My Sweet Plump Girl Bag 2




Saat jam istirahat, Rulli dan Rasta seperti biasa istirahat diwarung kopi tak jauh dari rumah Wak Hamid. Kemudian mereka melihat Nunung baru turun dari angkot, dengan membawa barang belanjaannya. Saat melihat Rulli dan Rasta,Nunung melempar senyum pada mereka berdua. Yang disambut dengan senyuman hangat oleh Rulli


“Ck…ck…ck”

“Lihat sob, seksi banget Nunung.” Rulli berdecak kagum dengan penampilan Nunung. Yang hari itu memakai dress bunga-bunga. Dia tak bisa menyembunyikan kilau dimatanya.

Rasta hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah Rulli. Dia sangat mengkhawatirkan. Tingkah laku sohibnya.Jangan-jangan ada sarafnya yang rusak sewaktu terkena pukulan Nunung. Rasta membathin. 

“Cuci muka sono, Rul” Rasta menjadi bĂȘte sendiri. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Rulli mengatakan Nunung gadis seksi. Halah! Seksi dari Hongkong. Ah! Pasti matanya ketutup aspal.

Wajah Nunung memang nggak kalah cantik dengan Raisa, Bisa dibilang 11 12 lah. Namun sayang ketutup sama berat badannya yang diatas rata-rata. Sehingga membuat laki-laki berpikir ulang untuk berkencan dengannya. Tetapi Rulli beda, sohibnya malah memuja Nunung. Rasta jadi bĂȘte.

“Elu tuh, yang kudu cuci mata, masak gadis secantik dan seseksi Nunung kamu nggak bisa lihat. Dia salah satu berlian terindah didunia ini bro…….”
Rasta cuma bisa bengong.

“Jiaaahhhhhhh…..berlian kelindas truk kali.”Rasta tertawa terbahak-bahak. Dia semakin yakin ada sesuatu yang salah sama otak sahabatnya itu. 

“Yang cantik itu Ajeng. Selain cantik bodynya juga oke, nggak kayak si Nunung itu. Hih…..pacaran sama dia, bakalan boros sob. Makin kurus lu nanti” Kata Rasta panjang lebar.
“Lu yang salah, justru pacaran dengan cewek chubby itu enak, lu nggak bakalan kelaparan, dia oke aja diajak kuliner.Nggak sok jaim gitu. Dipeluk juga berasa……” Rulli tersenyum penuh arti. Dia sudah kadung jatuh cinta pada pandangan pertama. Masa bodo dah dengan apa yang orang bilang.

Rasta tersenyum manyun. Melirik sahabatnya yang sedang bersenandung lagu terpesona milik Glen Fredly. 

Terpesona ku pada pandangan pertama
Dan tak kuasa tuk menahan rinduku
Senyumanmu selalu menghiasi mimpiku
Ingin kupeluk dan kukecup keningmu...oh indahnya.

***

Sejak sore, Rulli heboh. Dia mencari-cari Mas Sapto, teman satu kostnya untuk mencukur rambutnya. Mas Sapto, selain menjadi sales baju keliling. Dia juga memiliki keahlian mencukur rambut. Untuk menggaet pelanggan, dia bahkan memberikan cukur rambut gratis buat anak-anak. Makanya, ibu-ibu pada suka dengannya. Termasuk Rulli dan kawan-kawannya.

“Kamu mau kemana sih, Rul, tumben amat minta cukur dadakan gini?” Tanya Mas Sapto heran, melihat Rulli yang duduk di depan kamarnya dengan membawa gunting dan sisir.
Yang ditanya hanya cengengesan.”Ayo....cepetan mas, biar nggak keburu magrib.”

Mas Sapto mengangkat kedua bahunya. Lelaki setengah baya itu tersenyum. Melihat dari gelagatnya, sepertinya dia tahu. Rulli sedang jatuh cinta. Tanpa banyak kata, mas Sapto segera mengambil gunting dan sisir ditangan Rulli. Tangannya sangat cekatan menggunting rambut Rulli. Dan sudah selesai dalam hitungan menit. Rulli tersenyum puas, melihat hasilnya di cermin.

“Siapa gadis yang beruntung mendapat cintamu, Rul?” Sapto tahu selama ini Rulli belum menemukan tambatan hati, meskipun banyak anak garmen yang menyukainya, termasuk Ajeng. Anak ibu kost mereka. Itu sudah menjadi rahasia umum. Ajeng sering datang ke tempat kost mereka, hanya untuk bertemu dengan Rulli. Sayangnya Rulli seperti mengabaikannya.

“Cucu Wak Hamid, Mas” Sahut Rasta yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.”Mata Rulli telah dibutakan oleh cinta” timpalnya nyinyir.

Yang disambut senyuman oleh Mas Sapto. Meskipun dia tidak kenal langsung. Tapi dia mengetahuinya, karena Wak Hamid juga salah satu pelanggannya. Dia suka membeli daster darinya. Kemarin malah dia memborong daster untuk diberikan pada cucunya, Nunung. Malah Nunung sempat membuatkannya kopi dan pisang goreng.

“Ooooo, maksudmu, Nunung....hmm...kopi buatannya top.” Sapto mesem, melirik Rasta yang nyata kaget. Tak menyangka dengan jawaban Mas Sapto.

“Apa mas Sapto pernah bertemu dengannya? Tanya Rasta tak suka.

Sapto menggangguk. Disebelahnya Rulli tersipu. Cintanya kian membuncah. Dia ingin segera menyatakan cintanya pada Nunung. “Makasih, mas” Kemudian lelaki itu berdiri, dam bergegas menuju kamarnya.

“Lho…Rul, lu mau kemana?” Rasta mengejar Rulli. “Kita nobar,yuk” ajaknya.
“Maaf sob, gue sudah ada rencana”

“Please, lu jangan bilang mo ngapelin Nunung…..”selidiknya curiga.

Rulli menepuk bahunya. “Sorry gue buru-buru”jawabnya, sambil menutup pintu kamar mandi, dan tak lama kemudian terdengar bunyi guyuran air.

Rasta menghentakkan kakinya kelantai. Dia menjadi galau menghabiskan malam minggu sendiri. Dan pergi hati kesal.

Setelah Rulli berdandan rapi..dia segera menstarter motornya menuju rumah Wak Hamid. Sepanjang perjalanan senyum tak lepas dari bibirnya. Hatinya berbunga-bunga membayangkan Nunung berada disampingnya.

Namun……

Senyumnya hilang, setelah tiba dirumah Wak Hamid. Disana dia melihat motor Rasta terparkir cantik dihalaman. Hasratnya langsung surut.

Dengan berat hati, Rulli membelokkan motornya, pulang. Percuma juga dia ikut nimbrung disana. Tapi keburu dilihat oleh Nunung. Gadis itu berjalan kearahnya.“Rulli…..mau kemana? Masuk yuk, ada Rasta didalam” ajaknya hangat.

Rulli tersenyum kecut dan menolaknya halus.”Lain kali aja yach, Aku sedang ada urusan mendadak….”

Mata Nunung kecewa. “Eh…..sebentar” Gadis itu memintanya menunggu dan masuk kedalam rumahnya. Tak berapa lama kemudian, dia membawa tas plastic dan memberikannya pada Rulli. “Buat camilan dirumah….”katanya dengan senyumnya yang khas.
Rulli mengucapkan terimakasih,”Aku pergi ya….tolong sampaikan salam buat Wak Hamid”











Comments

Post a Comment

Tulisan Beken