Lintrik Bag 2




Rusmini selalu ketakutan tiap melihat suaminya pulang kerumah mereka. Sikapnya tak pernah benar dimata suaminya. Ada saja yang membuat darah suaminya mendidih. Parlan selalu marah-marah dan semakin ringan tangan terhadapnya. Kata-katanya semakin tak terkendali bukan hanya pada dirinya tapi pada Raka juga. Parlan memarahinya ketika pesawat kertasnya jatuh dikepalanya. Ia menjadi beringas melihat Raka. 


 “Dasar anak setan! Sini kamu!!” Tangan besar Parlan hendak memukul Raka. Untung saja Rusmini melihat,sehingga dia bisa melindungi tubuh kecil anaknya, yang menggigil ketakutan Dan merelakan punggungnya di pukul suaminya.

Tahu Rusmini melindungi anaknya. Emosi Parlan meningkat. Dengan enteng kakinya menendang tubuh Rusmini, perempuan itu terjerembab ke lantai. Melihat itu. Raka menangis. Tangannya yang mungil mencoba membangunkan ibunya yang tergeletak pingsan.

“Huhuuuuuuu…bapak jahat. Bapak jahat…raka benci bapak” Kata Raka. Parlan bergeming. Dia tak peduli. Malah pergi ke kamar dan tidur.

Melihat ibunya masih tergolek dilantai, Raka pergi ke dapur, dan mengambil segelas air, lantas air itu diusap-usapkan ke wajah sang ibu. “Bangun bu….bangun….”katanya sambil terisak.
Tak lama kemudian, pelan-pelan mata Rusmini terbuka. Dia mencoba bangun meski tulang rusuknya sakit.

“Kamu nggak apa-apa kan nak?” tanyanya mengusap airmata Raka. Rusmini sangat khawatir, suaminya memukul Raka.

“Ibu….kita kerumah nenek ya. Raka takut sama bapak…” ucap Raka memeluk ibunya. Perempuan itu tersenyum, perih. “Iya, nak. Nanti…..”
“Tapi…..bu, Raka takut sama bapak. Bapak jahat. Raka nggak suka sama bapak.” Kata anaknya sesenggukan.

“Iya….Ibu ngerti, maafkan bapakmu le,bapakmu sedang banyak masalah…” suara Rusmini kurang meyakinkan. Ia juga tak tahu kenapa sikap suaminya berubah drastic,. Ia selalu bertanya-tanya saat suaminya bilang tak betah diam dirumah, padahal seingatnya dia tak pernah berlaku macam-macam. Ia selalu melayani suaminya dengan cinta. Mereka juga hampir tak pernah bertengkar. Memikirkannya, kepalanya menjadi pusing. Ia beristirahat sejenak di kamar Raka. Ditemani anak lanangnya. Matanya menerawang menatap langit-langit.

Setelah badannya dirasa enakan. Rusmini mengajak Raka pergi kepasar. Disana ia dapat membuka toko kelontongnya, sekalian menghibur dirinya.

***
“Mungkin, Kang Parlan memiliki wanita lain Rus.” Kata Yu Sasmi sewaktu ia mampir ke tokonya. Rusmini tak menjawab. Dia masih mencari tahu kenapa suaminya berubah.

“Aku tidak tahu Yu. Selama ini perkawinan kami baik-baik saja. Aku juga melayaninya dengan baik, Tak mungkin Kang Parlan memiliki wanita lain. Dia sangat setia Yu…” elak Rusmini pelan. Sambil tangannya merapikan minuman diatas rak. Hanya pada Yu Sasmilah ia bisa menceritakan semuanya.

“Halah….kamu itu lho, jangan polos begitu. Hari gini, sangat jarang lelaki yang setia. Jangankan seperti kita, artis saja yang sudah terkenal, dan kaya raya masih saja kawin cerai. Apa kamu tak perhatikan, sebagian besar mereka bercerai gara-gara pihak ketiga.” Kata Yu Sasmi antusias. Bibirnya yang tebal sampai sengaja dia monyongkan ke depan. Rusmini melongo, memandang Yu Sasmi. Meskipun usianya menjelang 45 tahun. Yu Sasmi masih seksi. Rusmini iri dengan kemolekan tubuhnya yang selalu dibalut pakaian seksi. Yu Sasmi memang rajin merawat tubuhnya. Selain rajin fitness, Yu Sasmi juga pandai merias diri. Tubuhnya juga wangi. Tidak seperti dirinya yang bau keringet, kecut dan apek!

 “Rus, aku mau tanya…..Kalau seandainya Parlan punya perempuan lain. Reaksimu gimana?” tanya perempuan itu, sambil mengelilingi tokonya.

Rusmini mengernyitkan alisnya. Dia heran dengan pertanyaan Yu Sasmi.

Embuh Yu….” Jawabnya jengah. Ia tak pernah memikirkan masalah itu.

“Tenang….kalau seandainya Parlan nekad selingkuh. Aku nanti akan membantumu….” kemudian dia membisiki sesuatu ke telinga Rusmini. Rusmini mengangguk-angguk. 

Setelah kepergian Yu Sasmi, Mba Paikuk datang menawarkan jamu gendong. Rusmini memesan segelas jamu kunyit asem. Dia sangat menyukai jamu buatan Mba Paikuk. 

“Lho….Raka juga ikut, sini le…” mba Paikuk memberikan segelas gratis jamu beras kencur padanya. Anak itu melihat kearah ibunya, setelah ibunya mengangguk, barulah anak itu mau mengambil dan meminumnya.

“Tumben Raka diajak,biasanya sama bapaknya….kemana Kang Parlan. Sudah lama dia tidak membeli jamu sama saya mba….? kata Mba Paikuk sambil mengipasi wajahnya dengan selendangnya. Cuaca hari ini memang panas sekali. 

“Lagi keliling mba, nagih uang sewa kontrakan….” Jawab Rusmini sekenanya. Mereka memang memiliki rumah kontrakan. Mba Paikuk termasuk salah satu penyewanya.

“Ooooooo……? Saya kira lagi liburan. Soalnya Kang parlan sering banget update status jalan-jalan keluar kota. Dia mengambil ponsel dari dalam tas pinggangnya. “Terus lengan kiri mba Rus itu kenapa?” tanya mba Paikuk menyelidik. Matanya menatap nanar lengan Rusmini yang lebam.

Rusmini melihat lengan kirinya yang lebam, habis kena pukul Kang Parlan, dua hari lalu.  Dia baru sadar, kepasar masih memakai baju daster lengan pendek. Tadi dia lupa mengganti baju. “Kepleset di dapur kemarin.” Lalu dia bertanya “darimana Mba Paikuk tahu suami saya jalan-jalan, orang dia dirumah terus kok mba…..?”

“Lah…dari efbe to mba. Begini-gini saya kan gaul juga mba, sekalian mempromosikan jamu gendong di media social. Mba Rus apa nggak punya, biar sekalian saya tambahkan pertemanan”

Rusmini menggeleng. Dia memang ndeso, nggak ngerti apa-apa. Ibu-ibu dipengajian dan arisan sudah membawa ponsel layar sentuh. Ponsel miliknya masih hape jadul yang sudah terkelupas kulit luarnya. Layarnya juga sudah buram, saking jadulnya. Bukan karena dia nggak mampu beli, tapi dia memang gaptek. Daripada ribet makenya, dia tetep pake ponsel lamanya. Meskipun jatuh di jalan, nggak ada yang mungut. Nggak laku kali.

Jadi saat mereka sibuk berselfie dan ngomongin facebook dan instagram Rusmini bisa cengo. Lah yang mau diomongin apa, nggak bakalan nyambung. 

“Oooooooo…”Mba Paikuk manggut-manggut. “Mba Rus nggak kenapa-kenapa kan….?” Dia bertanya lagi, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rusmini. 

“Iya…..saya baik-baik saja kok mba, Memangnya kenapa….?” Kata Rusmini sambil melayani pembeli.

“Maaf yo mba…..saat mau kesini tadi, aku mendengar ada ibu-ibu yang bergosip, kalau mba Rus sering dipukul Kang Parlan karena nggak mau dimadu. Apa bener Kang Parlan selingkuh…….saya kok ora percoyo. Mangkanya saya lebih baik nanya sama mba langsung…? Tanpa tending aling-aling, Mba Paikuk nyerocos, membuat hati Rusmini semakin ngilu. Dia berusaha menenangkan dirinya.

“Ah….gosip murahan itu mba…..nggak usah didengerin” Rusmini menutupi kegalauan hatinya. “Mba Paikuk nggak keliling? Masih banyak tuh jamunya…..” Dia ingin cepat-cepat menutup tokonya. Dan pulang lebih awal.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken