Dua Menit Dalam Hidup Elsa




Terdengar suara tawa Elsa dari dalam kamarnya. Tawanya membuat merinding siapa pun yang mendengarnya. “Satu, dua tiga……hahahhahaha….dimana anak kesayangan mami sembunyi…..?”

“Alika disini, Mami…..”
Elsa berlari menuju korden, dan menyingkapnya. Tak ada siapapun disana. Perempuan itu kecewa.


“Mami….disini” suara itu kembali didengarnya. Dari dalam almari, toilet, dibawah ranjang…..tetapi….putrinya tidak ditemukannya.

Wajah perempuan itu pucat pasi. Dia shock putrinya, Alika tidak berada didalam kamarnya. Perempuan cantik itu histeris dan mencarinya kesemua ruangan dirumahnya. Dia teriak-teriak, seperti orang gila, melempar semua barang, memanggil nama anaknya.

“Alika…..Alika…Alika, Dimana kamu nak….” Dia mulai menangis “Mba Mur….mbak Mur….dimana Alika!!

Mendengar teriakan majikan perempuannya, Muryati buru-buru menghentikan pekerjaannya, dan membawakan sebuah boneka beruang kepadanya. Perempuan itu langsung merenggut kasar boneka beruang dari tangan Muryati, dan menggendongnya seperti seorang bayi.
“Alika….. kamu kemana saja nak, Ibu bingung mencarimu. Sekarang…ayo kita main lagi,nak” tak henti Elsa menciumi boneka beruangnya.

Muryati menatap punggung majikannya lara. Hatinya sesak. Kian hari tubuh Elsa makin kurus, kulit pucat dengan tatapan mata kosong. Sehari-hari dia banyak berdiam diri dikamar anaknya bersama dengan boneka beruang kesayangannya. Ia tak lagi memperdulikan penampilan maupun telepon genggam yang selama ini lekat dengannya.

Mata Muryati tertumpu pada sebuah bingkai foto, yang didalamnya ada sebuah foto gadis kecil dengan mata bulat, hidung bangir dan rambut mengombak. Senyumnya manis sambil memeluk boneka beruang. Pelan-pelan diusapnya lembut foto itu. Dan membawanya kedalam pelukannya. Perempuan itu menangis tergugu….

Kemudian lamat-lamat dia mendengar suara nyanyian nina bobo dari dalam kamar majikannya. Suaranya menyayat hati. Muryati termangu. Oalah….Bu Elsa, nasibmu. Muryati membathin, menangisi nasib majikannya.

***
 “Bibi……I Love you?” Mata anak cerdas itu, menatap lekat pengasuhnya.
Muryati kontan memeluk momongannya. Matanya basah oleh airmata. Dia terharu dengan apa yang diucapkan oleh Alika barusan. Mereka lalu berpelukan. Dia sangat menyintai Alika melebihi dirinya sendiri. Tuhan memang maha baik, setelah anaknya dipanggil Tuhan. Bu Elsa menawarinya menjadi pengasuh Alika. Baginya, Alika seperti obat ajaib yang menyembuhkan luka hatinya.

Kesibukan orangtua Alika begitu tinggi. Mereka jarang bertemu berinteraksi dengan Alika. Sehari-hari gadis cilik itu hanya di temani oleh Muryati dan dua orang pembantu termasuk sopir yang siap sedia mengantar Alika. 

Umur Alika masih lima tahun. Teman-temannya sibuk bermain, dia kebalikannya. Sibuk dengan banyak les. Dari membaca, berhitung, music, bahasa, renang sampai kumon. Muryati sampai tak tega, melihat momongannya kelelahan. Atas inisiatifnya sendiri, Muryati suka mencuri-curi waktu mengajak momongannya berjalan-jalan ke pasar burung, dimana Alika bisa melihat lihat binatang yang dijual disana. Hanya itulah yang dapat dilakukannya, supaya membuat Alika senang. Sedangkan untuk memelihara binatang, kedua orangtuanya menentang keras. Meskipun Alika sangat menginginkannya.

Elsa sangat keras mendidik Alika. Putrinya harus menuruti apa yang diinginkannya. Semua serba diatur olehnya. Dari waktu makan, bermain, belajar sampai urusan pakaian semua diatur olehnya. Tak boleh ada yang salah. Muryati harus menghafal berlembar-lembar kertas yang diketik oleh  Elsa untuknya.

“Bibi…..apakah mami dan papi sayang Alika?” tanya gadis kecil itu suatu malam. Muryati mengangguk, mengelus lembut tangannya.

“Mereka menyintaimu, nak….buktinya mereka memberikan banyak hadiah buat non Alika”
Alika mendesah, Matanya melihat di atas rak mainannya. Bermacam-macam mainan ada disitu. Tiap orangtuanya keluar kota atau keluar negeri, mereka selalu membelikannya oleh-oleh mainan. Namun semua itu tak ada yang dimainkannya. Satu-satunya mainan yang disukainya hanyalah boneka beruang pemberian Muryati.

Muryati mencium keningnya, dan membuainya. Alika tertawa kesenangan.”Alika jangan bersedih, Sebab Alika anak hebat, anak cantik, anak baik dan anak kesayangan bibi” Tangan Muryati mengelitik perut bocah itu. Tawa Alika semakin berderai.


“Jangan tinggalkan Alika ya Bi…” Alika memberinya sebuah ciuman di pipi Muryati.
Muryati mengangguk-angguk.

“Oh ya….besok Ulang tahun Alika. Apa Alika sudah bilang ke mami?” Muryati mengalihkan perhatian Alika. Bocah itu tersenyum dan memperlihatkan sebuah gambar padanya.

***
Jam enam sore. Alika menunggu kedua orangtuanya diteras. Rambutnya dikuncir ekor kuda.
“Papi….jam berapa pulang” tanya Alika pada papinyanya lewat telepon.

“Sebentar sayang, papi masih ada tamu dikantor” 

Alika kecewa, kemudian menutup teleponnya dan berganti melakukan video call dengan maminya.

“Mami…..dua menit saja please. Temani Alika meniup lilin….”katanya sambil terisak, Dia melihat Teman-temannya yang sudah berkumpul diruang tamu untuk merayakan ulang tahunnya yang keenam.

“Mami sedang sibuk Alika….”jawab mami dan memperlihatkan hadiah yang akan diberikannya pada Alika. Anak perempuan itu menggeleng.

“Alika ingin mami dan papi sekarang….”tangisnya pecah. Kemudian berlari masuk kekamarnya.Ia sangat kecewa dengan kedua orangtuanya,

Muryati mengikutinya dan menghiburnya,” sebentar lagi, mami dan papi Alika pasti datang.”katanya tak yakin. Tadi pagi ia sempat percakapan majikannya di meja makan kalau hari ini ada proyek besar yang akan mereka tanda tangani.

“Bibi bohong! mami dan papi tidak sayang Alika. Mereka lebih cinta pekerjaanya daripada Alika!!

Kemudian gadis cilik itu menutup pintunya keras.

“Bibi tidak bohong, non. Mami dan papi sayang non Alika, Bibi juga sayang non. Kalau non buka pintu, besok bibi akan hadiahkan anak kucing buat non…..kucingnya lucu sekali, bulunya warna……”

Mendengar nama kucing, Alika langsung membuka pintu dan mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.

“Beneran? Bibi akan memberi Alika seekor kucing?” matanya berbinar.
“iya…..tapi dengan syarat ini rahasia kita berdua” Kemudian menggandeng tangan Alika dan mengajaknya ke ruang tamu menemui teman-temannya.

Sampai jam 9 malam, Elsa dan suaminya belum juga pulang. Mata Alika sudah mengantuk. Tangannya memegang jeruji pintu gerbang, bersama Muryati yang menunggunya.Teman-temannya sudah pulang sejak tadi. Lilin di kue diulangtahunnyapun sudah meleleh. 

Angin malam berhembus dingin menusuk tulang. Muryati merapatkan baju di badan Alika.
“Kita masuk yuk……”bujuk Muryati. Badannya sudah lelah.

Alika menggeleng. “Alika mau menunggu mami dan papi, bik….”

Muryati mengelus dadanya.Kasihan. Diambilnya telepon genggamnya.”Maaf bu…..Non Alika tidak mau masuk. Sudah tiga jam dia menunggu ibu dan bapak didepan pintu gerbang”
Satu jam kemudian Alika melihat mobil kedua orangtuanya dari jauh.Dia membuka pintu dan……

BRAKKKKKKKKK

Terdengar teriakan histeris Muryati saat melihat tubuh Alika terlempar dan kepalanya membentur keras trotoar. Dia kontan memburu dan mendapati tubuh momongannya lemas. Ada banyak darah dikepalanya. Jiwa Muryati seraya lepas, saat melihat nafas Alika begitu payah. “A….li…ka…sa…yang…..bi….bi” katanya dengan tersendat-sendat sebelum menutup matanya.

Muryati menangis keras.”Non Alika…Non Alika…”Jeritnya sambil mengusap darah yang membasahi wajah Alika. Momongannya tetap diam. 

Elsa dan Anton turun dari mobil, dan berlari menuju kearah Muryati. Keduanya terkesiap saat mengetahui siapa yang ditabraknya. Dia adalah Alika. Anak perempuannya sendiri!

gambar diambil dari pinsdaddy.com

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken