Dilema Seragam Sekolah




“Mba....tahu nggak dimana ada tukang jahit? tanya salah seorang kawan.
“Lho...disini kan ada pak?”

“Mahal mba.....saya sudah kesana, duh pusing saya?” keluh kawan saya dengan sorot mata sendu.

“Ooo....kalau mau dikampung saja pak.” jawabku kemudian memberikan alamat penjahit tersebut.

“Waduhhh...jauh itu mba”

Yaelah.....belum sampai Jeddah di bilang jauh. Bathin saya. 

Tahun ini, dua anaknya masuk sekolah. Yang besar masuk SMA, adiknya masuk SMP. Tentu bukan perkara mudah untuknya, dia perlu merogoh uang cukup dalam untuk biaya sekolah kedua anaknya itu. Sedangkan penghasilannya hanya sebagai pedagang gorengan. 

Untuk ongkos 1 stel baju, penjahit disekitaran rumah mematok harga,sekitar 150 sampai 200 ribu. Bayangin aja bila sekolahnya memiliki 5 seragam. Berapa duit yang harus dibayar hanya untuk menjahit seragam? Itu belum termasuk kain seragam, lho ya.Yang tiap tahun ajaran baru harganya makin melangit. Penjahit mah kagak mikir, tahun ajaran baru, adalah tahun dimana mereka panen, meraup untung sebanyak-sebanyaknya.

Contoh sekolah anakku.  Ada 5 seragam sekolah belum termasuk baju olahraga; putih biru untuk hari senen selasa, almamater untuk hari rabu, baju batik untuk hari kamis, baju muslim untuk hari jumat dan pramuka untuk hari sabtu. 

Tahun lalu, waktu Key masuk SMP. Saya sengaja menjahitkan baju seragamnya dikampung. Waktu itu mikir faktor ekonomis saja, biaya penjahit dikampung lebih murah daripada di kota. Meskipun tempatnya jauh, nggak papa deh. Supaya uangnya bisa dialokasikan untuk menambah beli buku pelajaran. Yang harganya gila juga, menurut saya. Seragam ada, buku juga punya. 

Bicara baju seragam, apa nggak bisa sekolah ngumpulin baju kakak kelasnya yang lulus, supaya dikasih adik kelasnya? Lumayan kan.bisa bantu orangtua yang nggak mampu. Karena pernah ada ibu-ibu cerita. Baju seragam anaknya dia meminta pada kakak kelasnya yang akan lulus. Kata saya pada misua suatu pagi, saat sarapan.

Misua malah terkekeh ,”nggak semua mau lho yank, make baju bekas. Berapapun mahalnya, orangtua akan berusaha memenuhi kebutuhan anaknya. Supaya anaknya “sama” dengan orang lain. Terus Ia kalau kenal, kalau nggak. Malu atuh neng, tiba-tiba datang terus minta baju. Iya kalau dikasih, kalau nggak, duh....dibawa kemana tuh muka. Semua tergantung dari sekolah dan komunitas. Tiap sekolah memiliki aturan sendiri-sendiri.

Hmmmm.....saya menarik nafas berat, setengah mengamini, setengah ngersulo.

Comments

Tulisan Beken