My Sweet Plump Girl Bag 7




Nunung membantu Rulli berdiri. Rasta melihatnya dengan muka marah. Tangannya mengibas-ngibaskan debu yang menempel dicelana jeansnya dan melihat ke sekeliling. Kemudian dia terlihat berjongkok mengambil sesuatu,tak jauh dari tempatnya berdiri. Sikapnya sangat mencurigakan.


“Nak Rulli, awas!! Pekik Wak Hamid. Saat melihat Rasta berlari kearah Nunung dan Rulli yang sedang berjalan menuju ketoko, dengan tangan menggemgam sesuatu. Namun terlambat. Tangan Rasta memukul kepala Rulli. Rulli yang dipapah Nunung, terhuyung, darah segar membasahi kaos polonya. Nunung dan Wak Hamid bersamaan menjerit. 

Kontan, Wak Hamid mengambil sapu ijuk dan mengacungkannya ke arah Rasta. “Pergi kamu!! Pergi kamu” Perempuan tua itu sangat marah pada lelaki didepannya. 

Rasta tersenyum sinis, dan meninggalkan mereka tanpa perasaan bersalah sama sekali, sebelum tetangga menyadari apa yang terjadi.

Wajah Nunung pucat pasi, melihat lengannya yang menyangga kepala Rulli berlumuran darah. Akalnya buntu. Sedang Wak Hamid, berdiri mematung disampingnya. Ia syok! Lidahnya kelu untuk sekedar meminta pertolongan.

Saat suasana genting seperti itu. Mas Sapto datang. Dan terperanjat melihat apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang, ia segera menyetop pick up yang kebetulan lewat dan segera membawa Rulli ke Rumah Sakit. “Sadar Rul!” Selama perjalanan menuju Rumah Sakit mas Sapto berusaha terus membuat Rulli sadar. Ia sangat takut, Rulli mengalami sesuatu yang buruk. 

***
Sayup-sayup telingan Rulli mendengar suara bising disekelilingnya, dia mau membuka matanya, tapi terasa berat. Lalu ia mencoba menggerakkan tangannya. Tangannyapun kaku .
Kenapa aku?

Ah…apa yang terjadi padaku?

Dia mencoba mengingat apa yang terjadi.

 “Bangun Rul” suara seseorang terdengar lembut ditelinganya. 

Dia mencoba membuka matanya, namun terhalang oleh rasa berat dikepalanya.
“Tolong bangun, Rul, jangan buat aku cemas” suara itu terdengar lagi.
Seseorang mengusap lembut lengannya. Ntah siapa dia. 

Rulli berusaha keras membuka matanya.Meskipun kepalanya terasa sangat berat.
Samar-samar ia melihat seorang perempuan muda dengan tubuh subur, duduk disampingnya. Tangan gemuknya masih mengelus tangan Rulli. Seketika Rulli menarik lengannya. Ia tampak bingung, bersama orang asing didekatnya. Dipaksakannya badannya untuk bangun.

“Kamu siapa? Rulli mencondongkan badannya kearah gadis itu.

Mendengar pertanyaan Rulli, Gadis itu menutup mulutnya.

“Aku dimana” Tanyanya sekali lagi. Matanya melihat kesekeliling, semua berwarna putih. Lelaki itu semakin bingung. Kemudian, hidungnya mencium bau obat. Apakah aku dirumah sakit

Terdengar suara pintu terbuka. Rulli menoleh, melihat dua orang masuk. Rulli memijit keningnya, siapa dia? Kenapa tak satupun dari mereka yang dikenalnya. Rulli bertanya-tanya sendiri.

“Syukurlah, kamu sudah sadar, Rul” Ucap lelaki, yang baru saja saja menggundul rambutnya.
“Kalian siapa” tanya Rulli heran. Dia semakin tak mengerti, apa yang telah terjadi dengan dirinya. 

“Aku mas Sapto Rul, ini Ajeng dan itu Nunung” Jawab Mas Sapto, sambil menunjuk Nunung yang matanya berkaca-kaca. “Apa kamu tidak ingat kami?”

Rulli menggeleng. Dengan tatapan bodoh.

Mendengar jawaban Rulli. Nunung langsung keluar kamar. Di ikuti oleh Ajeng. Sedang mas Sapto menggigit bibirnya. Pikirannya masih kacau dengan apa yang menimpa lelaki yang sudah dianggap seperti adiknya itu. 

***
Amnesia! Jawaban Dokter Fadli, mengguncang Nunung dan Ajeng. 

“Apa ingatannya dapat kembali, dok?” tanya Nunung menggebu.

“Kita observasi dulu selama beberapa hari kedepan, semoga saja amnesianya ringan.” Kata dokter Fadli setelah memeriksa keadaan Rulli.

Nunung mendesah. Ia melihat Rulli. Perasaan bersalah menyergap hatinya.

Mas Sapto dan Ajeng berbicara serius dengan Nunung. Mereka telah sepakat untuk membawa dan merawat Rulli setelah keluar dari Rumah Sakit, ke tempat kontrakan lama Rulli. Mas Sapto bersedia menampungnya. Apalagi dengan keadaanya itu, tak mungkin Rulli dapat bekerja kembali. Hal itu akan membuatnya makin frustasi.

“Maaf mas, ijinkan kami yang merawatnya. Bukannya saya tidak menghargai keputusan kalian. Tapi….Rulli begini, karena saya. Nenek juga telah menyetujuinya.” Ucap Nunung teguh.

Mas Sapto mendesah. Dia berpikir sejenak. Kemudian melihat Ajeng.”Gimana pendapatmu, Jeng?”

“Gue rasa, itu pendapat yang bagus juga, mas. Kita semua menyayangi Rulli. Dimanapun dia berada, kita akan tetap membantu memulihkan ingatannya.” Jawab Ajeng. Dia menggenggam tangan Nunung. Memberinya dukungan. Selama di Rumah Sakit, mereka berdua banyak berinteraksi. Hubungan mereka kian akrab. Ajeng mengerti sekarang, kenapa Rulli mencintai gadis itu. Dia gadis bersahaja. 

Mas Sapto mengangguk-angguk.” Baiklah…kalau begitu. Mas pun akan setuju.”

“Oh ya, apa kalian pernah bertemu dengan Rasta?” tanya Nunung tiba-tiba melihat bergantian kearah Sapto dan Ajeng.

Keduanya menggeleng. Menurut penuturan salah satu penghuni kontrakan. Rasta segera mengemasi barangnya setelah memukul Rulli. Ponselnya juga tak aktif, mungkin dia telah ganti nomor. Rasta tak terjangkau.

Nunung kecewa. Dia melemparkan pandangannya ke tanaman bougenvil didepannya. Kemudian ponselnya berdering.

“Hah, nenek di depan Rumah Sakit?” kemudian gadis itu sedikit berlari menuju loby dimana nenek menunggunya.

Tiba didepan loby, nafas Nunung ngos-ngosan. Dia sengaja tak mengajak Wak Hamid menjenguk Rulli, karena nenek masih syok dengan kejadian yang menimpa Rulli. Tetapi Wak Hamid keras kepala. 

“Nenek diantar siapa kesini? Tanya Nunung heran.

“Pake Yes-Jek….” Sahut Wak Hamid santai. Sambil menunjuk seorang lelaki yang memakai jaket orange dengan tulisan Yes-Jek didepan dan belakang punggungnya.

Mata Nunung melotot. “Ya ampun nek, ntar nenek masuk angin?”

“Tenang, nenek sudah pake banyak minyak angin.” Wak Hamid terkekeh, memperlihatkan gigi-giginya yang mulai ompong. “Keadaan Rulli, bagaimana Nung?

“Dia sudah mulai banyak makan, Nek.” Sahut Nunung riang dan mengamit lengan neneknya, membawanya ke ruangan Rulli.

Rulli sedang menonton televisi. Disana juga ada Ajeng dan mas Sapto.
“Apa kabar Nak Rulli…”tanya Wak Hamid, mengusap pipi lelaki itu.

Rulli tersenyum. Matanya berbinar melihat sosok perempuan tua didepannya. Rulli memegang jemari Wak Hamid kuat.

“Rulli sehat Wak….” 

“Nak Rulli, apa kenal Wak?” tanya Wak Hamid, harap-harap cemas.
Rulli menggangguk. Semua orang disitu terperangah. Semua tersenyum penuh kebahagiaan. Ini suatu kemajuan. 

“Oh ya, Wak membawakan makanan kesukaanmu. Sayur asem, sambel terasi dan ikan peda. Apa nak Rulli mau makan? Biar wak suapin?

Rulli mengangguk.

Wak Hamid menyuapi Rulli dengan sayang. Mereka tertawa bersama saat wak Hamid bercerita hal-hal lucu.

Nunung, Ajeng, dan mas Sapto, yakin ingatan Rulli akan kembali dengan segera.




Comments

Post a Comment

Tulisan Beken