Gadis Kecil dilampu Merah




Yogi terlihat gusar ketika lampu merah menyala. Dia sedang terburu-buru menjemput Dena, gadis yang disukainya diam-diam. “Sialan….!! Tangannya memukul setir mobil berkali-kali. Dia sudah terlambat 30 menit. Kemudian seorang gadis kecil berpakaian lusuh, ditangannya ada beberapa kuntum bunga mawar, mengetuk pintu kaca mobilnya. Lelaki itu tak mengindahkan. 


Namun gadis kecil itu tetap mengetuk kaca, dan mengacungkan bunga mawar ditangannya. 

 “Om….saya hanya mau memberi bunga ini” katanya dengan senyum ramah. Dengan terpaksa Yogi mengambilnya, tanpa mengucapkan sepatah kata. Dan dilemparkannya bunga itu diatas dashboard. 

Lampu hijau menyala, Yogi segera membawa mobilnya ke tempat kerja Dena. Dilihatnya Dena sedang berdiri menunggu dibawah pohon palem dengan wajah masam. Tiba-tiba matanya melihat bunga mawar merah diatas dashboard. Sebuah ide meluncur dikepalanya.

“Sorry…..tadi dikantor banyak pekerjaan” kata Yogi dengan muka menyesal. Dia memberikan bunga mawar merah kepada Dena sebagai permintaan maaf.

Dena tersenyum penuh makna, saat melihat bunga mawar pemberian Yogi. Diciumnya bunga mawar itu lembut, harumnya membuai indra penciumannya, membuat rasa marahnya sirna. Sebab, ini pertamakalinya Yogi memberinya bunga!

“Kita makan dulu,yuk! Ajak Yogi, tangannya membukakan pintu Dena. Gadis itu mengangguk dengan senyum yang masih mengembang.

***
Esok harinya, Yogi kembali melihat gadis kecil itu, sedang duduk di tepi trotoar dengan membawa ketupat ditangannya. Dia lalu meminggirkan mobilnya dan berjalan mendekatinya. Ia ingin berterima kasih padanya.

“Hi dek……siapa namamu?”sapanya ramah

“Nazwa, om….” Dia tersenyum, rambutnya yang diikat dua tampak bergoyang-goyang.

“Om punya sesuatu buatmu.”Lelaki itu mengambil pecahan lima puluh ribu rupiah dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Nazwa.

Mata Nazwa berkaca-kaca, memandangi uang lima puluh ribu ditangannya. ”Terimakasih banyak, om” suaranya tercekat. Dengan uang itu ia bisa membelikan obat dan makanan untuk ibunya. Di genggamnya uang itu erat.

“Kamu mau kemana? Biar om antarkan…” Yogi melihat kebawah. Ada luka menganga dikaki Nazwa. Gadis kecil itu tersenyum kecil, memperlihatkan sederet gigi kelincinya.

“Nggak usah om, apotiknya dekat kok,tuh disana…….” Telunjuknya menunjuk sebuah toko di tikungan, tak jauh dari situ.

“Baiklah kalau begitu, om pergi dulu ya…” Yogi mengusap kepala Nazwa.”Hati-hati nyebrangnya.” Lanjutnya lagi. Tiba-tiba perasaannya menjadi berat melepas Nazwa. Dia tak beranjak dari tempatnya dan tetap berdiri disana melihat Nazwa yang berlari kecil. Beberapa kali dia berhenti dan melambaikan tanganngya pada Yogi.

“Bye-bye om” teriaknya keras, tangan kecilnya melambai pada Yogi. dan diakhiri sebuah senyuman.

Yogi ikut melambaikan tangannya. Lelaki itu berulangkali tersenyum, membalas senyuman Nazwa. Kemudian gadis kecil itu membalik badan dan membaur dengan sekumpulan orang-orang yang mau menyeberang. Suasana lalu lintas terlihat ramai. Ditambah lagi ada pawai anak-anak.

Setelah itu ia bergegas menuju mobilnya. 

Namun…..baru saja ia hendak membuka pintu mobil, sebuah dentuman keras terdengar. Hingga Yogi jatuh terjengkang, karena terkejut. Gendang telinganya serasa pecah. Yogi gugup, dia belum tahu apa yang terjadi.

DUARRRRRRRRRRRRR

 “Ada bom meledak, cepat menyingkir!” Sejumlah orang berteriak panic, mereka berlarian menjauh dari lokasi. Karena khawatir ada bom susulan.

“HAHHH, bom, dimana?” Tanya Yogi was-was. Dia teringat Nazwa.

“Disana-disana” 

Hati Yogi semakin cemas. Suasana yang tadi tenang, seketika berubah menegangkan. Ia tak menghiraukan himbauan orang-orang untuk menjauh dari lokasi. Lelaki itu berlari mencari Nazwa. Suasana sangat kacau. Orang-orang berlarian, suara tangis, ketakutan dan bau amis menusuk keras indra penciumannnya.

Lelaki itu terus mencari Nazwa.

“Jangan kesana nak, bahaya” Polisi dengan lengan berdarah itu melarangnya.
“Saya mencari adik saya, pak!”

Nafas Rulli seakan tercerabut saat melihat, mayat anak-anak dan orang dewasa bergelimpangan, tubuh mereka tak utuh. Darah dan sebagian anggota badan berceceran dimana-mana.Ngeri sekali melihatnya.

“Nazwa…nazwa…..kamu dimana?” seperti orang gila, Yogi mencari nazwa diantara mayat-mayat yang bergelatakan.

“Om….om….Nazwa disini….” Terdengar rintihan kecil yang sangat menyayat hati. 

Yogi menoleh.Dan kemudian matanya tertumpu pada ketupat di sebelah sosok tubuh kecil dengan luka di besar di perutnya. Nafas gadis cilik itu begitu payah dan tangannya memegang erat uang lima puluh ribu pemberiannya tadi. 

“Nazwaaaaaa!!! Secepat kilat dia menggendong tubuh Nazwa dan membawanya ke pinggir trotoar.

“Om…..tooooooolooooooong antarkaaaaaaaan Naaaaaaazzzzzzzzzwaaaaaaaa ke apotiikkkkkkkkkkk, Naaaaaazzzzzwaaaaaaa maaaaaau beeeeeliiiii oobaaaaaaatttt untuuuuuuuukkkk ibuuuuuuuuuuuuuuuu”

Selesai mengucapkan kalimat itu, kepala Nazwa terkulai dengan senyum manis bersamaan dengan terlepasnya atma dari raga nazwa.

Teriakan Yogi melolong panjang memanggil nama Nazwa.


foto diambil dari pinterest


Comments

Tulisan Beken