“Ujian” Dari Orangtua


Related image
pinterest.com
Tulisan ini, ku bagi, supaya kita bisa mengambil hikmah. Tiap orang memiliki sebuah sisi gelap. Dan seyogyanya, sisi gelap itu membuat kita semakin kuat dan bertindak lebih bijaksana. Ingatlah tak ada kehidupan yang sempurna.

Setelah Abah dan Simbah meninggal, sebagian jiwa ini terasa hampa. Ada sesuatu yang hilang dan tak tergantikan. Abah orangnya sabar, suka ketawa sama anak, menantu dan terutama cucunya. Simbah dengan caranya sendiri mencintai kami apa adanya. Disaat mereka sakit, aku dan kakak bersyukur pernah merawatnya. Menyuapi simbah, menyuapi abah, Memandikan simbah ataupun menceboki simbah. Cinta abah dan simbah begitu besar, sampai sakitpun mereka masih memikirkan anak-anaknya.

Dan kami begitu kehilangan ketika mereka satu persatu meninggal. Sekarang tinggal ibu seorang. Sebagai anak perempuan, aku mengajaknya tinggal di rumah kami. Daripada di rumah sendirian, mending di rumah kami. Bisa bermain sama cucu .Sekalian aku ingin membaktikan diri sebagai anak. Aku mau menjadi anak berbakti dan menyenangkan hidupnya.


Rasanya senang, melihat keluarga yang mengajak orangtuanya. Bisa berkumpul dan bercanda. Apa lagi yang bisa ku lakukan untuk menyenangkan hati ibu. Sayangnya, keinginanku di tolak. Katanya rumah dan musolla tidak ada yang merawat. Ya sudah ku amini. Kemudian, aku tawarkan untuk mencari pembantu, itupun di tolak juga. Aku mengikuti keinginan ibu, selama ibu bahagia ku lakukan.

Ternyata….apa yang dikatakan ibu bertolak belakang dengan kenyataan. Di belakang kami, anak-anaknya. Ibu bermain playvictim. Kami menjadi serba salah, ibu selalu benar, dan kami salah. Tiap kami menyadarkannya, selalu saja kami disalahkan. Keinginan ibu harus diturutin. Ya Allah, ampuni dosaku.

Aku pernah bertanya pada ibu, kenapa ibu tidak seperti orangtua lain, yang sayang dan peduli sama anaknya? Ibu tak pernah menjawabnya. Dan aku diam..tak pernah bertanya lagi.
Aku flashback ke masa kecil ibu. Menurut simbah, ibu adalah anak satu-satunya dan termasuk cucu kesayangan. Semua keinginannya di turutin. Berangkat sekolah di gendong sama temannya. Ibu seperti putri kecil.

Kemudian, ekonomi simbah terpuruk. Ibu menikah dan suaminyapun hanya pns berpenghasilan rendah. Masa kecilku dengan ibu, tak banyak kuingat, aku dirawat oleh simbah, abah dan Yu Ngatini. Dia selalu menghiburku. Sedang ibu…..aku tak tahu, menurut simbah…ibu bekerja. Keluar kota, kemudian menjadi TKW sampai aku bekerja di Bali.

Jangan tanya, pedih yang kurasakan sebagai seorang anak.Dari kecil sampai dewasa, tak pernah merasakan sentuhan kasih ibu. Tapi aku masih berpikir positif, ibu bekerja untuk kebahagiaan kami. Meskipun ada tanda tanya besar. Haruskah ibu bekerja selama bertahun-tahun meninggalkan suami dan anak-anaknya atas nama materi? Ataukah ada alasan lain yang tidak kutakhu jawabannya. Entahlah....hanya ibu yang tahu.

 Ibarat bunga liar, aku terus berusaha tumbuh dan menampakkan diri, supaya aku bisa menyenangkan hati orangtua. Aku suka kasihan saat melihat abah, dan simbah, yang selalu menyembunyikan airmata mereka untukku. Abah luarbiasa sabar dan setia menunggu ibu. Abah berperan ganda, menjadi ayah dan ibu buat kami.  Makanya aku tidak suka melihat abah bersedih. Aku berusaha tegar menghadapi semuanya. Dan ketika mereka meninggal, aku sedih, sebab aku belum bisa memberikan mereka kebahagiaan.

Nggak salah, bila Aku suka cemburu saat melihat keakraban orang tua dan anak terutama ibu. Jangankan aku sebagai anak perempuan, Key dan keponakannku saja iri saat melihat teman-temannya berkumpul dengan simbah uti mereka. Dan aku ingat, bahwa hidup tiap orang berbeda, tiap orang memiliki takdir dan cerita yang harus di jalani. Aku tak bisa merubah takdirku. Apalagi yang bisa kami lakukan selain sabar menerima.

Hubungan kami seperti linier. Yang terus berusaha mengontrol dan menekan. Aku sering menangis menghadapi kelakuan ibu. Tekanan ibu memang luarbiasa keras. Ibu masih tak bisa menerima keadaanku sekarang. Tiap ada kawan ibu yang bertanya, dimana aku dan suamiku bekerja, ibu masih suka menjawab, bahwa kami bekerja di hotel, sebagai manager. Aku tak bisa terus megikuti kebohongannya. Dan aku berontak. Itu yang membuatku sedih. Aku baru mengerti, ibu kecewa dengan keputusanku, aku baru mengerti kenapa ibu selalu membanggakan anak sodara jauhku yang menjadi seorang anggota dewan atau dosen yang kaya raya. Sedangkan anak-anaknya tak bisa ia banggakan. Meskipun kami memikili usaha sendiri dan tak pernah mereppotkan ibu. Itu belum cukup buat ibu,

Bukan hanya padaku tapi juga kakak. Kami keteteran mengikuti gaya hidupnya yang tak terkontrol. Ibu sepertinya masih tak terima realita. Ntah apa itu. Ibu seperti hidup di awang-awang.

Ya Allah……

Di tengah keputusasaan, saat ujian datang dari ibu. kami selalu menghibur diri, bahwa untuk mencapai surga itu tak mudah. Kami masih percaya bahwa Allah memiliki rencana yang indah untuk kami.

Seburukapapun perangainya, kami tak bisa menghapusnya. Beliau adalah ibu kami, yang melahirkan kami. Yang harus kami sayangi dan cintai. Kami tetap tekun mendoakannya, supaya ibu mendapat hidayah dan kami di tetap di beri kekuatan dan kesabaran. Aamiin.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken