Menantu Pilihan Emak Part 10




Emak tak dapat menghindar lagi, saat tante Mieke dan asistennya berdiri di depan pintu rumahnya. Penampilannya benar-benar glamour. Setelan merah menyala, dengan make up tebal dan sanggul tinggi. Gelang gemerincing dikedua lengannya serta cincin berlian di jari manisnya benar-benar membuatnya seperti toko antic berjalan.

“Pagi jeng….kamu hari ini nggak sibuk kan? Maaf lho….aku tak menelponmu dulu.” Dengan suara kenesnya, Tante Mieke menyapa emak yang wajahnya kelihatan sekali masih syok dengan kedatangannya.


“Lho….ada tamu. Gimana to bu..kok tamunya nggak disuruh masuk.” Kedatangan bapak dari lari pagi mengejutkan mereka berdua. Emak mesem, dan buru-buru mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah.

Keadaan rumah masih dalam keadaan kotor, lantainya masih berdebu karena belum disapu. Dan emak merasa kikuk dengan stylenya yang kekinian.  wajah tanpa make up, baju daster bolong-bolong lengkap dengan rol diatas kepala membuatnya terlihat komikal. Sangat kontras dengan penampilan Tante Mieke.

Nia, asistennya langsung membuka tasnya dan mengambil dua lembar tissue untuk di letakkan di atas kursi sebagai alas tante Mieke duduk. “uhuk..uhuk” Bapak terbatuk-batuk. Ini pertama kalinya dia melihat ada tamu dengan layanan super special dirumahnya. 

“Maaf nih Mbakyu..rumah saya memang kotor,maklum belum sempat nyapu…” Tangan emak sengaja mengibas-ngibaskan debu diatas meja. Ani menjadi tak enak hati. Asistan itu berdiri di belakang majikannya. Tangannya sibuk mengipasi Tante Mieke. 

Tante Mieke mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Kemudian duduk di dekat Emak. Ani yang kerepotan, dia buru-buru mengeluarkan tissue dan meletakannya di kursi, sebagai alas duduk tante Mieke. Setelah itu posisinya kembali seperti semula. Berdiri dibelakang nyonya besarnya. 

“Makanya kita menjadi besanan saja. Supaya aku bisa memberimu pembantu. Biar kamu bisa leyeh-leyeh. Seperti aku. Jam segini sudah cantik…nggak kayak kamu gitu.” Ucap Tante Mieke seraya melirik kearah emak. Yang dilirik hanya tersenyum kecut.

Kedatangannya kesini memang untuk menjodohkan anaknya dengan Adiba. Karena terpesona dengan perubahan Adiba yang cantik dan anggun. Pantas sekali bila disejajarkan dengan Atthaya. Ambisinya semakin menggebu, melihat perlakuan Adiba saat merawat Atthaya diRumah Sakit. Sayang..emak sepertinya terus menghindarinya. 

“Kamu tahu kan jeng, Atthaya, anakku, single, ganteng, selain itu dia seorang CEO di perusahaan terkenal, kaya raya pula. Sedang Adiba, anakmu sama-sama single. Pinter pula. Mereka cocok. Kalau Adiba mau di persunting Atthaya, nantinya dia tak perlu capek bekerja. Tinggal ongkang-ongkang kaki dirumah. Relax di spa, shopping atau jalan-jalan keluar negeri sesukanya. Kamu juga bisa ikut senang, kita bisa jalan-jalan berdua, hunting berlian dan tas hermes keluaran terbaru.” 

Hati emak seperti di sengat lebah. Nyengggg!!!! Dia berusaha menahan emosi. Hih….belum apa-apa sudah mau mengatur. Berulangkali dia merubah posisi duduknya. Mengingat posisinya sebagai tuan rumah. Emak tak enak hati bila berlaku kasar pada tamunya. Emak kembali menyunggingkan senyum. Senyum terpaksa.

Dia lalu pamit ke belakang, dan membuatkan mereka minuman. Namun tak disangka Ani mengikutinya . Dengan sopan dia berkata.”Maaf Bu Barata…..Ibu Mieke, tidak terbiasa meminum teh local. Takutya nanti pencernaan beliau terganggu.” Ani lalu meyebutkan nama tehnya. Teh impor. Emak nggak pernah tahu namanya. Dirumahnya hanya ada teh 99. Mereka sekeluarga menyukainya, karena aromanya wangi.

“Apa…teh damman peres, welah…aneh-aneh aja. Nama teh kok ya namanya mirip artis dangdut….hehehhehehe” Emak tertawa sendiri. 

“Bukan Damman peres bu….tapi…damman frères.”Ani menjelaskannya.
“Dammann peres….hmmm…damman frères” Emak mengulangnya berkali-kali. Lidahnya kurang lihai saat mengucapnya.

Karena tamunya tak berkenan dengan minuman yang ia buat. Sebagai gantinya emak membawa sepiring kue jadah goreng buatannya dan membawanya sebagai suguhan.

Monggo…dicicipin dulu, mbakyu…..” kata emak kepada Tante Mieke, yang kelihatan penasaran dengan apa yang disuguhkan oleh Emak. Dia mengambil satu, menggigitnya sedikit. Matanya megerjap-ngerjap tanda ia menyukainya. lalu dalam dua kali gigitan kue jadah itu lenyap dalam mulutnya. Tante Mieke tersenyum, kemudian malu-malu ia mengambil satu lagi. Seperti tak puas, dia nambah satu lagi..sampai habis 5 biji. 

Tante Mieke tersedak. “Air…mana air” katanya, sambil matanya sedikit mendelik. Ani keluar rumah, dan meminta pak sopir untuk mengambil air Quila yang tertinggal di mobil. Dan Emak segera mengambil teh yang tadi disiapkannya untuk tamunya dan langsung diminum oleh Tante Mieke tanpa protes.’

Ani datang dengan nafas pendek-pendek, dan cucuran keringat yang melunturkan bedaknya. Emak melihat kearah Ani dengan senyum, mengejek. Halah…..lagaknya boss kamu, masih suka kue kampung saja sudah sok kebulean.

“Jadi…..bagaimana jeng…apakah kamu setuju dengan perjodohan Atthaya dan Adiba…” tanya Tante Mieke lagi

Emak tidak langsung menjawab,Tante Mieke menunggu, seraya mulutnya tak berhenti mengunyah kue jadah goreng. 

“Aduh Nyonya….bagaimana nanti dietnya…” Ani berusaha menyingkirkan kue jadah yang tinggal 1 dari hadapan Tante Mieke.

“Huss!! Nggak usah ngomong-ngomong diet segala. Urusan diet belakangan. Sini kembalikan kue jadahnya.” Sahutnya sewot.

“Helah…malah ngeributin kue jadah” Emak tersenyu, dan melanjutkan perkataannya.” Begini mbakyu Mieke. Hal ini harus ku rundingkan dulu dengan suami dan Adiba. Apakah anak itu setuju apa tidak, bila di jodohkan. Tahu kan mbakyu anak zaman sekarang, kemauannya susah dimengerti.” Kata emak hati-hati.

Disatu sisi, otak emak berpikir keras, bagaimana caranya menolak permintaan Tante Mieke…tanpa menyakiti hatinya. 

Sepulangnya tante Mieke….emak langsung mencari suaminya yang sedang memberi makan burung perkutut kesayangannya di belakang rumah.

“Pak..gaswat..gaswat..ini pak” Dengan tergopoh-gopoh emak menghampiri suaminya. Bapak menoleh dan tertawa.

“Bapak sudah tahu…bu”

Emak terperanjat….”Wah..kok bisa pak. Padahal aku belum memberi tahu. Bagaimana ceritanya….hayo..bapak menguping pembicaraan kami yo…” 

Suaminya tertawa terpingkal-pingkal sampai pundaknya bergerak-gerak naik turun.

“Hahahhahaha..enggaklah bu…suara Mieke saja yang keras. Sampai kedengeran sampai disini” 

Mulut emak manyun.”Terus gimana pak, apa yang harus kita lakukan?” tanya emak dengan tatapan frustasi.

Bapak menyesap teh dalam mug besarnya. “Menurutku Atthaya kelihatan baik. Kalau kamu curiga dia melakukan hal-hal yang tak patut. Sebaiknya kita selidiki dulu kebenarannya. Begitu lebih baik. Setelah itu baru kita bisa memutuskan apa yang terbaik untuk Adiba.”

Emak mengangguk setuju. Dia menepuk-nepuk sayang punggung tangan suaminya.



“Tapi pak….apakah kamu suka dengan sikap Mbakyu Mieke. Hih..kalau aku agak gimana gitu, geli. Mosok belum kawin sudah mau ngatur-ngatur..emang anak kita seperti dirinya apa?”

Mendengar perkataan istrinya. Lagi-lagi bapak tertawa.

“Nggak usah dipikir terlalu jauh bu….kita belum tahu keputusan kita dan juga keputusan Adiba….”

Hmmmmm..bener juga kata suaminya. Ngapain dia pusing sendiri. Emak mengangguk setuju. Dia menepuk-nepuk sayang punggung tangan suaminya. 

“Bagaimana kalau kita kerumah Adiba, Pak……aku sudah kangen sama anak itu.” Kata ibu manja.

Tetapi……

Sebuah pelukan hangat mengagetkan mereka berdua. “Lah….yang diomongin kok sudah ada disini. Tumben kamu datang sepagi ini nduk…..kamu ndak apa-apa tho? Kebiasaan lamanya muncul. Emak memeriksa kening Adiba. Apakah panas apa tidak. Dan Dia merasa aneh anak gadisnya datang tanpa pemberitahuan. Apalagi ini hari kerja. 

“Adiba lapar. Emak masak apa?” Dia menghempaskan badannya di kursi goyang. Yang merupakan kursi kesayangan bapak. Hari-harinya banyak dihabiskan disitu sambil mendengarkan suara burung perkutut.

“Emak belum masak apa-apa. Tadi ada tamu..baru saja dia pulang.”

“Gimana kalau kita makan nasi pecel Yu Suyatmi…..?” Bapak menawarkan diri untuk membelikannya. Yang disambut pelukan hangat Adiba. Adiba memang sangat menyukai nasi pecel Yu Suyatmi. Bumbu pecelnya rasanya tiada duanya, nendang gurindang.


Lanjutan Part 11

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken