Lintrik Bag 3



Saat Kang Parlan mandi, Rusmini menemukan noda lipstick dan rambut panjang di kemeja biru suaminya. Ia tahu itu bukan rambutnya. Kemudian Rusmini mengambil ponsel suaminya yang letakkan diatas meja. Sialan! Rutuknya geram. Ponsel itu terkunci dan dia tidak tahu sama sekali apa sandinya. 


Kecurigaan Rusmini mulai besar, Parlan memiliki wanita lain seperti desas desus yang ia dengar dipasar, ditambah lagi cerita Mba Paikuk tentang liburan suaminya ke luar kota. Otaknya mulai bermain. Untuk bertanya langsung….itu tak mungkin. Ia tahu sifat suaminya. Sehingga dia harus mencari bukti.

Parlan memang sudah mengabaikan dirinya dan anaknya. Selain jarang pulang kerumah, ia juga tak dinafkahi. Kemana semua uang kontrakan? Ia tak mungkin selalu mengambil uang toko untuk membayar semua kebutuhan mereka termasuk dua cicilan motor. Bila dibiarkan, lama-lama modal tokonya bakal habis.

Perempuan itu mendesah. Telinganya mendengar pintu kamar mandi terbuka. Cepat-ce
pat ia meletakkan kembali ponsel suaminya. Dan segera ke dapur. Pura-pura sibuk disana.
“Russ!! Mana surat-surat tanah dan rumah! Teriaknya keras dari dalam kamar.

Rusmini segera mendatanginya dan melihat kamarnya berantakan. Semua isi lemari berserakan dilantai.

“Aku tidak tahu Kang…bukankah kamu yang menyimpan semuanya” mata Rusmini melirik dipan disebalahnya.

Lelaki itu menyeringai. Dan mengambil krah baju istrinya. “Jangan bohong kamu Russ!! Cepat berikan kepadaku….!! Dengan mata merah menyala. 

Rusmini tetap teguh. “Sungguh, aku tidak tahu Kang….mungkin kamu lupa meletakkannya…” Dia tak mau gegabah memberikan surat surat penting itu ketangan suaminya.
“Cepat berikan…..kalau tidak, kamu bakal menyesal!! Lelaki itu mulai mengancam istrinya.
Dia tak boleh lemah. Dengan berani Rusmini menatap mata suaminya.

“Aku tidak tahu Kang…..lagipula untuk apa surat-surat itu.”

“Haishhhh….perempuan tak usah banyak tanya! Ayo….mana Rus! Dimana kamu sembunyikan surat surat itu, Heh!!!!” Parlan semakin agresif mencari. Ia mencari disemua lemari dan laci. Namun apa yang dicarinya tak ketemu. Wajah lelaki itu semakin merah. Dadanya naik turun menahan emosi. Rusmini tetap diam ditempatnya. Kemudian tangan lelaki itu mengangkat kasur, dan…..surat-surat itu ada disana. Parlan tersenyum penuh kemenangan. Dia mengambilnya dan tersenyum sinis pada istrinya. “Dasar perempuan dungu! Kamu berniat membohongiku. Rasakan ini…..!! 

PLAKKKKKKKKK

Badan Rusmini oleng. “Surat itu jangan di bawa Kang….” Dia bermaksud merebut map merah ditangan Parlan. 

Namun Parlan jauh lebih kuat. Rusmini hanya bisa menangis tergugu melihat Parlan pergi membawa surat-surat berharga mereka.

***
“Gawat Yu…..Kang Parlan semakin beringas” Pagi-pagi Rusmini, dengan wajah kebingungan pergi ke rumah Yu Sasmi. Kemudian dia menceritakan semuanya. Tanpa sepengetahuannya. Parlan mengambil kotak perhiasan miliknya dan menguras habis tabungan mereka di bank. Ia baru tahu kemarin saat akan mengambil uang di ATM.

“Parlan kena lintrik, Rus” 

Kata-kata Yu Sasmi mengagetkan Rusmini. “Listrik? Kok aneh…kesetrum bisa membuat lelaki lupa anak dan istri.” perempuan itu masih belum mengerti apa yang dimaksud Yu Sasmi.
Yu Sasmi tertawa terbahak-bahak.”Bukan listrik….tapi lintrik….itu ilmu pelet Rus. Makanya sekali-kali gaul. Masak sibuk terus dipasar. Sampai tidak tahu perubahan suaminya. Kalau sudah begini, baru kamu kebingungan.” Kata Yu Sasmi pedas. 

Rusmini menunduk. Yu Sasmi tak salah. Ia memang sibuk mengurus toko kelontongnya dipasar. 

“Jadi aku harus bagaimana,Yu…..?” Pikiran Rusmini buntu, ia tak tahu harus berbuat apa-apa untuk menyadarkan suaminya.

“Kamu nggak usah khawatir, kamu sudah kuanggap adikku. Aku akan membantumu. Nanti kamu kuajak ke tempat dukun sakti di desa sebelah, jangan lupa membawa foto dan barang pribadi suamimu.” 

Rusmini mengangguk-angguk
“Maaf…Yu…apa bayarannya mahal.” Rusmini ingat di dompetnya tinggal 100 ribu.
“Santai saja, kamu nggak usah mikir soal itu….” Kata Yu Sasmi melegakan hatinya.

Rusmini tidak membuka tokonya. Setelah menjemput Raka di sekolah. Dia menitipkannya di rumah Mba Paikuk, yang kebetulan juga libur. Sedangkan dia dan Yu Sasmi pergi kerumah Mbah Saerah, dukun yang diceritakan Yu Sasmi.

Mbah Saerah menyambutnya ramah. Dan dia terkejut saat Mbah Saerah sudah mengetahui maksud kedatangannya. Kemudian dia mengajak Rusmini  kedalam kamar berukuran 3 X 3 meter. Kamarnya pengap, tak ada ventilasi. Disitu hanya ada lampu lima watt dan bau kemenyan keras menusuk hidungn Rusmini.

Rusmini menurut saat disuruh duduk di depan Mbah Saerah, yang komat kamit merapalkan mantra. Bau kemenyan membuat kepala Rusmini pusing.

Kemudian Mbah Saerah, memberinya bungkusan kecil.”Setiap subuh dan setelah magrib, Kamu bakar ini.” 

“Inggih mbah…..” jawab Rusmini. Matanya berkilauan. Ada secercah harapan.

***
Kemenyan sudah lama habis dibakar sesuai petunjuk Mbah Saerah. Namun tak ada perubahan pada diri suaminya.Bukannya membaik, sikapnya malah parah. Pulang-pulang, hanya minta uang padanya. Bila  tak dikasih, maka pukulan akan mendarat ditubuhnya.

Hidup Rusmini seperti dineraka. Dia sangat tertekan dirumahnya. Parlan sering mengusirnya pergi. Namun…ia masih disana, dia masih berpikir waras, dimana dia akan tinggal nanti. Sedangkan dia hanya perantauan.

Rusmini tak lagi memperhatikan  penampilannya. Wajahnya kusut, ada lingkaran hitam di matanya, sebab dia jarang bisa tidur nyenyak.Tubuhnyapun semakin kurus.


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken