Sebuah Opini : Pernikahan Dini Dalam Kaca Mataku.



“Ma…..memangnya anak umur 15 tahun, sudah boleh menikah?” tanya anakku polos. Saat kami sedang leyeh-leyeh di tempat tidur.


Saya  tidak mau menjawab ya dan tidak. “Menikah umur 15 tahun, menurut mama terlalu kecil nak. Belum lagi kalau nanti punya anak. Teman-temannya masih suka bermain, mereka sudah sibuk mencari nafkah, belum lagi kalau sudah punya anak. Masak mau minta sama orangtua terus, kan kasihan sama orangtuanya, bukannya nyenengin, malah nambahin beban. Lantas…menurut kamu gimana?” tanyaku balik bertanya.

“Iya sih ma….” Kata Key menyetujui.
“Ngomong-ngomong, siapa emangnya yang mau menikah nak, temenmukah?” akupun penasaran, siapa tahu to.

Putriku tertawa.”Key baca online ma, masak mama nggak baca berita viral sih.”

GUBRAKKKKKKKKKK

Anak sekarang mah, cepet pisan dapet infonya. Kita nggak bisa control 24 jam apa yang mereka baca dan lihat.
Kemudian sayapun mencari tahu berita viral tersebut. Anak SMP yang menikah dan dengan pedenya dipamerin ke Medsos. Siapa juga yang bisa ngelarang, toh hidup dan pilihan mereka sendiri.

Tetapi..

Menurut saya, soal keputusan menikah dini, memang keputusan pribadi. Dan sebagai perempuan, ibu dan orangtua, saya amat tidak setuju dengan adanya pernikahan dini. Kebayang nggak sih, umur mereka masih belum dewasa, pikiran masih labil, kerjaan aja juga belum ada. Ntar istri dan anaknya dikasih makan apa dong? Masak mo dikasih makan cinta terus. Emangnya cinta nggak perlu makan, nggak perlu duit nggak perlu kerjaan nggak perlu...nggak perlu...beuh ribet.

Ada masalah dikit ngambek. Kabur ke rumah ortu. Belum lagi urusan dan lain-lainnya. Apa mau jadi benalu orangtua terus. Ih emohlah. Tujuan menikah bukan hanya untuk urusan enya-enya saja. Tapi banyak hal yang harus dipikirkan. menyatukan dua orang, menyatukan visi, menjaga komitmen, kepercayaan dan menyatukan dua keluarga, apalagi kita sebagai orang timur. Budaya kekerabatannya kental banget.

Nggak mungkin kan ya, bila kita menikah, terus yang dipikirin cuma keluarga kita saja, atau keluarga pasangan saja. Semua harus balance, nggak timpang. Keluargamu ya keluargaku. Nggak bisa timbang pilih. 

Mending kalau dapet mertua yang baik, trus kalau mertuanya jahat, kek disinetron-sinetron itu, ih…amit-amit jabang bayi dah.Bakalan sengsara lahir bathin.

Saya pernah melihat pasangan muda, masih sama-sama kuliah. Belum wisuda. Istrinya sudah hamil 6 bulan. Dan kerennya, si suami masih mau diajak main kelereng sama anak-anak yang notabene umurnya dibawah dia. Ya amplop! Gila nggak sih. Istrinya sudah hamil gitu, mbok ya mikir dikit masa depan. Kok malah asik main kelereng. Auk ah gelap. Kok jadi saya sendiri yang sakit perut. Itu yang mahasiswa, umurnya sudah lumayan gede, lah ini, 15 tahun. Gimana coba. Suaminya mo kerja apa

Nggak usahlah ikut-ikutan selebritis atau siapa yang menikah muda. hidup mereka lain dengan kita.

Idih..napa saya sewot sendiri yach.

Mendinglah, focus dulu sekolah dulu belajar, setelah itu kerja, biar bisa ngerasain gimana mendapatkan uang. Biar bisa balas budi sama ortu. Syukur-syukur bisa nyenengin ortu, bisa nyenengin diri sendiri, biar kelak nggak nyesel, karena keburu nikah muda.
Yo wes lah gitu aja, saya mo silaturrahim dulu kerumah pakde, biar nggak dipecat jadi keponakan. Hehehehe

tabik 


 foto diambil dari pinterest

Comments

Tulisan Beken