Merebut Hati Suami Kembali.




Image result for marriage life quote
pinterest.com

Istri mana sih, yang mau menerima perselingkuhan suami? Hmmmm….rasanya butuh waktu panjang untuk bisa memaafkan dan menerimanya kembali.

Kekurangan financial, istri akan jauh lebih ikhlas menerima, daripada mengetahui perselingkuhan suami. Apalagi kalau ceweknya jauh lebih galak dari kita, yang jelas-jelas sudah tersakiti. Beuh….kok perempuan nggak ada malunya yo.

 Di selingkuhi itu rasanya hati ini terbakar, panas banget bo, sakitnya seperti diiris-iris silet trus di siram pake garam. Poll banget dah sakitnya.

Kalau nurutin emosi pengennya cerai aja. Habis perkara, tetapi…mengingat anak, melempem dah lagi. Well….selama tidak ada KDRT dan suami layak dipertahankan. Kenapa tak kita rebut kembali cintanya.


Saya mau share cerita.

Menjelang ulang tahun perkawinan yang ke delapan. Suami memberikan kejutan. Tingkahnya tiba-tiba berubah. Mukanya kusut, dan tiba-tiba emoh pulang. Katanya dia tak tak kerasan tinggal dirumah. HAH…ada apa ini?

Saya yang pikirannya sibuk bekerja, tak pernah kepikiran suami memiliki wanita lain. Dari sekian laki-laki yang mendekati. Hanya bersama dialah saya klic. Cinta saya 100% padanya. Yang lainnya lewat.

Tiap kali saya tanya. Tak ada alasan yang jelas, kenapa dia malas pulang. Sampai kemudian terlontar ucapan, kalau dia ingin saya dan anak liburan ke jawa. Saya bertanya, terus kapan saya di jemput? Dia mengangkat bahu.

Emosi saya masih terkendali. Saya menolak. Karena musim high season, saya tak bisa meninggalkan karyawan saya. Mereka akan keteteran kalau saya tinggal pulang.

Malam-malam saya lalui dengan kesendirian bersama anak wedok. Dia selalu menguatkan saya, mama jangan menangis. Saya ingat betul, ketika tangan mungilnya mengusap airmata saya. Duh! Saya nggak boleh lembek, apapun saya hadapi.

Di tengah kebingungan, menyikapi sikap suami yang berubah, saya terus didatangi mimpi aneh, seperti warning.

Kemudian…..setelah sholat tahajjud, hati ini terketuk untuk mencarinya. Saya digantung tanpa tahu kesalahan saya apa. Dengan mengikuti insting dan meminta petunjuk dari Allah. Saya mencarinya, meskipun tidak ada clue sama sekali dimana keberadaan suami. Nggak ada kepikiran takut, tengah malam keluar rumah.  Dan subhanallah, ketemu. Allah memudahkan semuanya.

Pak sopir taxi, yang tidak saya kenal saking khawatirnya ingin menemani saya memenui suami. Namun saya tolak.

Suami kaget ketika melihat saya tengah malam, berdiri didepan pintu gerbang. Si perempuan tak ada disitu.

“Oalah…kenapa nggak cerita sih, kalau punya cewek lain, cantik nggak ceweknya” kata saya. Ada keterkejutan dimata suami, kenapa saya begitu tenang menyikapi. Mungkin Allah menjagaku saat itu.

Kemudian suami bercerita tentang hubungannya. Saya mendengarnya baik, dengan menyimpan rapat rasa marah dan cemburu.

Kita ngobrol banyak, dan sepakat untuk bercerai baik-baik. Saya tidak mau memaksa orang yang tidak cinta untuk tetap tinggal bersama saya. Kami mendaftarkan perceraian.

Meskipun begitu, hubungan kami masih baik. Dia masih suka main kerumah, dan banyak melakukan kegiatan bersama. Sampai orangtua dan karyawan bingung dengan sikap kami.
“Kalian itu mau bercerai apa enggak sih, kenapa masih rontang runtung” Saya hanya ngekek. Hiiihhhhhh masak nggak perhatian sih, napa badan saya kurus.

Untungnya saya memiliki keluarga dan teman-teman yang baik, punya pekerjaan dan tabungan. Sehingga masalah bisa dialihkan. Kalau sudah inget, Larinya ke pekerjaan, kerja sampai larut malam. Kalau bosen shopping, atau pergi ke salon, meskipun cuman pijet doang. Semua itu meluruhkan sikap negative. Andai saya tak bekerja, nggak kebayang, nelangsanya ati.

Disakiti, timbul sikap optimist, saya nggak boleh kalah sama suami, apalagi sama perempuan itu. Saya harus buktikan, saya lebih hebat dan suami salah besar telah “membuang saya”. Jiwa saya makin termotivasi.

Melihat sikap saya yang lebih positif, suami mulai melirik lagi. Biasanya, apa-apa saya nurut suami. Sekarang mah enggak, sudah berani mengambil sikap. Dia mulai resek, saat saya sering pulang malam. Aneh bin lucu! Lah saya kan udah mo di cerai ya..kenapa masih perhatian. Lagian saya benar-benar kerja, bukannya dugem. 

Mengetahui sikap suami yang berubah drastis ke saya. si cewek ini mucul, terus meneror saya seperti orang gila. Mungkin posisinya sudah rawan. Caciannya parah. Ignore saja, meskipun tangan ini gatel pengen lempar bunga sekaligus pot ke arahnya.

Duh..nggak tahu malu banget.

“Hey….mba….nggak ada kerjaan apa sms orang terus. Sono kerja, biar nggak mikir neko-neko. Suami sudah saya kasih kesitu, apa lagi yang kamu inginkan.” Jawab saya pede.
Ya sudah….akhirnya suami balik dan membatalkan gugatan. Dia kembali ke saya dengan catatan, harus meninggalkan semuanya. Kalau begitu lagi…saya nggak mau menerima. Mikir bo….ada anak.

Terlepas dari itu semua…..saya mengambil pelajaran. Saat keluarga kita ada masalah. 

·         Sebaiknya kita tetap bisa mengontrol emosi. Suami berulah, jangan diserang atau dimarahi, atau diusir-usir. No! Buat dia bingung, dengan tetap memperlakukannya dengan baik.

·         Curhat boleh saja, untuk menenangkan hati. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita.

·         Melibatkan orangtua, untuk menyelesaikan masalah menurutku tak banyak membantu. Mereka pastinya akan memihak dan lebih mencari kambing hitam. Bukannya masalah selesai, justru makin buruk. Ada lho orangtua yang justru ngomporin anaknya.

·         Jangan lupa sholat, sedekah, serta puasa untuk membersihkan diri dan membentengi kita dari emosi negative.

·         Sibukkan diri dengan bekerja, atau melakukan hal-hal positif supaya tak terus memikirkan masalah yang kita hadapi.

Jangan pernah mencekoki anak kebencian tentang perbuatan ayahnya. Mereka akan merekamnya dengan baik.

·         Selalu libatkan Allah, untuk menyelesaikan masalah kita. Tak ada yang tak mungkin bagi-NYA. 

·         Jangan lupa upgrade diri.

Ya sudah begitu saja
Happy weekend gaesssssssssss





Comments

  1. good post mbak, tetapi ada juga suami jujur nggak macam2, tetapi pasangan hidupnya malah aneh2 he he , tetapi kalau semua tindakan kita selalu disandarkan pada agama yang kita anut, Inshaa Allah keluarga kita akan selalu diberikan kebaikan,aamiin

    ReplyDelete
  2. hue...hueee...hueee
    brembes miliiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. wadowwwwwwww..padahal ceritanya sengaja di buat nggak terlalu mendayu-dayu.

      Delete

Post a Comment

Tulisan Beken