My Sweet Plump Girl Bag 6




Nunung berulangkali melihat ke pintu depan. Sampai Wak Hamid menaruh curiga padanya. “Kenapa kamu Nung? Apa kamu menunggu untung?

Nunung menggeleng.Hari ini, dia tak berbelanja di mas Untung. Karena persediaan sayur dan ikan masih ada di kulkas. 


“Mhmmmm….” Gadis itu tak melanjutkan pertanyaannya. Dan memilih pergi kedapur, menyiapkan nasi goreng buat sarapan mereka berdua. Wak Hamid menyusulnya.
Mereka makan dalam kesunyian, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. 

“Apa kamu sakit, Nung…?”Wak Hamid memperhatikan cucunya yang terlihat mengaduk-aduk nasi goreng dipiringnya.

“Lagi nggak lapar” sahut Nunung singkat.

Wak Hamid mengernyitkan kedua alisnya. Tidak seperti biasanya cucunya begitu. Wak Hamid membathin.”Oh ya….mulai tadi, nenek tidak melihat Rulli. Apa dia masuk pagi?”

Nunung langsung bereaksi. “Nunung juga tidak melihatnya. Dia juga tak terlihat menyapu halaman ataupun menyiram bunga.” Kata Nunung dengan nada kecewa. Meskipun dia telah melarang Rulli membantunya, tetapi lelaki itu mengabaikannya.

“Coba kamu lihat dia Nung, sekalian bawakan nasi goreng untuknya.” Perintah Wak Hamid.
Nunung menggangguk dan menyiapkan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi untuk Rulli.
Setelah merapikan ikatan rambutnya, gadis itu pergi ke Toko. Dia beberapa kali mengetuk pintu, tak ada sahutan dari dalam. Nunung mengulangi sekali lagi.

Tok…tok..tok

Nunung menunggu, dan menempelkan telinganya pada daun pintu. Dia bernafas lega, lamat-lamat terdengar suara sandal yang diseret mendekati arah pintu. Kemudian….
Ceklek…pintu terbuka, dan BRUKKKKK……..

Nunung terkejut, melihat tubuh Rulli terkulai lemas dilantai. Pingsan! Tanpa sadar, dia melempar piring yang berada ditangannya. Dia tergopoh-gopoh mencari sang nenek.
“Nenek….nenek!! Tolong Rulli nek…!!

Wak Hamid yang tidak tahu apa yang terjadi langsung mengikuti Nunung yang berlari lebih dulu ke toko Rulli dengan membawa minyak angin.

“Kenapa dia Nung…..” tanya Wak Hamid, saat melihat Rulli, yang tergeletak dilantai. Tangan keriputnya meraba kening lelaki itu. Panas! Rulli diserang demam tinggi.

Nunung berpikir keras, bagaimana memindahkan Rulli ke amben. Dia melirik sang nenek disampingnya. Tak mungkin dia meminta bantuannya. Tubuh nenek sudah renta. Lelaki itu masih pingsan. Wak Hamid berusaha menyadarkannya dengan menepuk-nepuk pipi Rulli dan mengoleskan minyak angin pada lubang hidung Rulli, supaya dia lekas sadar.

“Nung….tolong buatkan Rulli teh manis. Sekalian airnya dibanyakin, buat kompres dia nanti.” Kata Wak Hamid.

Nunung menurut, dan beringsut menuju dapur. Menjerang air. Tak lama kemudian, dia mendengar suara neneknya.

“Alhamdulillah!” seru Wak Hamid.

Nunung mendekat, dan melihat Rulli sudah sadar. Dia membantunya duduk, bersandar pada dinding.

“Mana tehnya, Nung..” tanya Wak Hamid.

“Oh….sebentar Nek…” Nunung segera membuatkan teh manis dan memberikannya pada Rulli. Wak Hamid membantu meminumkannya pada Rulli. 

“Terimakasih wak…”ucap Rulli lemah.

Wak Hamid tersenyum. “Kalau sudah kuat, biar Nunung membantumu ke amben.” Tanpa diminta dua kali. Nunung memapah Rulli ke dapur, dan mengompres kening Rulli dengan air hangat yang tadi dibuatnya.

Rulli memejamkan matanya. Dirinya terlalu lemah untuk menolak.

“Kamu disini, Nung. Biar nenek yang membuatkan bubur Rulli.”

“Tapi nek….” Nunung melihat kearah neneknya.Wak Hamid tak menghiraukan apa yang dikatakan Nunung. Dia segera melangkah keluar menuju kerumahnya.

“Pergilah….aku tak apa-apa?” Rulli melihat ketidaknyamanan pada wajah Nunung.

“Engg……enggak….aku akan tetep disini, menemanimu.” Nunung tak mau mengambil resiko dimarahi oleh sang nenek. “Istirahatlah…” katanya kemudian.

Dalam hati Rulli bertepuk tangan. Hatinya teramat senang Nunung menemaninya. Tak lama kemudian dia jatuh tertidur dengan senyum yang mengembang disudut bibirnya.Tak ada lagi keraguan dalam hatinya untuk menjadikan Nunung sebagai permaisurinya kelak.

Sembari merawat Rulli, Nunung merapikan tempat Rulli, dia mengelap dan menyapu. Gadis itu terpukau dengan kerapian Rulli. Dan penataan ruangan yang cozy. Barang-barangnya tertata rapi. Lelaki itu juga menambahkan dua set meja bundar dengan 4 kursi plastic berlengan dengan warna cerah. Dindingnya di beri kreasi gambar doodle. Kemudian ada tanaman palem yang tampak tumbuh subur, di sudut ruang.

Lalu, Wak Hamid datang dengan membawa semangkuk bubur ayam. Dia membangunkan Rulli, kemudian menyuapinya makan. Rulli menjadi terharu. Lelaki itu terisak, teringat ibunya yang telah tiada. Wak Hamid dengan sayang mengelus kepala Rulli. Tangis Rulli makin keras, dan memeluk perempuan tua itu dengan erat. Rulli seperti menemukan kembali cinta kasih seorang ibu, yang sangat dirindukannya selama ini.

Adegan dramatis itu membuat mata Nunung ikut berkabut melihatnya. Dia tak menduga, sosok Rulli ternyata sensitive. 

Terdengar bunyi motor diluar. 

Itu pasti Rasta. Nunung hafal dengan suara motornya. Nunung berjalan ke pintu dan melongokkan kepalanya. Dilihatnya Rasta sedang berdiri dengan sikap petantang petenteng. Rasta melihat Nunung, keluar dari tempat Rulli.

“Ngapain kamu disitu”kata Rasta, cemburu berat.

“Rulli sakit, dia tadi pingsan. Nenek sedang bersamanya…” jawab Nunung.

Rasta melempar senyum sinis. “Alesan! Aku tak suka kamu berada dekat dengan Rulli!”
Nunung tak mengerti. “Apa hakmu, kamu melarangku.”

“Pokoknya aku tidak suka. Titik!” jawab Rasta galak.

“Suka-sukaku, dan lagi kita tak ada hubungan. Jadi kamu tak berhak melarangku bergaul dengan siapapun.” Nunung menatap Rasta nanar. Semakin lama dia bergaul dengan Rasta, semakin dia tak suka dengan sifat asli lelaki itu. Dia begitu posesif.

“Jadi…..selama ini, hubungan kita apa?” mata Rasta berkilat.

“Sebatas teman”jawab Nunung berani. Memang selama ini tak ada hubungan special diantara mereka.

Rasta tak terima, dia langsung menarik kasar lengan Nunung. Dan memegangnya erat.

“Oooooo seperti itu rupanya, jadi kamu berpikir hubungan kita sebatas teman. Aku sering datang kesini, membawakanmu makanan, pergi ke bioskop dan jalan-jalan. Itu hanya sebatas teman??? Kejam kamu Nung…..!”

Nunung tercenung, dia mencoba mencerna kata-kata Rasta. 

“Oh…..maaf telah membuatmu salah paham.” Dan meminta Rasta melepaskan tangannya. Rasta tak menggubrisnya. Dia semakin kuat memegang tangan Nunung.

“Tolong lepaskan tangannya, Rasta! Jangan pernah memaksakan cinta. Dia tak menyintaimu.” Tiba-tiba Rulli sudah berada di antara mereka.Wajahnya masih pucat dan terlihat lemas.
“Ini buka urusanmu Rul!”bentak Rasta pada Rulli

“Nunung urusanku Ras, kamu tahu itu sejak lama.” Kata Rulli kemudian beralih ke Nunung. “Aku mencintaimu sejak lama.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rulli.

Nunung terkesiap. Pikirannya blank sesaat,

Kemudian tangan Rasta memukuli tubuh Rulli tanpa ampun. Wak Hamid menjerit histeris dari kejauhan. Barulah Nunung tersadar. Sontak, kakinya menendang tubuh Rasta. Lelaki itu tersungkur ketanah.

Nunung berlari kearah Rulli. Mengusap bibirnya yang berdarah. Kemudian memandang Rasta dengan tatapan benci.

“Aku benci kamu, Rasta!!






Comments

Post a Comment

Tulisan Beken