Jangan Jauh-Jauh Cari Jodoh, Yang Dekat Saja.




Waktu main ke kampong kemarin, aku bermain dirumah saudara. Disitu kita mengobrol ngalur ngidul dari harga cabe, biaya sekolah , berapa idelanya punya anak sampai soal jodoh.

Karena, sodara-sodaraku kebanyakan memiliki anak perempuan, mereka pengen menantunya nanti sekota, kalau bisa sedesa. Menarik sekali menurut saya. Karena anak satu, wedok pula.
Lah…yang namanya jodoh, mana kita tahu jodoh anak kita dari mana nanti, bisa saja mereka dari Luar Pulau atau bahkan Luar Negeri.

“Trus…kalau dapat jodoh dari Kalimantan, gimana mba?” Tanyaku penasaran. 

“Pokoknya nggak boleh, ning. Sebab Mba, sudah melihat, gimana waktu Pakdhe meninggal, dan kakak mba, ada di Kalimantan. Serba salah, mau lekas di kubur, si mbak belum datang, kasihan dia belum melihat wajah Pakdhe terakhir kali. Kalau nggak cepet di kubur, kasihan jenazahnya”


Si mbak satunya menimpali.

“Iya Ning,kalau anak deket, kan enak, seandainya orangtua sakit, bisa ngerawat. Bila mereka meninggalpun kita sempat melihatnya. Coba kalau jauh, apalagi sampai di luar pulau atau di luar negeri, saat orangtua sakit, dan mereka nggak bisa pulang, paling cuma kirim uang. 

“Emangnya orangtua produk paketan”. Lah gimana hati orangtua nggak nelongso, Meskipun uang penting, tetapi kehadirannya anak-anaknyalah yang paling bagi mereka” disini aku mengangguk.

Bener juga sih. 

“Ya…diajak aja orangtuanya, mba, semua sama-sama enak. Orangtua bisa deket anak, dan anak bisa merawat orangtuanya.” Jawabku.

“Ndak semudah itu, ning, memboyong orangtua ke tempat anak. Orangtua susah untuk melepaskan kemelekatan, mereka sudah nyaman dengan rumah, aktivitas, serta lingkungannya, kemudian harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia kalau cocok, kalau enggak, malah kasihan.”

Hmmmm….ia juga sih. Waktu Simbah ku ajak pindah ke rumah,kesehatannya malah menurun beliau tidak betah. Karena tidak kerasan dengan kamar mandinya. Airnya yang kurang dinginlah. dan tempat tidurnya! Simbah tidak suka tidur di atas kasur berbusa, katanya panas. Sedangkan beliau lebih suka tidur diatas kasur kapuk!, beliau jarang bisa tidur. Aduh……….maksud hati, untuk menggantikan ibu merawat simbah, malah begini. Simbah terus minta pulang. 

Aktifitas beliau memang tidak banyak dirumah, selesai kumandikan dan  kusuapi, simbah duduk di depan tivi atau di teras rumah. Simbah menjadi kesepian meskipun kami berusaha menghiburnya. Simbah kangen rumahnya, kangen tetangganya, kangen bantal dan tempat tidurnya, dan kangen peliharaannya.

Akhirnya aku mengerti, kemudian kami antar pulang simbah.

Aku ingat juga, bagaimana simbah, terus bersyukur aku pulang kembali ke kotaku, meskipun tak tinggal serumah. Kalau kangen nggak perlu jauh-jauh naik bis. Hehhehehe…
Ya ampun….sekarang baru aku mengerti.
Dan aku tidak tahu, apakah kelak akan membiarkan anak wedokku tinggal berjauhan denganku. Hhmmmm…..rasanya, kalau melihat kedekatan kami sekarang, rasa- rasanyanya, emaknya yang bakalan kebingungan. Hahahhaha..nggak tahulah.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken