Lintrik Bag 1




Beberapa kali Rusmini menguap. Badannya begitu payah setelah seharian berjualan dipasar. Matanya sudah sangat mengantuk, namun ketika ia rebahkan tubuhnya diatas dipan, ia tak kunjung jatuh tertidur. Lantas, perempuan itu membolak balikkan badannya. Berharap dengan begitu ia bisa tertidur. Tetapi sampai setengah jam kemudian, matanya masih melek. 


Tik tak tik tak, suara jam weker, terdengar keras. Telinganya menjadi berisik. Dia Mengambilnya dan menindihnya dengan bantal. Namun tetap saja, suara jam weker itu tetap mengganggu istirahatnya. Perempuan itu kesal dan meletakkannya weker itu kembali ke tempat semula. Dan berdiri menyibak korden. Matanya nanar melihat ujung jalan. Sepi. Tak ada motor atau mobil yang berlalu lalang. Rusmini mendesah berat. Parlan, suaminya belum pulang, padahal sudah mendekati jam dua dini hari.

Ia mencoba menghubungi nomor suaminya, namun ponsel suaminya mati. Perempuan itu menghentakkan kakinya ke lantai.. Sudah beberapa hari ini Parlan jarang pulang kerumah. Kalau pulangpun dia hanya sebentar kemudian pergi lagi. Tanpa bilang apapun padanya. Dadanya seketika sesak saat mengingat selentingan kabar soal Parlan. Kang Parlan tak mungkin menyakitiku. Hiburnya dalam hati.

Kemudian, Rusmini pergi menengok kamar Raka, anak lelakinya. Bocah berumur tujuh tahun itu, meringkuk memeluk guling. Tidurnya sangat pulas. Rusmini membelai wajah polosnya. Melihat anaknya, duka mendalam langsung menyelimuti hati Rusmini. Tanpa disadarinya, setitik airmata jatuh dipipinya dan meluncur deras mengenai wajah ganteng Raka. Mata Raka seketika terbuka.

“Ibu….kenapa menangis” tanya Raka dengan mata yang masih mengantuk.

Cepat-cepat tangan Rusmini mengusap airmatanya. Dia tersenyum pada Raka.”Ibu terharu melihatmu nak, kamu semakin besar” jawabnya bohong. Dia lalu merebahkan badannya disamping Raka. Dan memeluknya. Semenit kemudian, anak lanangnya kembali tertidur. Rusmini juga ikut tertidur. Dan terjaga saat bermimpi salah satu sandalnya hilang. Perempuan itu menekan dadanya. Menurut cerita simbahnya, memimpikan sandal hilang adalah pertanda buruk bagi hubungannya. Besok dia harus mencari tahu dimana Suaminya selama ini.

***
Esok paginya, ketika Rusmini hendak berangkat ke pasar. Parlan pulang dengan muka kusut. Suaminya itu langsung duduk di ruang tamu dan memintanya membuatkan segelas kopi dengan kasar.”Russsss!! Cepat buatkan aku kopi.” Suaranya keras, membuat Rusmini gemetaran. Perempuan itu langsung menuju dapur, menyalakan kompor dan menjerang air. Dari balik pintu…..ia mengintip suaminya. 

“Russ!! Mana kopinya!! Lambat sekali kamu!!Teriak suaminya lagi.

“Ia..kang….sebentar lagi.” Jawab Rusmini dari dapur. Dengan tergopoh-gopoh perempuan itu membawa kopi dan sepiring pisang goreng kesukaan suaminya, dan meletakkan di meja, pas di depan suaminya. Lelaki itu menyesap kopinya. Kemudian dia menyemprotkan air kopi ke muka Rusmini. “Bah…..dasar perempuan dungu! Ini kopi apa teh!! Lelaki itu makin gusar pada istrinya.

“Itu kopi kesukaanmu, Kang…..kamu lebih menyukai kopi manis daripada pahit.” Elaknya. Sebagai istrinya ia tahu kesukaan suaminya.

Mendengar istrinya membantah, emosi Parlan naik. Ia mengambil gelas kopi dan membantingnya ke lantai. 

PRANGGGGGGGGG…..gelas itu pecah, kacanya berserakan dilantai bercampur dengan air kopi.

“Ohhhhhh….kamu sudah pinter sekarang, heh, berani-beraninya membantah perkataan suamimu.” Kata parlan menjambak rambut Rusmini.

Rusmini mengaduh….”aduhhhhh…sakit Kang…” Tetapi sepertinya Parlan tak peduli. Lelaki itu malah menampar istrinya keras. Karena kerasnya, sampai membuat Rusmini terhuyun. Perempuan itu menangis, memegang pipinya yang terasa terbakar.

“Aku salah apa Kang….kenapa kamu menamparku”tanyanya disela-sela isak tangisnya. Hatinya sakit sekali, mendapat perlakuan kejam dari suaminya.

Seperti tak merasa bersalah, Parlan melihat istrinya yang menangis duduk dilantai. Ia menyalakan rokok kretetknya, menghisapnya, dan menghembuskannya kuat-kuat.
“Kamu membuatku muak Rus!” kata Lelaki itu, lalu pergi meninggalkan istrinya yang masih menangis.

Rusmini menatap punggung suaminya dengan hati berdarah. Ia tak pernah menyangka suaminya,akan tega menamparnya, sampai mulutnya berdarah. Sifat suaminya lembut, dan penyayang. Karena itulah ia jatuh cinta pada lelaki yang telah memberinya anak satu itu.
Sambil menangis, ia memunguti pecahan gelas dilantai. Sampai tak mengetahui Yu Sasmi masuk kerumahnya.

“Kenapa kamu Rus?” tanyanya sambil memeluk Rusmini. Tangis Rusmini semakin kencang dalam pelukan Yu Sasmi.
“Sudah…sudah…..jangan nangis Rus, tenangkan dirimu.” Ucap Yu Sasmi, menenangkan Rusmini.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken