri.

 Tasya menoleh.
“Karin…..ntar, pulang sekolah aku kerumahmu ya…..” matanya di kedip-kedipkan.
“Mo ngapain…….”
“Minta diajarin bahasa inggris” 
“Halah, alesan, paling kamu mau nebeng makan, iya kan?”

 Tasya nyengir.“Nah…itu sudah tahu, oh ya, aku sudah siapin bumbu rujak buat nanti, manggamu masih banyak kan?”
Karina melongo, nih anak apa nggak bosen, hampir tiap hari dia ngerujak. Papi sampai protes, buah mangganya nggak ada yang sampai matang, boro-boro matang, buah yang masih pencit aja Tasya lahap.
Meskipun sebal, Karina tak mampu menolak kedatangan Tasya, termasuk maminya. Sebab anak itu pintar mengambil hati pemilik rumah. Kalau mami sibuk, dia suka membantu pekerjaan mami, kalau nggak gitu, dia suka mijitin mami. Kata mami, pijatan Tasya enak, pegel-pegel di badannya, hilang.

Tasya sebenarnya anak baik dan polos. Sayang……banyak anak yang memanfaatkannya, termasuk Aksa. 
Mereka pulang bersama-sama.

“Assalamualikum, Miiiiiiiii…Karin pulang” Mami, keluar dari kamarnya dengan mata sembab. Sepertinya mami habis menangis. Tak seperti biasanya, dia tak menyapa Tasya. Membuat dirinya, canggung.

“Mi…..apa mami sakit?” tanya Karina khawatir. Mami menatap wajahnya lekat. Dan gadis itu bergidik ngeri dengan tatapan Mami. “Ihhhh…Mami kenapa sih?”

“Makanlah dulu, setelah itu, mami ingin berbicara denganmu” perintah mami, dingin. Karina menurut. Dia lalu mengajak Tasya makan siang, setelah itu memintanya pulang. “Bagi ongkos dong, Rin….” Karina mengelus dada, duh…..anak ini. Dia langsung mengambil selembaran uang sepuluh ribu di dompetnya. ”Nih..di cukup-cukupin” untung jatah mingguannya masih ada.
“Karin….sini!” Suara mami bergetar saat memintanya masuk ke kamar mami. Dahinya berkerut. Pasti ada sesuatu yang penting, yang akan mami sampaikan. Apa mami sama papi lagi ada masalah?

Kemudian mami, mengambil sesuatu di lemari, di bawah tumpukan bajunya. Entah apa itu, tetapi mami memegangnya erat. Lantas, Mami menangis. Mulanya pelan, dan bertambah keras. “Kurang apa Mami sama Papi, Nak….kenapa kamu tega mengecewakan kami?” Karina semakin bingung dengan ucapan mami.
“Mami…..emang Karina salah apa?”

“Kamu sudah telat berapa lama nak, ayo jujur sama mami. Kami akan membantumu, nak….” Tangis mami semakin histeris. Karina menggaruk-garuk rambutnya.
“Miiiiiiiiiiiii……Karina tak mengerti apa yang mami omongin.” Mami mencoba menenangkan dirinya.

“Ini apa nak, coba jelaskan sama mami.” Karina terkejut, mami memegang testpack.
“Lho…..emangnya, itu punya siapa mi” Karina balik bertanya, mami menjadi bingung. Di usapnya airmatanya. “Lagian, ngapain Karina beli begituan. Gini…gini Karina masih Karina takut dosa. Masak Mami nggak percaya sama anak sendiri sih….” 

Sekali lagi, mami menatap wajah putrinya. Hubungan ibu anak itu akrab. Ia sedikit tenang. “Lantas….ini punya siapa, nak. Jangan…jangan….ini punya selingkuhan papi.” Mami kembali menangis histeris….

“Istighfar Mi..jangan nuduh papi sembarangan. Kita tunggu penjelasan papi nanti.”
“Nggak bisa! kamu telpon papi sekarang, suruh dia pulang.” Mami seperti orang kesetanan. Karina ngibrit, mengambil ponselnya, dan segera menelpon papi.
Papi yang saat itu sedang rapat, langsung permisi pulang setelah mendengar suara panic anaknya. 

“Mami…kenapa??” Lelaki itu terkejut melihat istrinya tergolek lemah di atas pembaringan, wajahnya pucat.
“Mi…..kita kedokter ya….?”

“Nggak usah….mami sakit hati sama papi. Papi jahat sudah menduakan mami.” Papi yang tak mengerti duduk persoalannya, lantas bertanya pada Karina. Karina menjelaskannya. Papi tertawa terbahak-bahak.

“Mi…..miiiii..mbok ya jangan terlalu banyak lihat sinetron. Ya begini jadinya..hehhehehehe. Cinta papi hanya untuk mami dan Karina”.

“Halah….embel…..”mami merajuk. Karina terkekeh. Melihat keromantisan papi.
“Mosok mami nggak percaya papi sih.” Papi membelai punggung tangan mami. Mami menunduk.

Tiba-tiba lutut Karina lemas, ia teringat sesuatu.
“Mi……apa kalau orang yang sedang ngidam, suka yang masam-masam?” Mami mengangguk.


Kemarin…..di sekolah, saat dia sedang berada toilet, dia mendengar suara tangisan dari salah satu bilik. Suara perempuan! Kemudian dia berpapasan dengan Tasya,wajahnya murung, dan sepertinya habis menangis. Mungkikah….perempuan itu Tasya…memikirkannya saja, perutnya semakin tegang.














Comments

Post a Comment

Tulisan Beken