Mencari Mantan




Bhisma sepertinya baru saja terbuai dalam mimpi, ketika mendengar ketukan keras di pintu kamarnya. Bukannya membukan pintu, ia malah berbalik, dan merapatkan selimutnya.
Tok…tok…tok….ketukan ibu semakin keras dan masif. 

“Bhisma……..Bhisma..bangun!!

Dengan mata setengah mengantuk, Bhisma terpaksa bangun, dan meyeret kakinya ke pintu, ia membukanya setengah “Ada apa sih bu…..?”mulutnya menguap beberapa kali dan mengeluarkan bau naga.


Sambil menutup menutup hidung. Ibu menerobos masuk dan menggelengkan kepalanya melihat kamar Bhisma. Kamar itu seperti kapal pecah, sangat berantakan sekali. Ibu langsung duduk di kursi, di sebelah ranjang.

“Bhisma….gawat ini…..” kata ibu dengan mimic serius. 

Bhisma meneliti wajah ibunya. Kedua alisnya saling bertahutan, dan ritme suaranya cepat.
“Gawat kenapa sih bu?” tanyanya malas. Ia mengantuk sekali. Semalam…ia bekerja sampai subuh. Mengerjakan proyek yang di berikan oleh Pak Ahmad, dan ternyata lebih rumit dari perkiraannya.

Ibu lantas menyodorkan ponselnya. Ada pesan singkat dari mbak yu Srikandi. Bhisma membacanya.

“WHATTTTTTTTTTT” cowok itu hampir saja terjengkang, mengetahui pesan kakaknya. Dua hari lagi, dia datang dari London. Bhisma mengaruk-garuk telinganya. 

“Piye terus le……apa kamu sama Dewi apa masih berhubungan?” tanya Ibu dengan mata penuh harap.

Bhisma menggeleng. Dewi adalah mantan pacarnya saat SMA, setelah mereka putus, mereka hilang kontak. Bhisma tak tahu menahu berita soal Dewi.

“Sepertinya..aku tak bisa, memenuhi keinginan Mbak Sri…..” ujar Bhisma, ia kembali merebahkan badannya ke kasur, menarik selimutnya sampai kepala dan melanjutkan tidurnya.
Namun….ibu malah menarik selimut yang menutupi wajah anak lanangnya.

“Huss…nggak bisa! Ini cucu pertama ibu, emang kamu mau punya keponakan ileran? Pokoknya le…ibu nggak mau tahu, bagaimana caramu sekarang untuk menemukan Dewi. Titik!” kata –kata ibu seperti sebuah titah yang harus Bhisma lakukan.

Cowok itu menatap langit-langit kamarnya. Otaknya berputar, mencari cara menemukan Dewi.

***
Menjelang hari kedatangan Srikandi. Terjadi kehebohan luar biasa di rumah Bhisma. Sempat-sempatnya ibu mendekorasi ulang rumahnya. Dan membeli banyak tanaman baru, supaya terlihat lebih teduh. Bapak tak banyak bicara, dan memilih untuk mendukung keputusan istrinya.

Yang stress, adalah Bhisma, dia belum menemukan dimana alamat Dewi. Semenjak menikah, dia beberapa kali pindah tugas mengikuti suaminya. Nomor telepon yang di berikan oleh temannyapun sudah tidak aktif lagi.

“Gimana Le, apa kamu sudah ketemu Dewi?” tanya Ibu Bhisma antusias, sembari tangannya sibuk memasukkan potongan bunga sedap malam ke dalam vas kaca.

“Nggak papa deh bu, aku punya keponakan ileran. Nanti aku akan belikan dia banyak tissue.Gampang toh” Jawabnya sambil terkekeh.
Ibu memelototinya.

“No way!!!! Kamu harus mencari alamat Dewi!!, kamu tahu sifat mbakyumu toh, apa kamu mau membuatnya bersedih hati.” Ibunya sedikit mengancam.

Mba Sri memang special. Tatapannya hangat dan lembut, semua orang menyayanginya. Tanpa dimintapun, mereka rela melakukan apapun untuk dirinya.
Bhisma membuang nafas panjang.

Sebagai adik, dia tentu saja senang mendengar kabar, Mba Sri hamil, apalagi ini anak yang di tunggu-tunggunya sejak lama. Apalagi menurut suami Mba Sri….napsu makan Mba Sri menurun drastis….karena maunya makan makanan Indonesia. Ibu dan bapak menjadi khawatir.
Bapak kemudian datang, dan duduk di sebelah Bhisma. Dia memegang pundak Bhisma.
“Kenapa kamu tak coba menghubungi stasiun televisi. Kamu bisa meminta pertolongan Butet, mencari Dewi.” Bhisma terperangah. Ide Bapak memang brilian…tetapi….apa nggak terlalu lebay, dengan menyiarkannya di televisi.
“Ibu..setuju…apapun akan ibu lakukan untuk mbakyumu.” Timpal ibu dengan mata berbinar.
Maka, hari itu juga berangkatlah Bhisma menemui si butet. Butet….langsung menyetujui. Meskipun sedikit absurd, ini termasuk unik. Dengan di bantu teman-temannya, Bhisma mendapat juga foto Dewi. Akhirnya iklan Mencari mantanpun keluar saat Primetime, keesokan harinya. Iklan itu lalu menjadi berita viral.

Teman-teman Bhisma heboh, termasuk Kirey, kekasihnya sampai datang ke rumahnya meminta penjelasan. Bhisma menjadi sibuk menjawab sana sini.

Ibu, bapak dan Bhisma berdebar-debar menunggu berita. Kemudian ponselnya berdering.
“Siapa anda!!! Berani-beraninya mencari istri saya. Hey bung..dia sudah punya keluarga, Tolong..jauhi keluarga kami…kalau tidak, awas kamu!! Suaranya keras memekakkan telinga Bhisma. 

“Begini…pak..sepertinya bapak salah paham. Lebih baik….kita bertemu saja dulu, biar nanti saya jelaskan.” Jawab Bhisma lembut.

Namun lelaki itu, telah menutup telponnya.
“Siapa dia le…..” tanya ibu menangkap kegusaran di wajah Bhisma.
Bhisma mengangkat kedua bahunya. Dan memberikan nomor pada ibunya, dan memintanya untuk menelponnya balik.

***


“Owh..aku baru mengerti…..kamu mencariku, bukan untuk menginginkanku kembali kan mas?” tanya Dewi taku-takut. Suaminya ada di sebelahnya.

Bhisma menggeleng. Dia tak mengerti, kenapa Mba Srikandi ngidam serabi buatan Dewi. Padahal Dewi menbuatkannya sekali, saat mereka masih memiliki hubungan dekat. Itupun sudah lama sekali.

 “Mba Srikandi, ngidam serabi buatanmu. Dew. Dan anehnya Serabi yang dibeli ibu, semua di muntahkan oleh mba Sri, hal itu membuat kami khawatir. Kamu tahu kan….ibu dan bapak sangat menginginkan seorang cucu.” Ia sengaja datang ke Medan untuk membawa Dewi ke Jakarta, atas perintah ibu. Mereka sudah berbicara lewat telepon kemarin.




“Jadi….apakah kalian mau ikut ke Jakarta denganku, dan membuatkan serabi untuk Mba Sri?” Bhisma memohon dengan sangat agar mereka berdua mau diajaknya ke Jakarta untuk beberapa hari.

Dewi dan suaminya tergelak. Mereka mengangguk bersamaan. Rasa cemburu di hati suaminya Dewi menguap. Serabi buatan istrinya memang enak.





















Comments

  1. ndilalah pingin dibikinin serabi buatan mantan
    duh si mbak, ngidam yg laen aja napa sih
    hueeehue

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken