Cinta Kutu Kupret Part 6






Cause I don't really know how to tell ya
Without feeling much worse
I know you're in a better place
But it's always gonna hurt.

Kepergian Tasya yang tragis menorehkan trauma bagi sebagian besar murid SMA 47. Khususnya Karina. Raut wajahnya masih menyisakan duka yang mendalam. Ia masih kerap menangisi kepergian Tasya. Dirinya baru menyadari kehadiran Tasya amat berarti dalam hidupnya.

Dan Aksa, Karina tak pernah bertemu lagi dengannya. Dia menghilang. Anak-anak terus menggunjingkannya dan menyangkut pautkan kematian Tasya dengannya. Menurut rumor yang beredar, Keluarganya juga telah membungkam awak media, supaya tak memberitakan kematian Tasya.


Senyap……

Semua berjalan seperti biasa, tak ada kegaduhan. 

 Padahal ada sesuatu yang ingin Karina ajukan padanya. Baginya,kematian Tasya masih menyisakan misteri. Ia ingin mengungkapnya, dan ia kecewa ketika jalan yang ditempuhnya terasa buntu. Sahrul sudah berusaha membantunya, dengan mendatangi rumah Aksa. Kata pembantunya, dia pindah ke luar negeri.

Maka, Karinapun marah dan menyimpan dendam pada Aksa. Dan menganggapnya tak lebih dari seorang pecundang.

Dia jalani hari-harinya dengan hati berat.

Kemudian…..disuatu sore yang hangat, Karina mendapat pesan singkat dari nomor asing. Isinya mengajaknya untuk bertemu. Karina tidak menggubris. Ia malah pergi kerumah nenek Tasya bersama Sahrul.

“Mukamu kusut sekali….kenapa?” Sahrul menatap Karina, curiga.

“Nggak pa-pa” jawab Karina singkat. Dia menjadi jauh lebih pendiam sekarang.
Sahrul tak bertanya lagi.

***
Nenek Tasya menyambut Karina dengan ciuman hangat. Kedatangannya selalu membuatnya bungah. Kehadiran Karina seperti menggantikan Tasya. Perlahan-lahan ia mulai ikhlas dengan kepergian cucunya. Ia juga menyukai sikap Sahrul yang lucu. Ada saja kelakuannya yang membuat nenek tertawa, terpingkal-pingkal.

“Nek…..masak nenek tidak ingat aku, sih. Mulai tadi Karina saja yang di perhatikan.” Sahut Sahrul pura-pura ngambek. Nenek tersipu. Lalu buru-buru menyediakan makanan kegemarannya. Seblak macaroni. 

Sahrul dan Karina makan dengan lahap. Mereka bergantian cerita pada nenek dengan mulut penuh. 

“Ohya….dua hari yang lalu, ada teman kalian datang kesini. Anaknya ganteng. Dia membawakan nenek banyak hadiah.” Nenek tak berhenti tersenyum.

Karina dan Sahrul saling pandang.

“Namanya siapa nek……?” tanya mereka, hampir bersamaan.

“Hmmmm…kalau nenek tak salah…Aksa…orangnya baik sekali. Nenek juga pernah melihatnya beberapa kali datang ke makam Tasya. Pantas saja cucu nenek menyukainya.”

Keduanya melongo.

Tak mungkin Aksa disini, dia masih di luar negeri. Karina bergumam sendiri. 

Nenek bercerita lagi. 

“Kasihan Aksa….dia yang paling menderita karena kematian Tasya.” Nenek menyeka sudut matanya dengan sebuah tissue. Dia sepertinya bergumul dengan perasaan yang menghimpit dadanya.

Karina ingin membantah,tetapi Sahrul menyenggol lengannya. Gadis itu diam dan menunggu cerita nenek. Tapi nenek tak bercerita lagi. Dia terdiam cukup lama, memandang halaman dengan tatapan kosong. Nenek lalu berdiri dan masuk ke kamarnya sebentar, kemudian datang dengan membawa sebuah buku. Dan memberikannya pada Karina.

“Nenek menemukannya saat membersihkan kamar Tasya, Tolong maafkan dia nak.” Ragu-ragu Karina menerimanya. 

Pikirannya masih belum terpaku dengan cerita Aksa. Mereka lantas pamit pulang.

“Rul…..apa kamu yakin Aksa pindah ke luar negeri. Jangan-jangan itu hanya pengalihan isu. Dia sebenarnya masih berada di sini.” Sahrul mengangkat bahunya. Tanpa sepengetahuan Karina wajah Sahrul berubah.

“Emang ada apa sih…..kamu mencari-cari Aksa. Aku jadi penasaran. Apakah kamu mulai menyukainya lagi, Rin….?

“Kamu tak tahu ceritanya.” 

Sahrul menunduk. Tiba-tiba rasa cemburu memenuhi dadanya. “Bagaimana aku tahu, kalau kamu tak cerita!!” Suaranya meninggi.

Karina terkejut dengan suara Sahrul yang tak seperti biasanya. Gadis itu meliriknya sekilas, tanpa ekspresi. 

Mereka saling diam, dengan pikirannya masing-masing.

***

Sesampainya di rumah, Karina cepat masuk ke kamarnya. Di keluarkannya buku diary milik Tasya. Diari itu berwarna merah muda. Di bungkus dengan kain flannel berwarna senada. Seingatnya Tasya membuat sendiri covernya.

Lalu…. dibacanya lembar demi lembar. Tak ada yang cerita istimewa disana…semua soal persahabatan dan pertengkaran mereka. Karina sudah memaafkan Tasya sejak lama.

Sampai…………

02 Februari
Hi diary…….

Selama ini Karina tak tahu, aku membencinya.
Kamu tahu….Aku cemburu pada Karina. Pesonanya benar-benar telah membius Aksa. Dan tak sekalipun Aksa melirikku. Itu membuatku sakit hati. Padahal…….aku selalu berusaha untuk melakukan apa saja keinginan Aksa. 

Aku ingin balas dendam padanya. Aku ingin membuatnya sengsara.
Tapi…..siapa yang akan kupakai sebagai alat balas dendam. Owh….ada Sahrul. Anak itu tergila-gila juga sama Karina. OMG!!! 

Karina meletakkan buku diary diatas pangkuannya. Dia merasa pusing. Sepertinya dia tak percaya dengan apa yang telah dibacanya. Ini seperti bukan Tasya yang di kenalnya. Namun…..ini jelas tulisan Tasya.

Bukankah Tasya tahu…dia tak menanggapi cinta Aksa, lantas….kenapa dia masih sakit hati padanya? Karina memijit keningnya, pelan. Ia merebahkan kepalanya di atas bantal. Dan mencoba memejamkan matanya. Berharap tidur dan mendapatkan jawaban dari mimpi.
Ketukan di pintu membangunkannya.

Dia membukanya dengan malas.

Mami berdiri dengan senyum yang mengembang. “Ada temanmu di luar, sana gih temui.”

“Siapa mi…..?” tanya Karina. Dia menguap beberapa kali.

“Sahrul dan temannya” mami melemparkan senyumnya pada anak perempuannya.

Setelah membasuh muka, Karina keluar dan hampir pingsan saat mendapati cowok yang selama ini di carinya duduk manis di ruang tamunya.Dia kelihatan jauh lebih kurus. Sedangkan Sahrul terus menunduk. 

“Ngapain kamu kesini!!” Sapanya ketus.

Aksa mengulurkan tangannya, namum di tampik oleh Karina. Gadis itu masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di atas dada.

“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan……ini soal Tasya. Aku tahu kamu selama ini mencari tahu soal kematiannya” kata Aksa pelan.

Mendengar hal itu, tak urung membuat Karina ingin tahu. Dia akhirnya duduk, di depan Aksa.
“Bukan aku yang menghamili Tasya..tapi…..?” Aksa melihat ke arah Sahrul.

Karina tak mengerti…..

“Siapa dia Aksa….kenapa kamu tak mau jujur!!” Karina mulai tak sabar, rasa amarah yang mulai tadi di tahannya, perlahan naik.

“Ayah tirinya” guman Sahrul tak jelas. Karina terhenyak. Tak percaya. Berita ini membuat kepalanya semakin kliyengan.

Dan Mami yang menguping pembicaraan mereka dari balik korden, tak sengaja menjatuhkan piring yang di pegangnya.

Prangggggggggggggggggggggggggg
Semuanya terkejut.















Comments

Tulisan Beken