Rahasia Hati Na


Na mematikan layar computer dan beringsut kekamarnya. Televisi masih menyala,sedangkan suaminya tampak tertidur pulas. Rasa asing sekelebat merapat dihati Na. Perempuan itu mendesah, berat. Kemudian ia membaringkan tubuhnya disamping sang suami. Lelaki itu menggeliat, kemudian memeluk tubuh Na yang terdiam dengan tatapan kosong.


Perkawinan Na dan suaminya sudah lebih dari 13 tahun. Waktu yang lama untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Cinta Na amat tulus, sayang, Benigno telah mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan yang sulit untuk disatukan kembali. Meskipun Na sudah memaafkannya, cintanya pada Benigno tak mungkin utuh seperti dulu.

Na tak berubah, dia tetap menjadi istri yang baik dan melayani Benigno. Semua gurat-gurat kekecewaannya dia sembunyikan dalam senyumnya yang manis. Ia tak ingin Benigno tahu…bahwa hatinya bukan milik lelaki itu lagi. Kini, hatinya milik seseorang yang belakangan ini selalu sabar mendengar semua cerita Na.

Na, terpesona dengan lelaki bermata hazel yang dikenalnya lewat facebook. Seorang yang tampan,mapan terpelajar dan baik hati. Na menyukainya, sebab dia tak pernah merayu Na. Namun Na bisa merasakan getaran kasih yang terselubung lewat chat-chat mereka. 

Na memegang dadanya, sebuah kerinduan menghentak. Ingin sekali Na berlari ke lelaki bermata hazel yang telah meluluhlantakan pertahanan yang selama ini kuat dipegangnya. Na hanya ingin memeluknya sekali saja, menumpahkan semua rasa yang ia pendam. 

Na menekan dadanya kembali.Sadar Na.....kamu siapa? Sebuah bisikan mengingatkannya. Na mendengus dan memeluk guling, airmatanya luruh. Na seperti berperang melawan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri.
Na menghapus airmatanya.

Wajah lelaki bermata hazel itu kembali bermain-main  dipelupuk mata Na. Na tak kuasa melawannya sampai ia jatuh tertidur, membiarkan lelaki bermata hazel itu bermain-main dialam mimpinya.
***
Esoknya Na kembali membuka komputernya, dan menyapa lelaki bermata hazel. Hi....ketik Na. Hati Na tak sabar menunggu. Jari jemarinya diketukkannya pada pinggiran meja. Na bungah, ketika lelaki itu menjawabnya.

Kemudian mereka chatting sebentar. Itu sudah cukup membuat hati Na gembira sepanjang hari. Imajinasi Na mengembara, membayangkan sosok lelaki bermata Hazel berada disampingnya. Tertawa dan bernyanyi bersama seperti kesukaan Na.

Ingat Na....jangan biarkan dirimu berfantasi terlalu jauh. Na....bersungut. Melawan apa yang dikatakan oleh kata hatinya. Biarkan aku menjelajah, menembus waktu yang tak mungkin bisa kugapai. Aku tahu siapa diriku. Ucap Na sendiri. Lalu perempuan itu tertunduk lesu, membiarkan anak rambutnya berantakan diterpa angin.
Na.....menghembuskan nafas berat.

Tanpa disadarinya, lelaki bermata Hazel telah merenggut kewarasannya. Senyumnya terus menari-nari, membayangi langkah Na dimanapun dia berada. Dia juga sering hadir dalam mimpi Na, seolah tak membiarkan Na sendirian dalam kesedihan. Lelaki bermata Hazel seperti Guandian Angel yang melindungi Na.

Tuhan...apakah ini perasaan cinta atau sekedar kekaguman pada sosok lelaki yang kurindukan? Na bertanya dalam hening. Saat dia bercengkrama dengan Tuhan dalam sunyinya malam. Dimana bathin Na, sering terkoneksi dengan lelaki bermata Hazel. Dimana rongga dada Na dipenuhi oleh getaran-getaran halus kerinduan yang membuat dadanya sesak. Na bersimpuh.

Na menghembuskan nafas lagi, kali ini lebih berat.

Sebuah tatapan lembut anaknya mengingatkannya. Na.....jangan diteruskan perasaanmu pada sesosok pangeran di dunia dongeng yang kau ciptakan sendiri. Berhentilah Na…sebelum cinta itu membuatmu frustasi. Na pasrah. Ia tak ingin menyakiti siapapun......Biarlah cinta yang agung itu bersemayam disudut hatinya. Biarlah waktu yang akan meluruhkannya.

Sebuah email masuk, dari lelaki bermata hazel.

Na........... I am a gay.

Dan Na.....kembali kerealiti hidupnya. Kembali tersenyum memandang dunia. Pun begitu dengan lelaki bermata Hazel. Mereka berdua berjalan bersisian menapaki jalan yang berbeda yang telah digariskan olehNYa.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken