Cinta Kutu Kupret Part 5




Karina berdiri didepan rumah Tasya dengan perasaan gamang. Rumah berdinding batu itu terlihat sepi. Kaca-kaca jendela tampak kotor dan berdebu. Sampah dan daun-daun kering mangga manalagi menutupi halaman. Pun dengan bunga-bunga anemone, kesayangan Tante Ine, ibunda Tasya, kondisinya tak kalah mengenaskan, kering, seperti lama tak tersentuh air.
Ia lantas merogoh saku celananya. Mencari sesuatu. “Sial” rutuknya. Karena terburu-buru, Ia lupa membawa ponselnya. Sekarang..ia tak tahu kemana harus mencari Tasya.

“Nyari siapa mba? Seorang ibu menyapanya ramah.

“Tasya,bu. Saya temannya satu sekolah.”dalam hatinya, gadis itu berharap semoga ibu yang memiliki lesung pipit itu, dapat memberinya informasi.

“Apa mbak tidak tahu, semenjak orangtuanya bercerai, Tasya tinggal di rumah neneknya. Dan rumah ini di biarkan kosong sejak lama.”

Mata Karina terbelalak. Ia tak mempercayai pendengarannya.

“HAHHHHHHHHHHHH!!!! Masa sih bu”. Tasya tak pernah bercerita pada saya.” 

Ibu itu menggangguk.

“Denger-denger, orangtuanya sudah pindah ke luar jawa dengan jodohnya masing-masing. Kasihan Tasya” saat mengucapkannya, raut wajah ibu itu berubah murung. 

Karina pulang dengan membawa beban berat didadanya. Rasa bersalah,lantas menyelusup di hati Karina. Sebagai teman sebangku Tasya, dirinya benar-benar seperti seorang evil

Hubungan mereka dulu akrab, dia suka bermain di rumah Tasya. Makanya ia tahu tentang  bunga anemone. Sayangnya, setelah Tasya selalu mengikuti perintah Aksa, Karina berubah ilfill, lantas tak memperdulikannya. Ditambah lagi dengan pertengkaran mereka sebulan lalu. Hubungan mereka semakin renggang.

“Kacrut kamu Sya! menyerahkan milikmu yang paling berharga pada Aksa, hanya dengan iming-iming dia akan menjadikanmu pacarnya?” Teriak Karina frustasi, ia tak menyangka Tasya begitu bodohnya menyanggupi permintaan Aksa.

“Orangtuaku saja tak peduli! Kenapa kamu malah mau mengatur hidupku!!.” Balas Tasya dengan mata marah. Dia kesal sekali dengan sikap Karina yang cerewet.

Karina sakit hati. Perhatiannya diterima buruk oleh Tasya. 

 Meskipun belakangan ini, Tasya mulai mendekatinya, Ia menutup mata. 

***
Karina datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Dari semalam ia belum bisa menelpon Tasya. Ia cemas, terjadi sesuatu dengan Tasya. Bukan hanya dirinya, mami juga mencemaskan Tasya.
Kemudian, senyumnya mengembang saat melihat Tasya datang bersama Sahrul. Ia langsung memeluknya. Tasya gelagapan. Ia tak mengerti kenapa sikap Karina berubah hangat padanya.

“Cieeeee….kamu habis minum apa Rin….”ledek Sahrul, senang. Sebab Ia mengetahui hubungan ketegangan diantara kedua sahabat itu.

Karina menoleh pada Sahrul.

“Air kecubung, hehehhehehehe.” Lantas ia mengajak mereka berdua sarapan nasi kuning di kantin.

Tasya tak banyak bicara, ia juga tak berselera makan. Pandangannya kosong. Berkali-kali Sahrul menggodanya, namun gadis itu hanya menjawabnya dengan senyum tipis. Begitupun ketika di tanya Karina.

“Ntar kamu ke rumah kan? Mami sudah masakin opor ayam buatmu.” Ucap Karina riang. Tak ada jawaban dari mulut Tasya. Gadis itu malah memberikan sebuah kotak bersampul ungu padanya.

“Ibi buatmu, Tolong…maafkan aku ya. Selama ini….aku egois dan tak pernah mendengarkan omonganmu. Kata Tasya setengah terisak. 

“Ihhhhh…kok malah sedih sih, aku yang egois Sya. Kamu tak pernah cerita soal masalahmu, dan aku merasa buruk setelah mengetahuinya.” Jawab Karina menggenggam tangan Tasya.
“Aku..yang salah…bukan kamu.”

Sahrul memandang keduanya. Nasi di hadapannya sudah habis. Dan matanya melirik piring Tasya yang masih penuh. 

“Aduh…rebutan apa sih kalian…! Sudah nggak ada yang salah. Dan Sya…sini biar kumakan nasimu.” Tanpa menunggu persetujuan Tasya, Sahrul mengambil piring Tasya dan langsung memakannya.

Karina memonyongkan bibirnya kearah Sahrul. Setelah itu Tasya pamit ke toilet. Baru beberapa langkah….ia kembali lagi, mengambil tasnya dan memeluk Karina erat.

“Maafkan Aku Rin….tolong sampaikan salamku pada tante. I love you…all” dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Karina dan Sahrul. Lalu bergegas berjalan ke toilet.
Karina mengabaikan perasan tak enak yang menjalar tiba-tiba di hatinya.

Bell masuk berbunyi.

Karina dan Sahrul langsung ke kelas, dan terkejut mengetahui Tasya belum ada disana. Perasaan Karina makin gelisah. Seperti ada dorongan kuat, yang memintanya menuju ke toilet, di samping sekolah.

“Rul….ikut aku yuk?” ajak Karina pada Sahrul.
 
“Kemana…..sebentar lagi Pak Imam datang, nih?” jawab Sahrul

“Toilet, please sebentar saja”. Karina memohon

“Seperti anak kecil saja kamu, Rin. Minta diantarkan ke toilet.” Sahrul menertawai Karina. Dia tak menyangka gadis yang telah mencuri hatinya itu ternyata kolokan.

“Simpan ketawamu dulu, ayo cepetm buruan….” Karina tak sabar dan menarik tangan Sahrul supaya mengikutinya.

Mendekati toilet, kegelisahan Karina makin menjadi. Untuk menenangkan dirinya. Berulangkali dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. 

Suasana di sekitar toilet sunyi, hawanya menyeramkan. Hanya ada suara air, yang mengucur.

“Aku menunggu disini saja, Rin” kata Sahrul. Tumben, dia merasakan ketakutan.

Karina meringis, ia lupa masih memegang tangan Sahrul. 

Saat mata Karina membuka pintu Toilet, bau amis menyergap menusuk indra penciumannya. Ia mundur beberapa langkah. 

“Kenapa Rin….” Tanya Sahrul kepo.

“Ada yang tak beres, ikut masuk yuk. Aku takut…..”Ia gugup luar biasa.

Di dalam ruangan itu ada empat toilet, dan empat wastafel dengan sebuah kaca persegi panjang, yang di tempel di dinding. Sahrul dan Karina memeriksanya satu persatu. Kemudian mereka berhenti di toilet nomor empat, yang terletak diujung ruangan. Pintunya tertutup, namun krannya terbuka. Karina mencoba mengetuknya beberapa kali, tak ada jawaban. Dia mencoba membukanya. Namun terkunci dari dalam.Gadis itu jongkok, dan mengintip lewat celah kisi-kisi pintu. 

Bau amis…semakin menyeruak. Karina mendongak menatap Sahrul. Lantas, dengan kekuatan penuh, kaki kanannya mendobrak pintu plastic itu. Pintu itu rusak. Dan disana, ada pemandangan mengerikan.

Tubuh Tasya tergeletak bermandikan darah, dengan luka menganga di pergelangan tangannya. Ia tewas bunuh diri!

Karina menjerit histeris, sebelum rebah tak sadarkan diri, tepat di atas tubuh Tasya.
Suasana sekolah yang tadi hening, berubah gaduh.

***
Dear Karina……
Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu
Dimana aku bisa berkumpul dengan mama dan papa
Bermain dan tertawa bersama.
Aku rindu masakan mama, dan rindu pelukan papa.
meninggalkanku sendiri.

Aku ingin banyak bercerita padamu, Rin….
Tapi mulut ini seperti kelu.
Aku malu Rin……
Sebab,aku telah banyak mengecewakanmu.

Andai aku bisa memutar waktu.
Aku tidak ingin jatuh cinta.
Sehingga aku tak kehilangan persahabatan kita.
Cinta telah membutakan mataku.
Dan membuatku terpuruk dengan segala penyesalan.

Maafkan aku, Rin…..telah memilih jalan ini….
Tolong hibur dan sayangi nenekku, dan sampaikan beribu maafku padanya, Rin…tolong bilang kepadanya….aku menyayanginya.

Peluk sayang……
Sahabatmu
Tasya
Ps……Tolong seringlah datang ke makammu nanti. Jangan lupa bawa Sahrul 😍😍

Karina melipat surat Tasya dan menyimpannya dalam kotak kayu bersama foto dan sebuah kalung dengan liontin berbentuk kupu-kupu. Gadis itu sering menyalahkan dirinya sendiri, andai saja ia “ngeh” dan mengikuti apa kata hatinya. Mungkin saat ini Tasya masih bersamanya. Karina memeluk foto Tasya. Kerinduannya membuncah.

Mengingatnya, membuat hatinya terluka. Gadis itu kembali menangis. Tasya gadis yang baik , dia juga lucu. Tangis Karina makin keras.
Mami datang memeluknya. 

“Ikhlaskan Tasya, nak……..”







Comments

Post a Comment

Tulisan Beken