Putu Ayu Untuk Sahnaz




 “Sahnaz, nggak mau makan!! Anak perempuan berumur 9 tahun itu terus cemberut dan tangannya menutup mulutnya rapat.

Mbak Santhi, kebingungan, ia terus mencari cara bagaimana supaya momongannya mau makan. “Apa mau mba Santhi buatkan roti bakar?” Ia mencoba membujuknya lagi.
Sahnaz menggeleng.

Dia malah duduk di balkon, yang menghadap ke perkampungan, dimana anak-anak kecil seusianya, bertelanjang kaki, sedang bermain lompat tali.

 Alangkah senangnya mereka. Sahnaz iri.


Dirumahnya yang besar, ia selalu kesepian. Meskipun semuanya serba ada.Mainan miliknya banyak, mau minta makanan apa saja, tinggal bilang. Tapi tak membuat Sahnaz bahagia. Sebab Mama dan Papanya, sepanjang hari sibuk bekerja, kadang sampai larut malam. 

“Mbaaaaakkkk……….aku ingin bermain dengan mereka” Ucap Sahnaz lirih, jari telunjuknya menunjuk sekumpulan anak-anak kampong yang bermain.

“Tapi non, Mbak takut dimarahin Nyonya……” jawab Mbak Santi khawatir.

“Kalau Mbak Santi nggak tolong Sahnaz, sebagai gantinya  Sahnaz nggak mau makan.” 

Mbak Santi jadi dilema. Kemudian……”Oke..Mbak Santi akan ajak Non Sahnaz kesana,dengan catatan non Sahnaz makan dan belajar dulu, baru boleh main, gimana?” 

Mata Sahnaz berseri-seri. Dia lantas memberikan dua jempolnya. Dan segera menghabiskan Nasi jamur, setelah itu ia mengerjakan Pekerjaan rumah tanpa berkeluh kesah. 

Di sampingnya, Mbak Santi tersenyum puas. 

***

“Bolehkan aku ikut bermain bersama kalian?” Sapa Sahnaz pada anak-anak kampung. Seorang anak perempuan, dengan rambut di kepang dua menghampirinya.

“Tentu saja! Perkenalkan namaku, Inong.” Dia mengulurkan tangannya ke Sahnaz. Anak-anak lain ikut mendekat dan mengerubungi Sahnaz.

“Namaku Rizal….” Kata seorang anak berperawakan gendut. Pipinya bulat seperti bakpao.
“Namaku Fahri” dan ini Risma timpal Fahri.

Sahnaz gembira menyambut keramahan mereka. Senyumnya terus mengembang, saat teman-teman barunya mengajaknya bermain lompat tali. Sampai dia kelelahan.

Kemudian, Inong membawakan sesuatu untuk mereka. Dan membagikannya satu persatu kepada teman-temannya termasuk Sahnaz. 

“Ini kue apa?” Ia belum pernah melihat kue ini sebelumnya. Warnanya hijau dengan taburan kelapa diatasnya.

“Oh….ini namanya kue putu ayu, cobain deh, rasanya enak sekali. Ibuku sendiri yang membuatnya.” Jawab Inong sambil mengigit kue putunya.

Sahnaz masih ragu memakannya.

“Ayo cobain dulu, siapa tahu kamu suka?” kata Rizal dan Fahri hampir bersamaan.

Sahnaz menatap wajah teman baru-barunya. Kue putu ayu di tangan mereka sudah habis semua. 

Kemudian, Sahnaz menggigitnya, dan mengunyahnya perlahan. “Wowwwwwww……ini enak sekali.” Katanya dengan takjub. Dia tak menyangka sama sekali, kue dengan tampilan sederhana itu, rasanya lezat sekali di lidahnya. 

Teman-temannya bertepuk tangan. 

Karena hari semakin sore, Sahnaz berpamitan pulang dan berjanji akan bermain lagi bersama mereka esok hari.

Setelah itu, hari-hari Sahnaz selalu tampak ceria, hidupnya tak lagi kesepian. Sebab ia tahu ia memiliki teman yang akan selalu menghiburnya.




Comments

Tulisan Beken