Menantu Pilihan Emak Part 3




Pagi-pagi emak sudah berdandan ayu, memakai kebaya dan memakai sanggul. Wajahnya juga di poles dengan riasan. Cantik sekali! Bapak mengaguminya lama.

“Bapak makin cinta dengan ibu” Emak hanya senyam-senyum aja. Sembari menyemprotkan wewangian di belakang telinganya.

“Hayuk pak…..kita berangkat” ajak emak, menggandeng lengan suaminya, mesra.

Setelah pencarian yang cukup panjang, emak akhirnya menemukan 3 orang kandidat yang memiliki bibit bobot dan bebet yang cocok untuk Adiba. Penyeleksian yang cukup melelahkan dan menguras fikiran emak.


Ketiga orang itu adalah, Alif, Justin dan Athaya.

Alif adalah putra sulung Jeng Nurul, kawan lama mereka di Surabaya.  Dia sarjana dan pekerjaannya, sebagai seorang akuntan di sebuah Firma milik BUMN.

Mereka akan bertemu hari ini, di Restaurant tepi sawah. 

Emak dan Bapak tiba lebih dulu datang, dan memilih duduk di sudut yang tak banyak orang lalu lalang.

“Pak……hatiku deg-degan.” Kata emak, menyeruput es kelapa mudanya. Bapak terkekeh. Baru kali ini, dia melihat istrinya begitu gugup. 

“Santai sajalah bu…wong ini masih perkenalan. Ini kan juga idemu sendiri”

Istrinya mendesah.Hatinya diliputi perasaan tak nyaman.

“Apa tindakanku ini tak keterlaluan, pak. Justru pihak wanita yang mencari calon suami untuk anak perempuannya, bukankah biasanya pihak lelaki yang mencari calon istri?”

“Zaman sudah berubah, tak ada salahnya pihak perempuan yang berinisiatif mencari jodoh, bukannya menunggu” ujarnya sedikit ragu. 

Setengah jam kemudian, Jeng Nurul bersama seorang pemuda. Dia masih cantik dan singset seperti dulu. Emak menyapa mereka ramah, cipika cipiki sebentar, kemudian mengajak mereka bergabung.

“Wah…..ini pasti nak Alif” kata Bapak menggenggam tangan Arif erat. Bibir pemuda itu menyunggingkan senyum kecil, kemudian tanpa banyak bicara duduk di sebelah ibunya. 

Jeng Nurul….dengan antusias, bercerita tentang kehebatan anaknya. “Begini Mbakyu, Alif ini anak kesayangan saya lho, sifatnya baik sekali, walaupun sudah besar , tetep saja dia masih manja. Apa-apa masih dilayanin, semua gajinya diserahkan sama saya, dia tinggal minta saja, kalau perlu.” 

Mendengar Jeng Nurul yang terus mendominasi percakapan. Bapak yang sedari tadi diam, mulai jengah. Tiba-tiba dia memotong pembicaraan

 “Maaf….kalau boleh tahu, kriteria perempuan seperti apa yang nak Alif inginkan sebagai istri.” Dia melihat kearah pemuda itu. Menelisik gerak geriknya.

“Mmmmmm..bagaimana yah Pak, semua urusan saya serahkan sama mama..saya tahunya beres, begitu kan ya ma?” 

Makanan yang mereka pesan datang, gurame asam manis.

Jeng Nurul tersenyum dengan ucapan anak lanangnya. Lantas, perempuan itu sibuk membantunya membersihkan duri ikan gurame, dan memberikannya pada Alif. Dia tak merasa sungkan sama sekali pada Emak dan Bapak.

Emak yang melihat pemandangan di depannya …hatinya semakin kecut. Walah….piye jal kalo semua urusan diserahkan sama mamanya, bagaimana Adiba nanti? Emak menyikut lengan bapak pelan.

“Hobby, Nak Alif apa?” Bapak bertanya lagi.

Jeng Nurul yang menjawab. “Alif dan saya suka bermain Golf……” 

Emak yang tadinya antusias dengan rencana pertemuan itu, lantas ingin cepat-cepat menyudahi pertemuan mereka. Diam-diam dia memencet ponselnya, terdengar suara ringtone. Emak mengambilnya dan mengangkatnya.

“Maaf ya jeng….sepertinya kami harus buru-buru pamit. Tadi si Paimin telpon, katanya ada yang meninggal di sebelah rumah.” Untuk membangun suasana, wajah emak sengaja di sedih-sedihkan

“Waduh…padahal obrolan kita masih sebentar. Lantas….kapan kita bisa ketemu lagi neh, mbakyu….kami juga ingin bertemu dengan Adiba.” Tanya Jeng Nurul.

Emak berpikir sebentar.

“Nanti akan saya kabari lagi…..” jawab Emak.

“Eh…sebentar mbakyu….bagaimana dengan makanannya, siapa yang mau membayarnya.” Jeng Nurul bertanya lagi.

“Tentu saja kami, Jeng…..”jawab bapak.

Jeng Nurul senang, matanya berbinar-binar, melihat makanan Emak dan Bapak masih banyak di piringnya.

“Wah…..kalau begitu….boleh dong saya bawa pulang.” Timpalnya lagi.

“Silakan…silakan…kalau mau, sebentar saya pesankan lagi.” Jawab emak pura-pura.
“Sekalian, di bungkusin 3 lagi bu” Alif nyengir kuda, dia masih meneruskan makanannya. 

Tuuuuiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnggggggggggggggggggg……………….

Emak memandang bapak dengan muka bĂȘte. Dia tak menyangka sama sekali dengan permintaan Alif. Halah ibu sama anak sama aja! Bathin emak.

Disampingnya, bapak mesam mesem. Ia tahu istrinya dongkolnya setengah mati.

Setelah membayar dikasir, mereka lantas buru-buru ngacir.

“Gimana pendapatmu soal Alif, bu…?” Bapak berusaha memecah keheningan. Melihat Ibu yang terus memijit keningnya. Ibu rada shock dengan pertemuan yang telah dirancangnya itu

Emak misuh-misuh, ngeluarin uneg-unegnya pada pada bapak. “Alif nggak masuk hitungan, apa bapak tadi tak melihat, bagaimana dia tergantung pada ibunya terus. Apa-apa semua di ambilin. Ibu kok langsung ilfill…bagaimana kalau Alif sama Adiba beneran kawin? Benerin genteng bocor, ntar malah nunggu perintah dari ibunya. Hiiiiii…emoh aku pak, punya mantu begitu, pak….”

Bapak ketawa ngakak, melihat wajah ekspresif istrinya. 

“Terus….siapa tetangga kita yang meninggal bu?”

“Owh….itu si Pussy, kucing bu Imran….”
Bapak menepok jidatnya.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken