My Stupid Mom




Suatu malam, menjelang tidur, saya mengajukan pertanyaan konyol kepada putri saya.”Nak….apa kamu tak pernah malu memiliki mama seperti mamamu ini” kemudian saya melanjutkan, “kamu tahu kan….mama suka bertingkah lebay seperti anak kecil, cerewet, tidak bisa dandan dan out of date, bukan doctor atau pekerja kantoran,  cengeng, suka nangis dan mama berlemak.” Ucap saya dengan mimic lucu. Key ketawa ngakak. Dia lalu menggelengkan kepalanya.


“Mama seperti teman Key” jawabnya polos.”Key nggak bisa ngebayangin memiliki mama galak, pendiam dan jaim, seperti mamanya teman key” dia bergidik ngeri. Hahahha...ya iyalah nak, ntar kamu nggak bisa ngerjain mama. Bisa dikepruk kamu ntar.

Mengingat dia semakin besar. Ada beban di hati, bagaimana supaya menjadi perfect mom untuk dia. Sempat ada kekhawatiran dia minder memiliki saya sebagai ibunya. Dan Saya dapat tersenyum puas, mengetahui pandangan anak wedok tentang mamanya.

Mungkin banyak orang yang menjadi jaim setelah menjadi istri dan ibu. Mereka meninggikan dirinya sendiri, dan memoles supaya dianggap dewasa dan bijaksana. Saking sibuknya memoles tampilan luar, hingga lupa memoles EQ.  Dan saya tetap cuek mempertahankan kekonyolan dan terkadang tingkah laku saya yang  kekanakan sebagai suatu anugrah untuk bersikap balance dalam menjalani hidup sebagai seorang istri dan ibu.

Dirumah, saya bisa asik bermain bekel bersama anak, atau bertingkah lucu menirukan mimic comedian, atau tingkah slebor lainnya yang membuat anak saya terbahak-bahak kadang malah bersikap sangat manja dengan gelendotan pada misua. Saya tak malu, menangis dihadapan anak saya. Biarlah dia tahu, emaknya memang ekspresiv.

Diluar orang-orang yang tidak mengenal saya secara baik, pasti akan menilai saya sebagai pribadi yang kolokan dan sangat tidak mumpuni menjadi seorang ibu. 

Pernah ada lho….kata-kata yang menyepelekan, “Halah…dia manja, mana bisa dia mengasuh bayi. paling bisanya kamu nangis, ujung-ujungnya pulang kerumah ortu” orang itu mengatakan didepan saya sendiri. Hohohoooo..yo wes benlah, suka-suka dia mo ngatain saya apa. Toh kalau saya nggak punya duit, laper atau punya masalah. Emang dia care. Nggak toh. Toh nantinya saya sendiri yang handle masalah saya. Bukan dia. Ngapain saya pusing membuktikan bahwa saya seorang wanita hebat. Biarlah waktu yang akan menjawab.

Dan kini, dia terdiam ketika melihat saya dapat mengasuh dan mendidik anak saya dengan baik, tanpa bantuan siapapun. Bisa melewati rintangan, terutama tsunami besar yang sempat menghantam perkawinan saya.

Semakin kesini, saya menyadari. Saya tidak perlu malu dengan semua kelemahan yang saya miliki. Karena hanya Allah yang MAHA SEMPURNA. Saya tidak perlu lagi menutupi dan pura-pura berlaku JAIM, hanya untuk dianggap manusia perfect. Yo…beginilah saya, apa adanya. Mau diterima syukur, nggak juga nggak papa. Pandangan anak wedok saya sudah membuat saya bahagia.

Saya selalu bilang pada anak wedok. Emaknya masih perlu banyak soal parenting. Karena tidak ada sekolahnya. Kalau emaknya salah ya kudu dimengerti. Ayo kita belajar bersama-sama, trial and error.
Wokey deh….. Gitu aja

Comments

Tulisan Beken