Cerita diBalik Kamar Bercat Putih




I'm realize that....True happiness isn’t come from how much money and gold we have, how expensive our stuff, how big our house, how many titles we had. But….true happiness is when we can help people - fidia

Pengalaman menemani Simbak beberapa hari di Rumah Sakit dan setelah itu, melihat orang-orang dan bayi-bayi yang sedang melawan sakitnya. Membuat bathin ini semakin terbuka. Gue banyak bersyukur dengan semua berkahNYA.
 

Diruangan besar itu ada sekitar 20 ranjang, yang ditempati pasien. Kebanyakan habis operasi, kepalanya banyak di perban, dengan selang-selang yang menancap di kepala. Lantas….mata saya tertuju pada seorang bayi laki-laki kecil. Usianya belum genap 1 tahun. Anak pertama dari pasangan suami istri yang usianya masih muda. Dan dia mengidap hidrocefalus. 


Dan Allah menggerakkan gue untuk mendekatinya. Dia tersenyum…ketika gue menyapanya. Subhanallah…ada getaran indah yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ini pertama kalinya gue berinteraksi dengan anak-anak pengidap hidrocefalus.

Menurut cerita ayahnya, anak ini sebenarnya 7 bulan lalu harus operasi, dan di mintai 150 juta untuk biaya operasinya. Karena belum memiliki BPJS…terpaksa mereka menunda. Wong ekonomi mereka pas-pasan, darimana coba mereka mendapatkan uang sebesar itu. Syukurlah..kemudian mereka ikut BPJS…dan anak mereka kemudian bisa dioperasi.

Ya Rabb….anak itu sakit, kepalanya besar, kepalanya juga baru saja diperasi…dan dia tak menampakkan kesakitan, malah memberikan senyumnya yang manis. Seperti mengatakan, hei I’m ok….I’m fine……

Belum lagi ada bayi perempuan yang hidungnya besar…dia juga ceria di gendongan ibunya. Bayi yang membuat bingung perawat karena mau dioperasi..lah kok pasiennya nggak ada. Eh..ternyata pulang…ke rumahnya. Baru malam hari sipasien balik lagi. Hehhehehehe….

Ada pula bayi yang masih berumur dua bulan,duh yang ini saya tak tega melihatnya. Ada benjolan besar di dahinya yang mengubah posisi matanya menjadi kesamping, dan itupun tak kelihatan seperti sebuah mata.

Disini….saya melihat ketegaran orangtua..terutama si ibu. Mereka tetap tabah dan ikhlas menerima kondisi buah hatinya seperti itu. Wajah-wajah mereka masih semringah, melakoni hidup yang sudah digariskan olehNYA.

Apa lagi yang bisa mereka lakukan, selain ikhlas dan menerima. Sebab mereka tak punya pilihan lain. Berbeda dengan orang yang punya uang. Saat mereka sakit, mereka bisa memilih, mau kamar kelas 1 atau VVIP. Bukan hanya kamar, dokterpun mereka bisa memilih yang terbaik.

Memory itu terpatri kuat dalam ingatan. Supaya gue menjadi pribadi kuat, ikhlas dan tak mudah menyerah. Serta mengingatkan gue, untuk bisa terus berbagi, membantu mereka.
Bismillah, Allah melancarkan semuanya.






Comments

Post a Comment

Tulisan Beken