My Sweet Plum Girl Bag 10




Nunung ternyata tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Pada akhirnya dia memberitahu soal ingatan Rulli yang kembali kepada Wak Hamid, Ajeng dan Mas Sapto. Wak Hamid dengan inisiatifnya sendiri, membuat syukuran dan mengundang para tetangga. Hal ini membuat Rulli kecewa pada Nunung.


“Kamu nggak asyik, Nung!” Rulli gemas pada gadis itu, yang tak merasa berdosa sama sekali dengan perbuatannya.

“Biarin aja ye” Dia menjilati es cream yang dipegangnya. “Aku melakukan itu, karena nggak nahan melihat mereka tiap hari ngarepin ingatanmu kembali.”
“Iya, aku mengerti. Tapi……kamu sudah memporak-porandakan rencanaku” suara Rulli terdengar gusar.

“Rencana apaan? Apa kamu mau mencari dan menghukum Rasta” jawab Nunung tajam.”Nggak usah capek-capek cari rasta, Rul. Dia juga nggak perlu dihukum. Dia sudah mendapatkannya kok”

Rulli balas memandang Nunung dengan tatapan bingung Bagaimana Nunung tahu rencananya. Padahal dia tak pernah membahasnya dengan gadis itu. Jangan-jangan, dia bisa membaca pikiranku.

“Yaelah….malah bengong gitu. Woi…Rulli! Jangan mikir macam-macam deh” Nunung mulai terkekeh kemudian gadis itu mengambil sesuatu dari dalam laci. Dan memberikannya pada Rulli. “Nih….perhatikan baik-baik, Kamu menulis apa disitu” Telunjuknya menunjuk pada rambut dalam sketsa. Ada tulisan I’ll catch you, yang ditulis kecil, dan samar.

Rulli menepok jidatnya sendiri. ”Hasyeemmmmmmmm” dia salut dengan ketelitian Nunung.“Terus kenapa kamu melarangku mencari Rasta? Bukankah dia yang membuat hidupku seperti ini?”

“Begini” Nunung memperbaiki posisi duduknya, kemudian” Buatkan aku teh dulu gih, biar ngomongnya enak, haus nih.”

Rulli mendelik, tetapi dia pergi juga ke dapur, membuatkan mereka berdua minuman.
“Eitssss……jangan terlalu manis, aku lagi diet” Teriak Nunung.

“Nggak usah diet, Nung. Kamu begitupun, aku masih cinta” guman Rulli, sambil mengaduk teh.
“Apa katamu Rul?” 

Rulli kaget, Nunung sudah berada disebelahnya.”Ih….ngagetin orang aja.” Yang disambut Nunung dengan wajah cemberut.

Kemudian Ajeng datang. Dan membawa hadiah sebuah etalase kaca buat Rulli. Disusul mas Sapto.Pembicaraan antara Rulli dan Nunung harus berhenti disitu.

Rulli enggan menerimanya. Meskipun ia butuh untuk menaruh roti yang dibuatnya.
“Jangan gengsi gitu Rul, aku ikhlas kok memberikan ini padamu.” Suara Ajeng kenes.

“Iya…..terima aja Rul, biar Ajeng lega. Apa susahnya sih menerima kebaikan temen.” Timpal mas Sapto.

“Maaf mas, aku takut nggak bisa balas budi” Sebenanya jauh dalam lubuk hatinya, Rulli khawatir akan membuat hati seseorang terluka.

“Aku nggak minta balas budi kok, Rul, swear!” Ajeng ngotot. Gadis manja itu terlihat kecewa dengan penolakan Rulli.

Nunung kemudian datang. Dia kelihatan geregetan dengan sikap Rulli.”Belagu amat sih Rul, nggak mau nerima pemberian Ajeng. Kamu kan nggak minta sama dia, jadi woles aja cuy! Sudah mas…letakkan aja etalasenya disitu”

Rulli hanya bisa melongo, Mas Sapto tertawa terbahak-bahak. Dan Ajeng bisa tersenyum bahagia.

“Kamu memang hebat Nung” puji mas Sapto.

“Oke-oke, suaraku kalah. Karena sudah etalase, maka aku perlu kalian untuk membantuku menata toko ini, supaya besok siap. Bagaimana, kalian mau membantuku kan? Kata Rulli lantang.

“Siap komandan!! Sahut Mas Sapto, Ajeng dan Nunung berbarengan.

“Rul….ngomong ngomong apa kamu sudah menyiapkan nama untuk toko rotimu ini?” usul Nunung tiba-tiba.

Rulli menggeleng, dia belum memikirkannya sama sekali. Warung kopi yang dulu digagasnya kini berubah bentuk menjadi toko roti semenjak Nunung membantunya. Meskipun mereka masih melayani orang-orang yang ingin membeli secangkir kopi. 

“Bagaimana kalau Rulli cafĂ©?” Ajeng mengangkat tangannya. Dia melihat orang-orang enjoy menikmati kopi dan roti di sana.

Rulli menggeleng, namanya terlalu pasaran.

“Toko Roti NR” kata mas Sapto bangga, dia menggabungkan inisial Nunung dan Rulli.
“Hahahaaahah, mirip merk shampoo aja mas” Ajeng meledek mas Sapto. “Nung……idemu apa?” Ajeng melihat Nunung, yang sibuk memonyongkan mulutnya.

“Toko Roti N’dut” jawabnya singkat, gadis itu mengerling nakal pada Rulli.
“Alasannya?” tanya Rulli

“ Aku hanya mengambil sumber inspirasimu  saat membuat roti my sweet plump”
“Ooooooooooooo”

Mereka bertiga mengangguk setuju. Kemudian mereka tertawa bersama-sama

***
Rulli dan Nunung semakin sibuk dengan toko roti Ndut. Pelanggan mereka makin banyak. Ajeng yang memiliki kawan banyak sering membawa teman-temannya ke tempat Rulli. Weekend adalah hari tersibuk mereka.

“Rul, sepertinya kita butuh pegawai. Kita tak bisa mengandalkan bantuan mas Sapto dan Ajeng. Meskipun kamu memberikan uang kepada mereka.” Kata Nunung suatu hari. Kita tak bisa begini terus Rul. Kamu harus memandang kedepan.” 

“Aku tahu’” Rulli menjawab singkat. Hal itu sudah diperhitungkannya. Banyak hal dalam pikirannya sekarang, yang belum ia ungkapkan pada Nunung.

 “Kok cuma segitu aja Rul” Nunung mulai emosi, rasa capeknya dari semalam masih terasa sampai sekarang. Gara-gara sibuk membuat roti dan melayani pembeli. Hanya berdua dengan Rulli. Sedangkan mas Sapto sedang pulang kampung, dan Ajeng sakit. “Kamu memang nggak sensi sama sekali, Rul” Nunung melempar lap kotor ke badan Rulli.

Emosi Rulli tersulut. “Terus aku harus bilang wow begitu? Bukan hanya kamu saja yang capek Nung. Aku juga capek! Soal karyawan, aku sudah memikirkannya, Bisa saja kita merekrut karyawan. Tapi apa kamu memikirkan nasib Mas Sapto. Uang pemberian kita selama ini yang menyelamatkannya. Jualannya tak begitu laku sekarang, tapi dia sadar dia, nggak mau meminta pertolongan padaku, atau memelas supaya direkrut karyawan olehku. Makanya aku diam Nung. Dan soal Ajeng….terus terang, aku nggak enak nerima kebaikannya terus menerus. Tapi kamu yang terus memaksaku untuk menerimanya. Tahu nggak Nung, nyesek disini! Rulli menunjuk dadanya. “Tiap kali aku melihatnya, selalu saja ada perasaan tak enak. Dia sudah lama mencintaiku, tapi aku mengabaikan cintanya. Kamu tahu itu kan Nung!” setelah berkata begitu, Rulli keluar meninggalkan Nunung.






Comments

Post a Comment

Tulisan Beken