Lintrik Bag 4



Rusmini terbangun karena bermimpi tubuhnya terbakar. Dan terkejut ketika mendapati Raka, demam tinggi. Anak lanangnya sampai mengigau.”Ayah jahat..ayah jahat!” Rusmini segera berlari kedapur, mengambil air hangat untuk mengompres tubuh anaknya. Sampai menjelang subuh, panas Raka tak kunjung turun. Ia juga beberapa kali muntah-muntah. Sendirian, dan anak sakit, membuat ketegaran Rusmini jebol. Ia menangis sambil membersihkan muntahan anaknya di lantai. 


“Ibu….jangan menangis, Raka tidak apa-apa” kata anaknya lirih.
“Ibu nggak apa-apa le…kamu tidur dulu ya nak, sebentar lagi kita ke dokter.”
Anaknya muntah lagi. Keadaannya semakin payah. Rusmini panic. Ia menelpon suaminya, namun tidak tersambung. Sepertinya dia sudah berganti nomor.

Aku bisa mengatasi ini. Rusmini menghapus airmatanya. Dan segera membawa anaknya ke Rumah Sakit. Dengan membawa tabungan ayam milik Raka.

“Sakit apa anak saya Dok?” tanya Rusmini was was. Wajah anaknya sangat pucat dan lemas.
“Kami harus observasi dulu bu, dan anak ibu harus opname.”

“Opnaaaameeee…….” Rusmini bertambah gugup saat mendengar kata opname. Dia terduduk lunglai dilantai. Bingung memikirkan darimana dia akan mendapatkan biaya Rumah Sakit nanti.

“Raka tidak ingin dirumah sakit, Raka mau pulang….” Tangis Raka tertahan. Sepertinya ia mengerti kesedihan ibunya.

“Biar dokter sembuhin sakit Raka dulu ya sayang….” Rusmini mengelus kepala anaknya.
“Tapi….darimana ibu dapat uang” suara Raka melas, mengoyak hati Rusmini.

“Ibu ada rezeki nak, Raka tenang saja.” Rusmini mengelus tangan anaknya yang di infus. Saat ini pikirannya terfokus pada Raka. Dihadapan Raka dia tak boleh bersedih.

Setelah mengurus administrasi, Raka dipindahkan ke kamar kelas 3 bersama 20 orang pasien lainnya. Rusmini lega, melihat anaknya tertidur pulas. Dan panasnya mulai turun. Dia duduk di lorong Rumah Sakit, perutnya perih menahan lapar. Uang di dompetnya masih 50 ribu rupiah.

“Rus…..gimana Raka?”
Seseorang menepuk punggungnya. Tenyata Yu Sasmi, Rusmini langsung memeluk perempuan itu. Dia membawakan makanan dan memberinya uang. Rusmini terharu.
“Makasih Yu” katanya terbata-bata. Kedatangan Yu Sasmi sedikit menghibur kesedihan hatinya. Apalagi dia menawarkan diri membawakan baju untuknya dan Raka. Dari kemarin ia tak berganti pakaian. Baju yang dia pakai sekarang, baunya tak karuan terkena muntahan Raka.

“Apa Parlan sudah tahu soal Raka, Rus?” Suara Yu Sasmi terdengar begitu menawan. Rusmini menggeleng. Dia tak tahu dimana Parlan. Dia juga tak tahu siapa kawan dekatnya atau tempat nongkrong suaminya. Rusmini benar-benar buta soal suaminya. Lalu perempuan itu menghembuskan nafas berat, dan mencoba tersenyum meskipun hatinya pahit.

Mereka mengobrol sebentar. Lalu Yu Sasmi pamit dan berjanji sore nanti akan kembali. Tak berapa lama kemudian, Mba Paikuk datang bersama suaminya. Hatinya nelangsa saat melihat penampilan Rusmini. Dengan berpakaian daster yang sudah hilang warnanya, sandalnyapun berbeda warna. Terlihat sangat menyedihkan. Katanya semalam ia terburu-buru sampai salah memakai sandal.

“Mba…..aku tadi ketemu Kang Parlan dirumah kalian yang baru.”
Rusmini menelengkan kepalanya. “Dimana…dia”katanya dengan suara tercekat. Dia harus mencarinya.
Mba Paikuk kemudian memberinya sebuah alamat. Rusmini mengingatnya.

***
Kesehatan Raka sudah mulai membaik, wajahnyapun tampak segar, dia juga mulai makan. Rusmini lega melihat kondisi anaknya. Yu Sasmi ternyata tak datang. Rusmini mulai tak nyaman dengan pakaian yang dipakainya. 

“Nak….apa boleh, ibu pulang sebentar. Ibu mau mengambil baju kita. Lihat baju ibu kotor….”
“Ouf…..bau Raka juga acem…..” anak lelakinya tertawa. Dan memperbolehkan Ibunya pulang. “Cepat kesini lagi ya bu, Raka takut sendirian….” Rusmini mengangguk dan mengecup kening anak lanangnya.

Rusmini langsung menuju Yu Sasmi, untuk mengambil kunci rumahnya. Tak ada orang dirumahnya. Rusmini menelponnya dan dia bilang bahwa dia sedang keluar kota untuk keperluan mendadak. Dengan kesal Rusmini mengelilingi rumahnya, siapa tahu dia lupa mengunci jendela atau pintu. Semua pintu dan jendela terkunci. 

Di depan rumahnya, Rusmini tercengang melihat bungkusan hitam plastik. Seingatnya tiga hari yang lalu dia tidak menaruh sesuatu disitu.Kemudian dia bertanya pada Wak Manis, yang rumahnya pas didepan rumahnya. Mungkin dia tahu apakah suaminya datang. Sayangnya perempuan tua itu tak tahu apa-apa. Rusmini kembali kerumahnya, saat itulah dia bertemu dengan Pak Burhan, ketua RT disana yang baru pulang dari mengajar. Dia juga guru anaknya.
“Raka kemana Bu Rus, beberapa hari ini tak sekolah….” Sapanya ramah.

“Burhan dirumah sakit, Pak. Sudah tiga hari ini dia opname”
“Masyaallah!, Sakit apa dia Rus, bagaimana keadaannya sekarang.”

“Alhamdulillah sudah mulai membaik pak. Mungkin satu atau dua hari lagi boleh pulang.”
“Syukurlah kalau begitu. Maaf, Bu Russ kelihatan bingung. Apa lupa membawa kunci rumah?”
“Iya Pak….kuncinya kemarin saya titipkan Yu Sasmi, eh sekarang malah orangnya tak ada. Saya juga tak tahu siapa yang meletakkan bungkusan plastic hitam ini. Tadi mau saya buka, takut isinya ada bomnya….” Jawab Rusmini polos. Pikirannya sudah terkontaminasi oleh maraknya berita bom bunuh diri di televisi.

Mendengar penuturan Rusmini, Pak Burhan hanya tertawa saja. Lelaki itu kemudian membuka ikatan plastic. “Isinya baju-baju dan juga buku……”Burhan tak melanjutkan kalimatnya. Dia menatap kasihan perempuan didepannya itu. Sudah lama dia mendengar desas-desus tentang Parlan.

Rusmini curiga, dia langsung melihat isi bungkusan itu. Didalamnya ada baju miliknya dan anaknya juga buku sekolah anaknya. 

Airmatanya seketika meleleh.”Apa yang harus saya lakukan sekarang Pak….” Hatinya begitu hancur, saat mengetahui Parlan sudah mengusirnya dari rumahnya sendiri. Dia tak menyangka suaminya akan sekejam itu pada dirinya dan Raka.
“Sabar, bu, serahkan semua sama Allah. Untuk sementara, ibu boleh tinggal di tempat kami. Di rumah masih ada kamar kosong.”

Pikiran Rusmini kosong, airmatanya jatuh semakin deras. Burhan semakin tak tega melihatnya,  teringat dengan istri dan anaknya.

“Terimakasih Pak, tapi saya tidak mau merepotkan bapak.”Rusmini menyusut airmatanya dengan punggung tangannya. 

Aku harus kuat, aku bisa hadapi ini. Rusmini menegarkan hatinya.
“Bu Rus…mau kemana, biar saya bantu bawakan, atau biar barang-barang ini dititipkan dulu dirumah” Burhan menawarkan diri.

Rusmini menggeleng. “Saya akan bawa barang ini ke toko saya pak.” Ide itu tiba-tiba muncul dikepalanya. Hanya tempat itu, harapan satu-satunya.

Dengan bantuan Burhan, Rusmini menaikkan bungkusan plastic besar itu ke atas motornya.
Sepanjang perjalanan, airmata masih menggenang di matanya. Dia merasa nelangsa. dan linglung. Sendirian, anak dirumah sakit, tak punya uang dan diusir suami pula. Hidupnya berada dititik nadir.

Kemudian dia mendengar suara adzan dhuhur, suaranya merdu sekali, menyelinap ke dalam sanubarinya. Tanpa sadar, Rusmini membelokkan motornya ke masjid. Di situ dia membasuh dirinya, mengganti pakaiannya dan ikut sholat berjamaah.

Di dalam sujudnya perempuan itu terus menangis, memohon ampun karena tidak melibatkan Allah dalam hidupnya. Di situ dia benar-benar pasrah. 

Lama Rusmini bersimpuh melafalkan doa yang dia ingat. Matanya bengkak karena kebanyakan menangis. Setelah berdoa, Rusmini sedikit tenang. Otaknya bisa diajak kembali berpikir. Dia lalu melipat mukena yang dipakainya dan menaruhnya kembali ke rak.

Seorang ibu-ibu berperawakan kurus, menyapanya dengan santun. Kemudian dia memberikan sebuah amplop coklat padanya.

“Terimalah, nak….ini sedekah ibu.” 

Deg……

Rusmini hanya bisa melongo, dan hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih. Setelah ibu tua itu pergi. Rusmini membuka amplop itu

“Subhanallah……” Rusmini langsung sujud syukur. Di dalamnya ada uang tiga juta rupiah!
















Comments

Post a Comment

Tulisan Beken