Rumah Kardus





Dimas memijiti kaki Ayahnya, di sebuah dipan pendek. Sudah dua hari ini, Ayahnya terbaring sakit. Sambil melihat sebuah mainan rumah-rumahan berbentuk kastil yang terbuat dari kardus, yang di buat oleh sang Ayah. Rumah mainan itu tinggal menunggu di cat.  Nati pasti akan terlihat indah. Dimas, kagum dengan Ayahnya, sebab membuatnya sangat detail, sehingga mirip dengan aslinya.

            “Ayah…..bolehkah aku menyelesaikannya” Ayah Dimas tersenyum. Dia mengangguk lemah. Besok rumah kardus itu diambil oleh pemesannya.


            “Horeee!! Aku akan membuatnya menjadi indah. Ayah,  jangan khawatir, serahkan saja padaku! Dimas kemudian mengambil cat di bawah meja. Dan memoleskannya pelan-pelan pada rumah kardus. Di belakangnya, ayahnya tampak kagum dengan pekerjaan anaknya.

            November ini, Dimas berumur 9 tahun. Dia duduk di kelas 3 SD. Hobbynya bermain sepakbola. Meskipun usia Dimas masih muda, tetapi dia anak yang bertanggung jawab. Dia tak pernah mengeluh sedikitpun. Dia selalu ceria dan berusaha kerja dengan giat untuk meringankan beban ayahnya yang lumpuh. Semenjak ibunya bekerja di kota, dan tak pernah ada kabar berita. Otomatis dialah yang merawat ayahnya sendiri.

            Sebelum subuh, dia sudah bangun, menjerang air,menanak nasi di dapur , memberi makan ayam-ayamnya, serta membantu ayahnya membersihkan diri. Setelah itu, barulah dia berangkat ke sekolah. Pulang sekolah, dia bekerja, sebagai pemulung.

            Lantas, kardus-kardus yang didapatnya, oleh Ayah Dimas di sulap menjadi mainan Rumah-rumahan. Bentuknya macam-macam, tergantung pesanan. Kebanyakan berbentuk kastil, anak-anak menyukainya, untuk rumah boneka.

            “Istirahatlah, Nak…besok kamu sekolah” pinta ayahnya, saat melihat Dimas masih sibuk mengecat rumah kardus.

            “Sebentar lagi, Yah”
***
            Hari minggu, matahari bersinar lembut menyapa pagi. Dimas kelihatan segar. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Dia bersiap-siap untuk bekerja. Di punggungnya ada keranjang dari anyaman bambu yang dimodikasi oleh ayahnya  seperti tas punggung. Sehingga memudahkan Dimas membawa barang rongsokan yang di temukannya.

            “Ayah, Dimas berangkat.”

            “Hati-hati, nak, di jalan. Dan cepatlah pulang sebelum sore.” Dimas mengangguk, lalu mencium tangan Ayah.

            Sepanjang perjalanan, ia bernyanyi lagu Sajojo. Lagu daerah yang berasal dari Papua itu, membuatnya bersemangat. Sesekali, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuri irama lagu.

            Sajojo..sajojo
            Yu manampo misa papa
Samuna muna keke
Samuna muna keke

Di alun-alun ternyata sudah ramai. Baik tua maupun muda. Hari ini ada jalan santai dan pentas seni. Jarak alun-alun sekitar km dari rumah Dimas. Dia berjalan kaki kesana, namun, tak menghalangi niat Dimas untuk datang ke alun-alun, tiap hari libur. 

Baginya, alun-alun seperti surga kecil, dimana dia bisa mendapatkan hiburan gratis sambil mengais rezeki disana.

Bukan hanya Dimas seorang yang tertarik, untuk mencari nafkah di alun-alun. Disana ada beberapa pemulung yang ia kenal baik. Ada Bu Hamidah dan dua orang anak balitanya, Mbah Tarno, dan Nek Salmah yang  latah.  Meskipun begitu, ia suka membagi makanannya pada Dimas.

Dimas menyapa mereka saat bertemu. Ucup, anak Bu Hamidah menghentikannya. Dia mengulurkan tangan kecilnya, meminta gendong. Dimas menurutinya sebentar. Bocah itu tertawa, memperlihatkan gigi kelincinya.

Kemudian, dia bertemu dengan Nek Salmah. Sifat jahil Dimas muncul.” Nek…lagi ngapain” Dimas mengejutkannya.

“Nek..nek..lagi ngapain” jawab Nek Salmah menirukan pertanyaan Dimas. Dimas tertawa.
“Apa kabar, nek” Di berikannya bungkusan plastic kecil yang isinya ternyata daun sirih pada Nek. Salmah. Tanaman sirih yang ia tanam, tumbuh subur, di belakang rumahnya.

Nek Salmah tertawa senang melihat Dimas.  Dia langsung  memasukkan daun sirih ke dalam mulutnya, dan mengunyahnya pelan. Dimas memperhatikannya. Berbeda dengan almarhum neneknya yang “nginang”. Daun sirih di beri, daun pinang, kapur sirih dan gambir.

“Enak, nek” Nek Salmah mengangguk. Setelah mereka mengobrol sebentar, merekapun berpencar.

Saat Dimas asyik memunguti botol plastic yang di buang penonton. Matanya, matanya tertuju pada sebuah dompet berwarna hitam yang sebagian tertutupi kantong plastic sebuah minimarket. Spontan dia mengambilnya. Lalu  menyingkir dari kerumunan orang-orang dan pergi ke sebuah toilet umum, tak jauh dari situ.
Matanya terbelalak, mengetahui jumlah uang di dalamnya. Tiga juta Rupiah! Tangannya gemetaran memegang lembaran uang seratus ribu yang masih baru. Ia belum pernah melihat uang sebanyak itu! jantungnya berdegup kencang. Secepat kilat, tangannya memindahkan dompet itu ke dalam kantong plastic, dan memasukkannya ke dalam keranjang.

 Hhhhhh….aman.

Dimas bersiul gembira. Semua seperti mimpi. Dengan uang itu, dia dapat membeli sepeda baru dan memberikan modal untuk Ayah. 

Tetapi..rasa senang itu hanya sekejap. Hatinya mendadak resah. Uang itu bukan miliknya! Pasti orang yang kehilangan dompet itu sedang kebingungan sekarang. Pikir Dimas, termenung di bawah pohon palem. 

Ambil..tidak…ambil…tidak. Tidak…ambil…tidak…

Dimas teringat pesan Ayah, untuk menjadi anak jujur.. Dia melihat dompet itu sekali lagi. Sebelum melangkah keluar.
 
***

Kerongkongan Dimas kering, air yang dibawanya dari rumah sudah habis sejak tadi. Siang itu, cuaca memang garang, panas matahari menyengat kulit. Dimas memutuskan untuk mencari alamat pemilik dompet yang ia temukan.

Perumahan Cempaka Wangi. Dimas membaca pelan alamat yang tertera pada kartu nama.
Dimas tertegun, di depan sebuah perumahan elit. Kakinya ragu melangkah. Di situ tertera “Pemulung di larang masuk” nyalinya ciut juga.

Seorang satpam yang berjaga, menghentikan langkah Dimas.
“Hei..jangan memulung disini!!”

“Enggg..saya…hanya ingin mencari pemilik dompet ini, Pak” Ragu-ragu Dimas memberikan dompet hitam pada Pak Satpam. Bapak itu membacanya. Dia manggut-manggut. Lalu menyuruh Dimas menaruh bawaannya di depan Pos jaga. Dimas sebenarnya enggan, ia khawatir, kardus tebal yang ia temukan diambil orang. Tetapi…ia tak berani membantah.

Rumah Pak Imam, sekitar 50 meter dari Pos jaga. Dimas mengintip dari balik pintu gerbang . Rumah bercat ungu itu besar megah, pagarnya tinggi sekali. Mereka menunggu sabar.

Seorang perempuan berdaster merah, membukakan pintu. Dia mengamati Dimas dari atas sampai ke bawah.

“Bapak, ada?” Tanya Pak Satpam. Ibu itu menggeleng. “Kalau ibu, ada pak?”
“Tolong, beritahu ibu, ada anak yang menemukan dompet bapak” Ibu itu segera masuk ke dalam untuk memberitahu majikannya.

Dimas takjud. Dia menelan ludahnya sendiri. Di teras, dia melihat dua orang anak. Yang satu sedang membaca buku dan satunya bermain boneka. Sedangkan di atas meja, terhidang sepiring buah-buahan dan kue-kue coklat, berikut minuman. Kruk..kruk…perut Dimas berbunyi. Perutnya lapar sekali.

“Sore, Pak Holil” Ibu Imam yang berparas ayu, menghampiri mereka berdua. Pak Satpam, yang bernama Holil itmemperkenalkan Dimas. Dimas menganggukkan kepalanya. Ia lalu menyerahkan dompet hitam pada Bu Imam. Bu Imam memeriksanya.

“Permisi, saya pamit dulu Bu” Dimas segera pamit pulang. Hatinya sudah lega telah mengembalikan dompet kepada pemiliknya. Diapun pamit pulang.

Tetapi……

“Pak…..barang-barang saya dimana?” Tanya Dimas kebingungan. Pak Holil lalu bertanya pada temannya yang berjaga. Jawabannya membuat Dimas sedih. Teman Pak Holil telah memberikan barang bawaan Dimas ke tukang sampah. 

“Maafkan, keteledoran teman bapak, Nak” ia menyesal, tak memberitahu temannya tadi.

Tiba-tiba, hujan mengguyur lebat. Dimas menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Pikirannya tertuju pada Ayah. Ia takut Ayah, marah padanya.

“Dimana rumahmu….” Dimas memberitahu. Pak Holil terkejut. Rumah Dimas jauh.
“Kalau kamu tak keberatan, Bapak akan mengantarkan kamu pulang.” Pak Holil menawarkan diri. Dimas berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk senang. 

Di rumah, Ayah begitu cemas, matanya melongok ke jam dinding. Sudah jam 7 malam. Dan Dimas belum pulang! Sekuat tenaga, dengan kedua tangannya dia mendorong badannya, ke teras. Hatinya sedih, melihat kedua kakinya yang lumpuh, Ia takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Ya Tuhan, tolong Lindungi anakku.

Sebuah motor berhenti.

“Ayaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh” ayah tersenyum, melihat Dimas turun dari motor. Anak lelakinya berlari menuju kearahnya.

“Maafkan, Dimas, Ayah”

“Kamu dari mana saja, Nak. Lho…mana keranjangnya. Kamu tak melakukan kesalahan kan? Cecar ayah. 

Dimas menggeleng. Dia lalu memperkenalkan Pak Holil pada ayah. Sepulangnya Pak Holil. Ayah mengajak Dimas makan malam. Menu sederhana, nasi jagung, lalapan kenikir dan ikan asin. Mereka makan dengan lahap. 

“Ayah bangga padamu, nak” ayah mengusap kepala anak lelaki.
“Tapi, Yah, semua barang yang kukumpulkan tadi hilang…”sahut Dimas kecewa.
“Tak usah dipikirkan, rezeki takkan kemana”Ayah menghibur hati Dimas.

***

Dimas dan teman-temannya asyik bermain kejar-kejaran di sekolah. Saat IbuYuni, wali kelasnya mencarinya.

“Dimas….kamu di cari Bu Yuni, tuh” Ragil memberitahunya. Ada apa ini, Dimas ke ruang guru.
“Nah..itu anaknya, Pak” kata Bu Yuni dan Pak Holil serempak. Dia datang bersama Pak Imam. Pemilik dompet yang ia temukan kemarin. Dimas menyalami mereka.

“Bapak kagum dengan kejujuranmu, Nak. Kemarin Pak Holil sudah menceritakan semua. Oh ya, Bapak ingin mengucapkan terimakasih padamu. Dan sebagai rasa terimakasih, Bapak punya kejutan buatmu” hati Dimas senang, hatinya berdebar menunggu kejutan apakah yang akan di berikan oleh Pak Imam, yang ternyata pemilik sebuah rumah mebel yang terkenal di kotanya. Bersama karyawannya, ia kemarin turut serta mengikuti jalan santai. Setelah mengambil uang di ATM dan membeli minuman, Pak Imam tak menyadari dompetnya terjatuh.

Akhirnya atas ijin Bu Yuni, Dimas pulang lebih awal. Teman sekelasnya  ribut, mereka saling menerka, hadiah yang akan di terima oleh Dimas? 

Ternyata, Pak Imam membawa Dimas kerumahnya. Ayahnya sudah menunggunya di depan rumah. Dia duduk di sebuah kursi roda! Bukan itu saja, di depan rumah juga ada sebuah sepeda. Pak Imam, Pak Holil dan ayahnya, terharu saat melihat Dimas mengelus sepeda.

“Apakah ini yang di maksud kejutan dari bapak?” Tanya Dimas.Pak Imam mengangguk. Anak itu berlari memeluknya. “ Ayah….Dimas sudah punya sepeda sekarang” sahut Dimas melirik ke ayahnya. Ia luar biasa senang menerima pemberian Pak imam.

“Sebelum lupa, ini juga buat kamu.Bapak ingatkan, Dimas harus belajar giat dan yang paling penting, selalu ingat nasehat Ayah Dimas” Pak Imam memberikan amplop tebal berwarna coklat.

“Ayah….dengan uang ini, kita bisa membuat rumah kardus lagi” Dimas dan Ayah tersenyum bahagia.

***

Comments

  1. Kisah yg mengharukan. Mengutamakan kejujuran seorang anak tak berpunya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken