Jangan Kerdilkan Dirimu.


Hampir sebagian hidup saya, saya jalani dengan perasaan minder. Yang telah menyelimuti saya bertahun-tahun, terutama dengan pengalaman buruk yang telah saya alami.Semakin menambah rasa minder, dan  perlahan-lahan menenggalamkan saya ke dalam lubang keterpurukan.


Semua tentang saya sepertinya tak ada yang istimewa dan bisa dibanggakan. Saya bukanlah anak yang bisa dibanggakan, saya tak cantik, bentuk tubuh saya mungil, gendut, nggak bisa dandan, ndeso, pekerjaanpun  biasa-biasa saja. Semua itu membuat saya semakin  mengamini bahwasannya saya “Nothing” – bukan siapa-siapa. Sekiranya saya bisa berubah, mungkin saya akan menjadi sosok invisible.

Akibatnya fatal. Ketidakpercayaan diri yang saya pegang teguh, telah mengunci potensi besar yang saya miliki. Karena saya selalu merasa diri saya tolol dan tak bisa apa-apa.
Sampai tadi malam, seorang kawan lama menawari saya project sebagai translator press release untuk travel agentnya, karena mengetahui hobby menulis saya.

Terus terang, tawaran itu amat menggiurkan. Saya bergairah. Adrenalin  yang telah lama redup langsung meningkat ke level 100. Mengingat sudah lama sekali saya tak menemukan tantangan baru dalam bekerja. Setiap hari saya jalani seperti robot. Bangun pagi, memasak, beberes rumah, jaga warnet lalu tidur. Begitu terus. Tak ada yang membuat saya terpacu. Untungnya saya masih sempatkan menulis, yang menjadi vitamin otak serta satu-satunya alat hiburan murah meriah sehingga saya tidak stress menjalani kehidupan saya.

Namun....rasa tak percaya diri kembali menyeruak, bisakah saya melakukannya? Saya takut hasilnya buruk. Saya takut membuatnya kecewa. Bukankah banyak orang yang lebih baik dari diri saya. Tetapi rasa ingin tahu saya begitu besar mengenyahkan rasa minder.
Bismillah, saya jawab iya. Dan tanpa membuang waktu, saya langsung bekerja. Malam itu juga.
Ada rasa deg-degan dan gugup, saat menghadapi sesuatu yang baru. Saya belum pernah menjadi translator dan menulis press release. Semua tulisan saya hasil belajar otodidak. Itupun dengan bahasa sak karepe dewe. Beberapa saat, otak saya blank, nggak tahu harus melakukan apa, dan memulai darimana. Saya mulai khawatir. Sempat terlintas ingin mengembalikan project yang telah dikirim lewat email. Kemudian saya merenung, bila tidak saya coba? Lantas kapan? Bukankah kesempatannya sekarang?
Lalu saya mengaffirmasi diri saya sambil memejamkan mata, “Fidia, kamu bisa, kamu hebat! Hayo jangan nyerah!

Barulah ilham datang, pelan-pelan saya terjemahkan. Meskipun gubrak gabruk mencari padanan kata yang sesuai. Project 3 lembar itupun kelar. Saya bisa bernafas lega, setelah berkutat selama 4 jam di depan komputer.

Lama? Iya! Karena sebagai translator pemula. Saya masih kesulitan saat menemukan  kata-kata baru dan asing ditelinga. Membuat saya kelimpungan memaknai. Nggak bisa asal translate, khawatirnya nanti melenceng.

Setelah beberapa kali edit, malam itu juga saya kirim. Lebih awal dari janji saya sebelumnya. Soalnya saya paling benci menunda pekerjaan. Esok tinggal nunggu hasil, apakah berkenan apa tidak.

Sumpah! Saya deg degan menunggu kabar. Email saya buka terus. Dan syukurlah setelah makan siang. Kabar bahagia itupun datang. Kawan saya menyukai hasil kerja saya. Katanya bagus. Mulut ini sampai kehilangan kata-kata antara rasa tak percaya. Ini seperti mimpi. HAH! Beneran nih, ternyata saya Bisa! Beberapa kali saya menggigit bibir saya. Apalagi beliau langsung menyetujui harga yang tawarkan. Tanpa banyak pertanyaan.Padahal harga itu termasuk tinggi untuk translator pemula.Merci.

Saya langsung sujud syukur. Project itu membuat kepercayaan saya tumbuh. Bahwasannya saya memiliki kemampuan dan dilahirkan untuk menjadi pemenang. Saya aja yang salah, selalu mengecilkand diri. Yach saya lupa bersyukur, selama ini dengan segala keterbatasan saya mampu melewati semua rintangan. Ya Allah.....Terimakasih.

Putri saya tampak bahagia saat saya ceritakan soal keberhasilan ini. Dia terus bertanya apa yang saya lakukan. Melihatnya membuat saya tambah semangat. Mama janji, suatu hari nanti mama akan membuatmu bangga, nak.

 gambar diambil dari everydaypowerblog



Comments

Tulisan Beken