My Sweet Plump Girl Bag 5




“Nek! Kenapa tidak memberitahu Nunung, kalau Rulli yang menyewa toko kita!” Nunung tak dapat menyembunyikan kekesalannya.

Wak Hamid hanya tersenyum. “Nenek, sudah menawarinya sejak lama, sebelum kamu memutuskan tinggal disini. Dia anak yang baik, dan suka membantu nenek, tanpa diminta.”


“Tapi, nek…..” Nunung mau memprotes, tetapi nenek sudah memberikan isyarat bahwa keputusanya tak bisa dirubah. “Ugh!!!!!!” Nunung pergi mengambil sapu dan berencana menyapu halaman. 

Tetapi dia terkejut, halamannya sudah bersih. Kinclong! Tanamannya juga habis disiram. Emosi Nunung naik. Dia menoleh ke toko, dimana Rulli tinggal, pintunya terbuka, dan sepertinya dia sedang sibuk beberes.

Nunung mengetukkan sapu dipintu Toko. Rulli tak mendengarnya, karena telinganya terpasang earphone. Gadis itu geregetan. Dengan kasar, tangannya menarik earphone yang terpasang ditelinga Rulli. 

Cowok itu terkejut, dan ganti marah.” Ssshhh….kenapa sih, ganggu kesenangan orang” kata Rulli jutek. Dia memasang earphonenya lagi. Tanpa bertanya maksud kedatangan Nunung.
Nunung mendelik, dan berkacak pinggang didepan Rulli.”bisa kita bicara sebentar.Aku ada perlu denganmu!

Rulli melepaskan earphone, dan meletakkan ponselnya diatas meja. “Sebentar, aku buat kopi dulu, kamu mau….? Dia menyuruh gadis itu duduk di bangku panjang. Nunung patuh, diedarkannya pandangan keseluruh ruang. Sedangkan Rulli memanaskan air didapur. Toko itu memang memiliki fasilitas dapur dan toilet didalamnya. Sebab, dulunya, dipakai nenek sebagai warung nasi campur. Dulunya warung nenek terkenal, banyak pekerja yang makan disitu, karena lokasinya yang dekat dengan perkantoran.

Dan sekarang Rulli telah menyulapnya menjadi tempat tinggalnya. Untuk tempat istirahatnya dia menggunakan sekat kain, supaya ada privasi. Nunung melihatnya diam-diam. Saat Rulli pergi ketoilet. Tak ada yang istimewa disana. Hanya ada sebuah amben yang dialasi bed cover. Dan beberapa baju yang tertumpuk rapi dirak kayu bersusun tiga. Ada sebuah foto seorang perempuan setengah baya yang terbingkai indah didalamnya. 

“Itu foto ibuku….”kata Rulli tiba-tiba dibelakang Nunung.

Gadis itu terperanjat. Dia malu, menyadari kesalahannya. Lalu duduk dibangku. Diatas meja sudah tersedia dua gelas, yang satu berisi kopi dan satunya teh dan sepiring French toast. 

“Ayo cobain, aku membuatnya sendiri.” Kata Rulli, menggigit French toastnya dengan nikmat, kemudian menyeruput kopinya.

Nunung menelan ludahnya. Dia ingin sekali mencicipi, namun gengsi. Gadis itu berdiri dan bertanya dengan nada sengak. “Siapa yang memintamu menyapu dan menyiram tanaman, heh…?!!”

“Nggak ada, aku cuma ingin meringankan pekerjaanmu.” Sahut Rulli santai. Dia menyeruput kopinya lagi yang tinggal setengah.

“Alesan! Padahal kamu ingin dilihat nenek. Biar nenek makin simpati sama kamu, iya kan? Mata Nunung menantang Rulli.

Rulli tetap tenang.”Untuk apa? Aku tak butuh simpati siapapun, termasuk kamu, Jadi tolong, pergilah kalau sudah selesai bicara. Aku akan siap-siap berangkat kerja.”

Nunung mati kutu! dia langsung melangkahkan kakinya keluar, tanpa pamit. Rulli mengawasinya dari belakang. Setelah Nunung masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu berdiri bersandar pada tembok. Dia membuang nafas pelan-pelan. Menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Berdekatan dengan Nunung, membuatnya hilang akal. 

Setelah rapi, Rulli berangkat kerja dan menyempatkan pamit kepada Wak Hamid sambil membawakan dia French toast. 

Nunung melihatnya tak suka, dari dalam kamarnya.

***
Rulli menjual motornya untuk modal usaha dan kursus membuat roti. Dan membeli sepeda gunung sebagai alat transportasinya sehari-hari. Dia juga sudah bertemu dan berbicara dengan Pak Rahmat, kepala satpam ditempatnya bekerja supaya dia bisa masuk malam terus. Karena paginya harus mengurus warung kopi miliknya. Pak Rahmat setuju. Dengan catatan, warung kopi Rulli harus berkembang dalam waktu 3 bulan. Rulli menyanggupinya.

Cowok itu bekerja sangat keras. Tak ada lagi waktu untuk bersantai. Waktunya benar-benar dia manfaatkan sebaik mungkin. Fikirannya terfokus pada pekerjaan, sampai tak memikirkan lagi soal Rasta dan sikap Nunung yang dingin padanya.

Ajeng dan mas Sapto suka mengunjunginya, mereka adalah pelanggan pertamanya.

“Jangan terlalu ngoyo, Rul….kamu harus bersenang-senang, nikmati hidup” kata mas Sapto suatu hari, saat melihat wajah Rulli yang terlihat pucat. Ajeng mengamini.

Rulli tersenyum tipis. Beberapa hari ini dia memang kurang tidur. Dan sibuk berkutat didapur, untuk menciptakan rasa roti yang pas, untuk teman kopi. Tenggat waktu yang diberikan Pak Rahmat tinggal 1 bulan. Sedangkan warung kopinya belum mendapatkan banyak pelanggan, membuat Rulli stress.

Rulli melirik jam dinding, dan bergegas pergi ke dapur, membuka oven. Dan mengelurkan roti hasil percobaannya yang ke 9, sudah matang sempurna. Aroma kopi menyeruak memenuhi ruangan, membuat mas Sapto dan Ajeng kepincut ingin melihat.

“Elu buat apa Rul, baunya enak sekali” Ajeng mendekat ke meja dapur, dimana Rulli meletakkan roti bun yang baru dibuatnya. 

“Tunggu diluar, oke? Kata Rulli risih, sambil mengaduk kopi. Setelah selesai dia membawa 3 roti bun keluar bersama kopi.

Mas Sapto dan Ajeng langsung mencicipinya. Mata mereka berbinar, saat menggigit roti bun yang masih hangat. Sensasi kulit roti yang crispi dan butter cream yang lembut didalamnya. Membuat mulut mereka berdecak. Kemudian mereka menyesap kopi.

“Busyettttt…..ini enak banget Rul!”puji Mas Sapto

“Iya…..gue yakin, roti ini bisa buat elu terkenal Ru. Hmm…elu buat banyak nggak Rul, Mo gue kasih ke mama dan teman-teman dikantor.” kata Ajeng antusias.

Rulli tersenyum puas dan membaginya gratis. “Buat promosi” katanya. “Kalian tunggu disini yah, aku ada urusan sebentar. Kata lelaki itu dan bergegas membungkus beberapa roti bun ke dalam kantong karton.

Sebelum itu dia mampir ke Wak Hamid, namun sayangnya dia sedang istirahat. 

“Nung….tolong berikan pada Wak Hamid.” Rulli menyerahkan roti bunnya ke tangan Nunung. 

Gadis itu mengambilnya dengan tatapan dingin. Lalu masuk ke dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Rulli hanya mendesah, dan segera mengayuh sepedanya menuju kantornya.










Comments

Post a Comment

Tulisan Beken