Menantu Pilihan Emak Part 8




Jemari Adiba menyentuh pinggiran gelas kopi latte yang berangsur dingin. Sesekali matanya menatap layar ponsel miliknya yang sengaja ia taruh diatas meja

Dilayangkannya padangannya ke sekitar Café Laluna, suasananya tampak lengang, hanya suara lembut music Jazz & Bossa nova mengalun lembut di telinganya. Ia menyesap kopi lattenya saat pelayan datang membawa Hot Lava Cake, pesanannya. Ia mengucapkan terimakasih dan memberi pelayan tip.


Kring…..

Suara teleponnya berbunyi. “Halloo….”suaranya lembut, nyaris tercekik dalam kerongkorongannya saat mengetahui siapa yang menelponnya.

“Apa kamu sibuk, apa aku boleh berbicara denganmu” 


Adiba berpikir keras, dia masih gugup. Darimana Atthaya mendapatkan nomornya?

“Oke..tak usah dijawab. Tunggu saja aku disitu!” timpalnya lagi. Atthaya tak menutup telponnya.
“Maksudmu……..” Adiba masih tak mengerti apa yang dimaksud oleh Atthaya, dengan memintanya tetap disitu.Merasa curiga, Adiba menoleh ke belakang. Dan melihat Atthaya sedang tersenyum manis menatapnya. Mereka berjarak hanya beberapa depa. Hatinya semakin bergemuruh. Ingin rasanya ia berlari, menghindarinya. Namun kakinya seakan layu dan hanya bisa menatap wajah Atthaya, kangen.

Tubuhnya mendadak kaku.”Apakah kamu mengikutiku?!!” Tanya Adiba judes, menutupi rasa resah yang melanda hatinya.

Atthaya mengangkat bahunya. Senyumnya masih belum hilang. Adiba menjadi geregetan sendiri dan membuang pandangannya pada sekumpulan bunga anggrek di luar jendela. Menghindari tatapan Atthaya.

“Apa kamu baik-baik saja Adiba?” tanya lelaki itu penuh kasih. Ia tak menghiraukan rasa sakit yang melilit diperutnya.

“Cerewet!!” Jawab Adiba pedas.

Kemudian mereka diam tanpa suara.

Tiba-tiba Atthaya merintih….Adiba menoleh, dan terkejut melihat Atthaya kesakitan, memegangi perutnya. Keringat sebesar biji jagung bergerombol didahinya, wajahnya juga pucat. “Atthaya…kamu kenapa?? Gadis itu panic mendekati Atthaya. Atthaya mencoba berdiri, namun rebah dalam pelukan Adiba.  “Aku kangen kamu Adiba….sangat….” katanya lemah sebelum pingsan. Adiba tercenung….

****
Dirumah, emak berjalan seperti setrikaan. Mondar-mandir. Bapak sampai pusing melihatnya.”Duduk dulu mak…..malah stress aku melihatmu begitu!” ia meletakkan Koran di sebelahnya.

Emak menoleh pada bapak sewot. “Aduh..bagaimana sih bapak. Anak belum pulang jam segini,malah kesenengan baca koran”

Bapak melirik jam tangannya. Sudah jam 11 malam, Adiba belum pulang dari kerja. Ponselnya juga mati. Mestinya tadi pagi mereka kembali kerumahnya. Tapi..karena perasaan emak tidak enak. Akhirnya mereka gagal pulang. Mereka memang tidak tinggal serumah. Rumah orangtua Adiba di pinggiran kota, sedangkan Adiba memilih untuk tinggal di kawasan yang dekat dengan pekerjaannya. Meskipun begitu emak sering bolak balik menengoknya, karena tak tega melihat Adiba tinggal sendirian. Apalagi jarak tempuh tidaklah terlalu lama, Cuma 1 jam perjalanan dari rumah emak.

“Apa kita lapor polisi saja, pak….? Atau kita pergi kerumah sakit….? Emak semakin gugup, tangannya memilin ujung kemejanya. Ia terus menghalau pikiran negative yang datang kepadanya. Tuhan…..tolong lindungi Adiba. Ia anak kesayanganku. Doanya dalam hati. Sungguh…ia takut terjadi sesuatu pada anaknya.

Bapak menggeleng. Polisi tak bakalan menerima laporan mereka. Ini belum 24 jam. “Tenanglah Bu…..kita tunggu saja dulu”jawabnya arif.

Ponsel emak bordering. Emak segera mengangkatnya. “Iya….nduk...kamu dimana ini…? Emak berbicara sebentar di telepon. Wajahnya lega sekaligus khawatir.

“Adiba sedang menunggu Atthaya dirumah sakit,pak. Malam ini dia tak pulang.” Ibu menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan lesu.

“Atthaya kenapa?”

“Operasi usus buntu…..” sahut ibu tak berselera. Kepalanya menjadi pusing memikirkan mereka berdua.

Bapak sepertinya tahu, apa yang dipikirkan oleh istrinya.”Adiba sudah dewasa….dia tak bakalan bertingkah aneh.”

“Bukan…..begitu Pak. Aku percaya anakku. Tapi….kamu tak tahu cerita. Ah…sudahlah….pusing aku!” ibu berdiri dan masuk kekamar, diikuti oleh suaminya.

“Pak…..apa bapak kemarin memperhatikan, bagaimana pandangan Nak Atthaya pada Adiba.” Kata ibu tiba-tiba. Bapak hanya mengangkat kedua tangannya. Badannya begitu lelah, dan kini ia sangat mengantuk.

“Kita istirahat dulu, bu….besok kita bicara lagi.” Mulut bapak, menguap beberapa kali.
“Eh..bapak….mana bisa aku tidur, sedangkan anak kita tidur dirumah sakit sekarang. Ia kalau dia bisa tidur, kalau enggak gimana…kalau ukutan sakit gimana….” Kata emak memcoba menghalangi bapak untuk tidur. Tetapi usahanya nihil. Bapak sepertinya sudah jatuh tertidur.

 Dengkurannya terdengar jelas. Emak keki. Kemudian ia mengambil ponsel dan menelpon Adiba. “Nduk….kamu besok mau dimasakin apa? Oh ya…kamu harus tidur lho ya…jangan sakit.” Setelah itu baru emak tenang merebahkan badannya disamping suaminya.Tidur!

***

Adiba menyimpan rapat kisah cintanya dengan Atthaya. Lelaki yang dikenalnya pada sebuah pesta ulangtahun kawan lamanya 17 tahun silam. Cinta pada pandangan pertama, saat Atthaya tak sengaja, menabraknya, di depan pintu masuk sebuah Coffee Shop 

Mereka langsung klick, dan akrab. Obrolan mereka nyambung, meskipun baru bertemu. Kemudian mereka bertukar nomor telepon. Setelah itu hubungan mereka dekat, saling cerita dan mensupport. Adiba menikmati hari-harinya bersama Atthaya. Namun…karena sudah berjanji kepada emak untuk focus pada studinya. Adiba tak pernah memperkenalnya pada orangtuanya.

Sampai akhirnya Atthaya pindah ke Belanda. Kisah kasih mereka masih berlanjut. Cinta Adiba begitu suci. Dia setia menunggu Atthaya…sampai akhirnya lelaki itu tak pernah mengiriminya berita lagi.

Dan malam ini….mereka berdua bersama. Diruangan serba putih. Lelaki yang ditelah ditunggunya bertahun-tahun masih belum sadar dari obat biusnya. Wajahnya masih pucat setelah operasi usus buntu. Adiba ingin sekali meraba wajahnya, wajah yang selama ini mengganggu tidurnya. Namun ia tak bisa…ia hanya bisa menatap wajahnya dengan mata basah.

“Kamu jahat..kenapa kamu menghilang…..apa kamu tahu….aku lelah menunggumu disini…uh..” Punggung tangannya menyapu airmatanya. Dadanya tiba-tiba sesak seperti penderita asma.

Lalu…..sebuah tangan kekar, mengambil tangannya, dan membawanya ke dada bidangnya. Adiba terkesiap. Atthaya sudah sadar. Gadis itu gelagapan, dan berusaha menarik tangannya.
“Apa kamu mau minum….? Tanyanya mengalihkan perhatian Atthaya. Lelaki itu mengangguk. Adiba mengambilkan sebotol air dan sedotan lalu memberikannya pada Atthaya. “Pelan..pelan….” timpal Adiba lagi. Lelaki itu tersenyum. Tangannya menyentuh rambut Adiba.
“Terimakasih, sudah menjagaku”

“Ihhhh……jangan geer dulu, bung. Ini kulakukan karena kasihan. Keluargamu sedang di Singapura semua. Mereka baru balik, besok pagi” jawab Adiba cepat.

Kruk….kruk….kruk….perut Adiba berbunyi.

“Kamu sudah makan?” tanya Atthaya teringat Hot Lava Cake yang dipesan Adiba masih utuh tadi.

 “Aku belum lapar” elaknya, padahal perutnya sudah lapar sekali. Ia baru sadar, belum makan apapun setelah makan siang tadi. 

“Sayang…..makan dulu gih….aku tidak mau kamu pingsan disini…”
Saat Atthaya memanggilnya sayang. Hati Adiba bergemuruh. Tuhan…please…jangan ingatkan aku soal itu. Ia memejamkan matanya sejenak. Pura-pura tak mendengar perkataan Atthaya. 

Tuhan….Kenapa Atthaya datang….kenapa sikapnya masih lembut padanya.kenapa ia harus datang lagi, setelah ia berusaha keras untuk melepaskannya pergi dalam kehidupannya.







Comments

Tulisan Beken