My Sweet Plump Girl Bag 8




“Tempat ini bagus, kamu menatanya dengan sangat rapi!” Puji Rulli pada Nunung yang membawanya berkeliling di tokonya. matanya memperhatikan setiap detail barang yang ditempatkan disana.


“Bukan aku, tetapi kamu yang menatanya” sahut Nunung terkekeh. Lalu ia menyuguhkan segelas kopi dan sepiring pisang goreng hangat untuk Rulli.

“Iyakah?” kata Rulli, sambil menyeruput kopinya. Setelah itu tangannya mengambil pisang goreng. Dan dimakannya pelan-pelan pisang goreng itu, sambil otaknya mencoba mengingat-ingat. Tak satupun yang dia ingat. Dia masih merasa asing dengan tempat itu dan gadis yang selalu baik padanya itu.

Kepalanya tiba-tiba pening.

“Bolehkan aku istirahat sebentar?” Rulli lantas permisi dan merebahkan badannya diatas diatas sofa bed.

Tanpa sepengetahuan Rulli, Wak Hamid mengganti amben yang dijadikan Rulli sebagai tempat tidurnya dengan sofa bed yang dia miliki. 

Nunung mengangguk, kemudian dia kembali kerumahnya. Gadis itu masih galau memikirkan bagaimana mengembalikan ingatan Rulli. Dia mendesah pelan, dan menghempaskan badannya pada kursi malas. Mata gadis itu menerawang. Bagaimana seandainya, Rulli tak pernah ingat kembali? Ketakutan menyergap dirinya.

“Kita berdoa saja, Nung” ucap Wak Hamid tiba-tiba. Tangannya memegang pundak Nunung.
“Tapi….ini sudah hampir sebulan, Nek.” Jawab Nunung dengan mata frustasi. Tiap pagi Rulli selalu memintanya berkeliling toko dan menanyakan sesuatu yang sama padanya.

“Jangan menyerah….mungkin kamu perlu mengubah strategi. Bagaimana kalau kamu buka warung kopinya dan membuat roti, yang mirip dengan roti bun buatan Rulli. Kamu bisa kan?” Wak Hamid menantang cucunya.

“Nekkkkkk…………” Nunung lesu, mendengar tantangan neneknya.

“Nunung…nenek kangen sekali dengan roti buatannmu.Kamu punya talenta, kenapa kamu abaikan. Sudahlah, lupakan Ronald, dia bukan lelaki baik.” Kata Wak Hamid setengah emosi.
Hatinya turut sakit, ketika Ronald meninggalkan calon istrinya, yang tak lain adalah cucu kesayangannya pada hari pernikahannya dan mengalihkan toko kue atas namanya. Padahal Nunung memiliki investasi yang paling besar.

“Tolong, jangan sebut nama Ronald lagi, nek…” pinta Nunung gusar. Dan masuk kedalam kamarnya. Menumpahkan semua kesedihannya disana.

Ronald adalah lelaki yang pernah menempati tempat special dihatinya. Sayangnya, lelaki itu telah meluruhkan semua kepercayaannya. Bukan hanya cinta, toko dan semua tabungannya juga diambilnya. Mengingatnya, hanya akan membuat hati Nunung kembali hancur. Itulah sebabnya, dia memilih tinggal bersama neneknya. Daripada harus menghadapi kenyataan melihat Ronald menjalankan tokonya bersama orang lain.

***
Mata Rulli tertumpu pada sebuah scrapbook berwarna coklat diatas rak, dimana dia meletakkan baju miliknya.

Dia tertarik dan membukanya pelan-pelan. Ada banyak foto dirinya disana, berikut sebuah catatan kecil. “Sapto, Ajeng, Nunung, Rastaaaaaaa…….” Lelaki itu bergumam sendiri. Semakin dia mencoba mengingat, semua terasa makin kabur

Lelaki itu tiba-tiba marah. Dia berlari ke kamar mandi, dan mengguyur kepalanya dengan air kran. “Tuhan!! Siapa aku!! Teriaknya marah. Tangannya memukul tembok berkali-kali sampai berdarah. Ntahlah, dia sangat membenci keadaannya seperti itu.

Lalu sebuah ketukan menyadarkannya.

“Rulli!! Rulli, buka pintu!

Terpaksa Rulli menyeret kakinya, dan membuka pintu. Dan melihat Nunung berdiri dengan membawa banyak barang di kedua tangannya.

“Ngapain kamu kesini, tengah malam pula. Apa kata tetangga nanti?”

“Aishhhh…minggir” gadis itu menerobos masuk, dan langsung menuju dapur, tanpa peduli dengan pertanyaan Rulli. 

Rulli melongo. 

Tahu dirinya diperhatikan. Nunung menoleh. Barulah ia menyadari, Rulli dalam keadaan basah kuyup, dan tangannya berdarah!

“Kamu darimana Rul, dan kenapa tanganmu itu?” Tanya Nunung, sambil membawakan dia handuk.

“Oh…tak apa-apa” jawab Rulli singkat. Berdekatan dengan Nunung, membuat dadanya berdegup kencang,

Lelaki itu segera mengganti pakainya dengan pakaian kering dan gadis itu membantunya mengobati luka ditangannya.

“Rul, kalau boleh, aku pinjam dapurmu, sekalian besok pagi warung kopinya kita buka. Siapa tahu, hal itu akan membuat ingatanmu cepat kembali.”

“Boleh, aku juga bosan tidak melakukan apapun. Oh ya….kamu pernah bilang, roti bun buatanku sangat lezat. Apakah itu benar.” Tanya Rulli. Kemarahannya yang tadi sudah hilang setelah bertemu dengan Nunung. Gadis itu memang ajaib. Dia seperti malaikat yang memberikan kedamaian dihati Rulli.

Nunung mengangguk.” Apa kamu masih ingat resepnya? Aku yakin roti bun buatanmu akan terkenal.”

“Entahlah…..”Rulli mengangkat kedua bahunya.

“Aku akan membantumu”Nunung memberikan semangat padanya.
Rulli seakan memiliki kekuatan. Harapannya untuk segera pulih, muncul kembali.

Setelah itu mereka berdua sibuk didapur.




Comments

Post a Comment

Tulisan Beken