Ngalap Berkah Kyai




“Tahu nggak kalau Kyai XX menikah lagi…..!
“iya…kali ini dengan santrinya, umurnya masih 16 tahun…..”

Kalimat itu begitu menarik dan sekumpulan ibu-ibu itupun dengan seronoknya bercerita. Sepertinya mereka banyak tahu tentang kisah cinta Kyai tersebut. Wajah-wajah mereka ada yang gumun bahkan ilfil, mengetahui panutan mereka kembali menikah, dan menyebabkan ada hati lain yang terluka. namanya emak-emak, paling tidak suka mendengar sesamanya disakiti.

Sesama perempuan, mungkin mereka menyadari betapa sangat menyakitkan, Ntah itu di cerai atau tidak, saat melihat suami menikah lagi dengan wanita kinyis-kinyis, yang kecantikannya mengalahkan Yoona. Ibarat panas matahari di tanggung sendiri. Menyilaukan dan panas membakar hati.


Disini saya tak bermaksud untuk ngomongin aib orang. Karena sayapun memiliki aib sendiri. Soal poligami, apakah itu mengikuti sunnah rosul atau sekedar mengikuti hawa nafsu. Biarlah menjadi rahasia hati mereka sendiri.masa bodo, bukan urusan saya.

Saya baru tahu, ketika ada salah satu ibu yang mengatakan bahwa, dimasyarakat ada anggapan menikahi seorang kyai dianggap sebagai berkah. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, berkah adalah  karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat. Sehingga apabila mereka menikahi seorang kyai, maka mereka akan mendapat kebaikan. Mereka rela menjadi istri kedua, ketiga bahkan ke empat atau lebih meskipun tanpa mendapat apa-apa, dalam konteks materi.

Ini sangat menarik sekali. Namun saya memiliki sudut pandang yang berbeda, yang hanya bisa saya ungkapkan lewat blog, dimana saya bisa mengatakan segala uneg-uneg hati.

Seperti kita tahu, status seorang Kyai amat tinggi dimasyarakat. Mereka dihormati dan menjadi panutan bagi kita yang ilmu agamanya cetek. Mereka ibarat lilin yang menerangi dan menjadi peneduh jiwa. Kyai ibarat seorang raja, kita sangat respect dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Coba kita perhatikan, bila kita mengundang seorang kyai datang kerumah. Kita selalu berusaha menyajikan makanan dan minuman yang terbaik untuk mereka. 

Setelah melihat fenomena itu, saya berpikir, orangtua yang rela anaknya dijadikan istri kyai yang kedua dan seterusnya adalah para Status hunter. Alih-alih mengalap berkah kyai, sebenarnya mereka hanya untuk menaikkan status, supaya dipandang, disegani dan dihormati. Awalnya bukan siapa-siapa, kini menjadi seseorang yang disegani oleh masyarakat. Kecipratan nama besar sang kyai. Ups…..joss bukan? 

Lah bener to…seneng nggak sih, ketika sang anak bisa menaikkan derajat mereka. Dan kemudian, eng ing eng........napa kemudian saya jadi kepikiran para istri itu yach, bahagiakah mereka?

halah embuhlah......








Comments

Tulisan Beken