Menantu Pilihan Emak Part 18



“Hmmmm…jadi begitu ceritanya….?” Aini menyuapkan sesendok penuh macaroni cheese kesukaannya, mengunyahnya pelan dan berbicara lagi “yang aku tak mengerti, kenapa kamu meninggalkannya, bukankah Atthaya sangat mencintaimu?” matanya menatap Adiba. Menuntut penjelasan, Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya soal Atthaya. 


Adiba menunduk, tangannya mengaduk-aduk es cincau jahe  yang tinggal setengah, lalu menyesapnya perlahan. “Atthaya ternyata bukan lelaki yang kucari, selama ini aku sadar, ternyata aku hanya terobsesi dengan ketampanannya.” Jawabnya bohong, dia tak mau mengungkap rahasia Atthaya.

Aini mengelap mulutnya dengan tissue. Macaroni cheese didepannya sudah habis. Lantas tangannya mengelus perutnya yang membuncit. Adiba tersenyum,melihat pipi bulat Aini yang mengingatkannya akan bakpao. Membuatnya semakin gemas. 

“Yakin?” Aini tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adiba. Alasan Adiba terlalu dibuat-buat. Dia tahu siapa sahabatnya. Dia orangnya tangguh dan tak gampang tergoda,dia juga tak serampangan memilih calon suami “Soal Sukma, tak usah dipikirkan. Dia sudah dipindahkan ke kantor cabang, di Kalimantan. Mana betah dia disana…..!” katanya lagi, dengan suara nyinyir. Matanya menerawang membayangkan Sukma dengan gayanya yang hedon, tinggal di suatu tempat yang jauh dari mana-mana.

Adiba hanya mengangguk. Dia tahu soal itu, sebab Big boss, amat marah ketika tahu anak buahnya membuat scandal. Apalagi merugikan salah satu investor mereka. Yang tak lain adalah Atthaya. Maka supaya tak ada pemecatan, salah satu cara yang paling manusiawi adalah memindahkannya ke kantor cabang mereka, yang berlokasi di kota kecil. Dengan cara itu, biasanya mereka mengundurkan diri sendiri.

“Aku ingin mengajakmu ke spa, kamu mau kan?” Adiba mengalihkan pertanyaan.
Mata Aini membelalak.”Tentu mau dong, apalagi dibayarin….” Senyumnya mengembang, menghiasi pipi tembemnya.

“Deeeeeeeeeeeee…maunya, baiklah. Kapan kita kesana?”

“Weekend ini bisa, lagipula suamiku pergi keluar kota besok. Jadi males sendirian dirumah. Lebih baik aku nginap dirumahmu….bolehkan?” ucap Aini. Tiba-tiba dia ingin menginap dirumah Adiba. Kangen bercengkrama dengannya, seperti yang sering mereka lakukan sebelum dia menikah.

Adiba mengangguk setuju.

***

Adiba seperti berlari digurun pasir. Kakinya lelah dan tenggorokannya kering. Dikejauhan dia melihat sebuah danau. Dengan sisa tenaga yang tersisa, dia berlari menuju kesana. Dilihatnya air danaunya semakin lama semakin menyusut seperti tersedot kedalam tanah. Jaraknya tinggal beberapa langkah lagi….dan dengan sekuat tenaga..ia melompat ke dalam genangan air itu. Hap……dia terduduk lesu diatas pasir basah, menyadari airnya sudah menghilang. ”Air….air…..”Adiba memegangi kerongkongannya yang nyaris tercekik karena kehausan.
“Adiba….bangun!” Aini mengguncang badan Adiba disampingnya.

Adiba membuka matanya setengah bingung. “Oh….mimpi” Dia ingin memejamkan matanya. Namun dia merasa aneh saat meraba matras tempat dirinya tidur. Basah. “Oh My God! Kamu ngompol,Aini…! Kata Adiba seperti tak percaya melihat kearah sahabatnya yang malam itu menginap dirumahnya.

“Haaaaa…..nggak mungkin….Oh tidak! Ini bukan ompol tapi air ketubanku, Adibaaaaaa” Aini sontak histeris dan panic. Dia terlihat gugup. Dia mulai menangis ketakutan, dia belum siap melahirkan saat suaminya tak ada disampingnya. “Bagaimana ini…aku takut….”
Adiba sontak bangun.

“Cup…cup…cup….jangan nangis,oke…, sekarang tarik nafas pelan-pelan” Adiba menenangkan sahabatnya. Meskipun ia sendiri senewen. Ia juga takut Aini akan melahirkan malam ini, sedangkan ia sendiri belum pernah menemani orang melahirkan. 

“Awww….Adiba…perutku sakit” Aini meringis memegangi ujung kursi. Intensitasnya semakin sering. Tadi sewaktu di spa, ia sebenarnya sudah mulai sakit perut. Namun….ia mengabaikannya. Dikiranya itu hanyalah efek makan rujak. Aini memang doyan pedas. Kemarin sebelum mereka berangkat ke spa, dia meminta pembantunya untuk membelikannya rujak manis dengan extra cabe.

“Adibaaaaaaa…sakiiiiiittttt….”pipi Aini basah oleh airmata. Dia menggigit bibirnya. Adiba malah bolak-balik ke belakang. Perutnya ikut sakit.

“Fuh….fuh…fuh…tenang…tenang….kita pergi ke rumah sakit sekarang” Ajak Adiba langsung, tak tega melihat sahabatnya yang kesakitan.Ia segera mengambil tas Aini dan mengambil dompet, ponsel serta kunci mobilnya.

Aini menggangguk, dia memegangi perutnya….dia merasa kepala anaknya sudah siap dilahirkan. “Sabar nak….jangan sekarang…mama belum sampai kerumah sakit….” Tangannya mengelus-elus perutnya. 


Perut Adiba ikut mulas….dia permisi kebelakang lagi.

“Adibaaaa..kamu kenapa sih….ayo cepat…aku sudah tak tahan…..”Aini mengerang.
“3 menit….please…..”Ia berlari ke toilet…..
Setelah itu, ia memapah Aini kemobil. Setelah mengunci pintu…ia segera melarikan mobilnya kencang menuju Rumah Sakit.

Sepanjang perjalanan Aini terus mengerang. Ia sangat kesakitan. Mulut Adiba tak henti membaca doa…..

Sesampainya di Rumah Sakit, Aini langsung ditangani oleh dokter, dia sudah bukaan 8 dan sebentar lagi siap untuk melahirkan. Parahnya Aini tak mau ditinggalkan oleh Adiba. Dia memegang erat tangan Adiba. 

Mendengar rintihan Aini, Adiba semakin stress, perutnya turut sakit. Namun…demi sahabatnya, dia berusaha menahan sakitnya. Wajahnya sampai pucat.

“Mba…..lebih baik menunggu diluar, kalau tak kuat…..” saran dokter, saat melihat wajah Adiba. Gadis itu menggeleng. Dia tak kuasa meninggalkan sahabatnya sendirian, berjuang antara hidup dan mati, sedangkan suaminya masih diluar kota. 

“Saya akan menemaninya dok…” kata Adiba, suaranya kurang meyakinkan.
“Jangan dipaksakan. Khawatirnya nanti pingsan lho….”dokter cantik itu tersenyum manis. “Tak usah khawatir, kami akan melakukan yang terbaik untuk sahabat mba…..” katanya lagi, sambil memeriksa Aini. 

Aini menoleh kepada Adiba. Dia merasa kasihan juga melihat sahabatnya yang terlihat tertekan.

“Adiba….aku pengen ice cream” kata Aini disela-sela rasa sakitnya.
“Hah….jangan ngaco….minum air saja yach….dia mengambilkan sebotol air mineral dan membantunya minum.

“ARRRRGGGHHHHHHH…..Adibaaaaaa…..cepet belikan ice creaaaaam…..”teriak Aini kencang. Lengan  Adiba digigitnya. “Mamaaaaaaaa…sakittttt….mas Pur…..kenapa kamu tidak disini…..” jerit Aini. Ia merasakan sakit yang luar biasa.

Dokter membantu menenangkannya. Kepala jabang bayinya sudah terlihat menyembul. Perut Adiba ikut melilit, melihat perjuangan Aini melahirkan. Dia tak tahan. Dan bergegas keluar kamar bersalin.

Dia terburu-buru kekamar mandi. Dan bruk…dia menabrak seseorang. “Maaf…..” katanya tanpa menoleh.

“Adiba…kamu taka pa-apa kan?”
“Lho…..bapak kenapa ada disini……” tanya Adiba heran melihat Pramudiya berdiri didepannya dengan bersandal jepit, celana pendek dan kaos polo.

“Lho….bukannya kamu tadi yang menelpon saya….” Tanyanya bingung.
Adiba semakin kebingungan. Ia tak ingat sama sekali. Kemudian dia ingat Aini. Dan berlari menuju ruang bersalin lagi. Tak jadi ke kamar mandi.

“Adiba tunggu….”Pramudiya mengejarnya. “Siapa yang sakit….”
“Aini…..dia mau melahirkan!!”

Pas…tiba diruang bersalin. Adiba mendengar suara tangis bayi. Suaranya nyaring sekali..Dia masuk....dan melihat orang lain, dikamar itu….”Haaaa…dimana Aini…dokter…?”
Suster dengan lesung pipit mengulum senyum.

“Temannya disebelah sini, mba….” Dia menunjuk Aini yang sumringah meskipun kelelahan setelah melahirkan. Bayi lelakinya diletakkan diatas dadanya. Dia begitu mungil dan lucu. Meskipun lahir premature dia tampak sehat.

“Ada bigboss didepan…..”kata Adiba mencium kening sahabatnya. Dia turut bahagia dengan kelahiran putra sahabatnya itu.

“Siapa….katamu…bigboss? tanya Aini keheranan.










Comments

Post a Comment

Tulisan Beken