Alien! Di kampung Halaman Sendiri




Enam tahun sudah kami pindah ke Jember. Selama itu pula, tiap berkumpul dengan handai taulan, saya masih merasa terasing. Saya masih tak banyak tahu orang, baik itu saudara maupun tetangga, apalagi orang jauh.


Lama tak berinteraksi dengan mereka membuat saya kudet-kurang update. Teman kecil saya sepertinya sudah banyak yang pindah, anak-anak kecil sudah tumbuh remaja, bahkan sudah ada yang menikah, dan sekarang malah ada yang punya anak. Itu semakin menyulitkan saya untuk mengenali mereka. Dan lagi….saya susah untuk mengingat nama seseorang bila hanya bertemu sepintas lalu. Tambah malah parah akhirnya. Sehingga saya selalu bertanya tiap ada yang menyapa. Bukannya sombong….tapi memang saya nggak tahu.

Merantau dan hanya pulang sekali dalam setahun, itupun tak pernah lama, paling lama 3 atau 4 hari, karena sibuk dengan kerjaan. Dan juga, karena dulunya, anak saya sangat rewel, saat tinggal dirumah ibu, Dia tidak kerasan dan selalu menangis. Membuat saya jarang bergaul. Waktu yang sempit hanya saya pakai untuk diam dirumah, kangen-kangenan sama keluarga. Saya jarang keluar. Alhasil……hubungan saya dengan saudara –saudara maupun tetangga sebatas say hello. 

Dan efeknya, saya rasakan sekarang, ketika kami pindah kesini. Dan memilih tinggal di kota dibandingkan tinggal dirumah ibu yang notabene berada di kampong. Saya semakin jauh dengan keluarga, meskipun saya berusaha untuk menjalin silaturrahim. Tetapi tetap, saya seperti Alien di tengah tengah orang yang tidak saya kenal. Mereka masih mengganggap saya sebatas tamu karena saya tidak tinggal disitu.

Rasanya memang ganjil. Entah saya atau mereka yang berubah. Semua tidak berjalan secara natural, hanya basa basi, manis-manise lambe, kemudian sibuk dengan urusannya sendiri. Dan akhirnya saya kembali menjadi Alien, yang berusaha untuk tetap nyaman dengan dirinya sendiri, dimanapun alien itu berada.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken