Cinta Kutu Kupret Part Part 7




“Bagaimana kamu tahu?” desak Karina pada Sahrul. Cowok itu mendesah panjang. “Kamu tak perlu tahu soal itu! Dengan suara sinis. Kemudian berdiri dan bermaksud meninggalkan Aksa dan Karina. 

Karina tanggap, tangannya langsung mencengkram kuat lengan baju Sahrul. “kamu mau kemana, hmmm…” Tatapannya tajam, menghujam uluhati cowok itu. 

Di belakangnya Aksa cuma diam. Sorot matanya menyelidik melihat wajah Sahrul dan, wajah Karina yang berubah menjadi bengis.


“Duduk kataku!! 

Sahrul tak mengikutiperintah Karina, dia masih berdiri, kaku.

Gadis itu gemas, dia menarik keras lengan baju Sahrul, sampai cowok itu terhempas, didudukan kursi. Karina seakan tak mau melepaskannya.

 “Oh…begitu!! Terus ngapain kamu kesini dan memberitahuku siapa yang memperkosa Tasya!! Kamu tahu kan….siapa yang paling tersiksa atas kematiannya!! Kenapa kamu diam selama ini, huh!! Suara Karina tak beraturan. Rasa sedih, kecewa dan marah bercampur menjadi satu, membuat gadis itu hilang kendali.

“Asal kamu tahu….omonganmu tadi seperti buih. Aku tak akan mempercayainya, sampai kau berikan aku bukti!! Dan tolong segeralah kalian pergi dari sini!! Kata Karina dengan tatapan dingin.

Tanpa banyak kata, Sahrul dan Aksa pergi menuju mobil Aksa yang terparkir di tepi jalan, tak jauh dari rumah Karina. 

Aksa membuka pintu mobil dengan kasar, kemudian dia masuk, dan diikuti oleh Sahrul yang duduk disampingnya. 

“Kenapa kamu berbohong!! Bukankah kamu tahu otak dibalik kematian Tasya?” suara Aksa terdengar berat. Dia melirik Sahrul, yang menyeringai mendengar pertanyaan Aksa.

“Aku tak mengerti apa maksud perkataanmu?” Sahrul balik bertanya. Dia memperbaiki posisi duduknya.

“Kamu mengerti apa yang kumaksud.” Nafasnya mendengus tajam. Sedang Tangannya mengepal diatas kemudi mobil. dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak memperdulikan peringatan Sahrul yang memintanya berhenti. “Stop…stop, kamu ingin kita mati, huh!”

“Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttt” Aksa menghentikan mobilnya tiba-tiba. Sahrul bernafas lega. Dia menyandarkan kepalanya ke kursi.

“Tolong, jauhi Karina.” Suara Aksa memantul ke udara. 

“Tidak! Aku tak akan menjauhinya!” Jawab Sahrul, dengan mata meledek.
Aksa membukakan pintu untuk Sahrul, dan meninggalkannya di tepi jalan. Sahrul berlari mengejar mobil Aksa.

“Aksa..berhenti! Dasar kutu kupret, loe!!” Ia kesal Aksa meninggalkannya. Sedangkan dompetnya tertinggal dirumahnya. Mulutnya tak henti merutuk.

***

Aksa kembali datang kerumah Karina, sayangnya gadis itu tak mau menemuinya.”Keluarlah nak, Aksa masih menunggumu, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan kepadamu.” Mami mencoba membujuk Karina di kamarnya.

“Suruh saja dia pergi,Mi. Karin tidak akan pernah menemuinya!” gadis itu kemudian menenggelamkan wajahnya di atas bantal, yang basah oleh airmatanya. 

Mami keluar dan menemui Aksa di ruang tamu, wajah anak itu terlihat letih dan sepertinya kurang tidur.

“Maaf nak, Karina ternyata sudah tidur. Tante tak bisa membangunkannya.Duh anak itu kalau tidur, memang begitu, susah dibangunin” 

“Oh…nggak papa kok tan. Bolehkan saya menitip sesuatu buat Karina? Aksa lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah handphone! Dan memberikannya pada Ibu Karina.

Aksapun pergi dengan langkah gontai. Jiwanya terasa lumpuh, mengingat Karina.
Setelah Aksa pergi, mami kembali ke kamar putrinya. Dan ternyata Karina sedang berdiri di samping jendela, seperti sedang mengintip seseorang.

“Ehemmmmmmmmmmmmm”

Mendengar suara Mami, Karina menoleh, dengan wajah malu. Ia sudah kepergok mami!
“Lho….katanya tadi tak mau ketemu, kenapa malah ngintip sih nak.” Ledek mami sambil tersenyum.

“Ihhhhh….mami ngaco, siapa yang ngintip Aksa. Karina tuh sedang memperhatikan gerak gerik Aksa. Apakah mami tidak melihat perubahan dia? Katanya membela diri.
Mami mendongak keatas, mengingat sesuatu.

“Sepertinya, dia sedang dilanda rindu berat. Melihat gerak-geriknya sih, mami yakin dia cinta kamu, nak!” 

“Mamiiii….aku serius nih.” Suara Karina merajuk, memeluk maminya. dan tak tahu kenapa, hatinya tiba-tiba berdegup cepat. Dan pipinya bersemu merah, saat mami bercerita soal Aksa. “Mi….tadi Aksa bilang apa saja, sebelum pergi, apakah dia marah?” Timpal gadis itu lagi,

Mami tertawa. Melihat sikap anak gadisnya.

“Dia hanya menitipkan ini.” Mami memberikan ponsel dengan stiker panda di belakangnya ke atanga Karina. “Kalau mami tak salah, sepertinya itu ponsel milik Tasya.”. Ucapan mami otomatis mengejutkan Karina. Gadis itu menengok kearah maminya.

Tiba-tiba ada angin dingin datang. Karina merasa bulu di tengkuknya berdiri. “Mi…jangan pergi.” Mami menurut, dan duduk disebelah Karina yang sedang sibuk mengotak-atik ponsel yang tadi dititipkan oleh Aksa.

Hingga…….”Astaghfirullah!! Gadis itu melemparkan ponsel yang dipegangnya diatas kasur. Dia lalu berlari ke dalam toilet, dan menguncinya dari dalam. Dia muntah-muntah.

Mami panik

***
Sahrul menjemput Karina di rumahnya. Tapi gadis itu sudah berangkat ke sekolah. Disekolahpun, Karina terus menghindari Sahrul. Gadis itu terus sibuk. Sahrul tak tahan di cuekin Karina.

 “Ijinkan aku berbicara denganmu Rin….” Sahrul menghalangi langkah Karina. Saat menunggu angkot.

Karina menatapnya dengan ras jijik. “Untuk apa?”

“Ada hal penting yang akan ku bicarakan?” kata Sahrul lagi. Wajahnya memelas.
Lantas Karina mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Apakah kamu ingin membicarakan soal ini?” dia mempermainkan ponsel di tangannya.

Ada ketakutan dimata Sahrul saat melihat handphone dengan hiasan stiker boneka teddy di tangan Karina. Dia sangat mengenalnya. Itu adalah handphone milik Tasya.Secepat kilat tanganya merampasnya, dari tangan Karina, dan melemparkannya ke jalan. Ponsel itu mendarat di jalan beraspal kemudian di lindas truk tronton. Dan menjadi gepeng.

Nafas Sahrul memburu. Matanya merah oleh marah. dia tak mengerti bagaimana Karina memiliki ponsel itu. “Pasti Aksa yang memberikannya padamu! Mulutnyal berdesis. Dia mengepalkan kedua tangannya.

Bibir Karina tersenyum tipis, begitu mudahnya menipu Sahrul.”Tak jadi soal, siapa yang memberikannya kepadaku. Aku sudah tahu semuanya. Dan aku jijik dengan topeng yang kau pakai. Kamu munafik, dan cintamu egois.”

“Aku mencintaimu, Rin…..apakah kamu tidak tahu itu!” teriak Sahrul. Untungnya saat itu tak ada anak-anak SMA 47 disitu. Anak itu tampak gusar dengan ketenangan Karina.

“Stop! Aku muak denganmu Rul. Mestinya kamu sadar, dengan apa yang telah kamu perbuat. Bukan hanya pada Tasya. Tetapi juga pada Aksa!! Kamu harusnya minta maaf dengan mereka!! Tangis Karina mulai pecah. Hatinya berdarah, teringat Aksa yang akhirnya dipindahkan oleh orangtuanya keluar negeri. Dia menyesal, kenapa tak menemuinya malam itu. 

Sahrul termangu.

Setelah kejadian itu, Karina memilih menjauh dari Sahrul.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken