My Sweet Plump Girl Bag 11






Nunung pergi! 

Wak Hamid memberitahunya tadi pagi, setelah sholat subuh. “Apa kalian bertengkar?” tanya perempuan tua itu, dengan suara masygul. Dia tak mengerti dengan keputusan cucunya yang tiba-tiba memutuskan untuk kembali kerumah orangtuanya.


Rulli menggigit bibirnya, dan tersenyum kecut. Dia tak menyangka, perkataannya kemarin melukai hati Nunung. Kemudian lelaki itu menceritakan semuanya pada Wak Hamid.Supaya tak timbul salah paham. Bagaimanapun dia telah menganggap Wak Hamid sebagai orangtuanya sendiri.

“Hmmm….. jadi begitu ceritanya. Wak Hamid mengerti. Cucu nenek memang keras kepala, suka tak sabar dan kadang sifatnya kekanakan. Tapi dia orangnya baik. Maafkan Nunung, ya nak?” Wak Hamid tahu, Rulli menyembunyikan kegalauannya. Sapto sedang pulang kampung, sedangkan Ajeng sakit. Jadi Rulli sendirian, tak ada yang membantunya di toko.” Jangan khawatir, kamu bisa mengandalkan Wak Hamid”

“Maksud Wak Hamid?” Rulli mengerutkan kedua alisnya.

Dengan memperlihatkan gigi ompongnya, Wak Hamid tertawa “Wak akan membantumu, menjaga toko hari ini, tua-tua begini Wak Hamid masih energik lho.”

Kelakar Wak Hamid pagi itu, mengurangi stress Rulli. “Baiklah, Wak. Temani Rulli mengobrol saja, hari ini Rulli banyak pesanan, biar toko rotinya tutup hari ini”

“Kamu nggak percaya Wak Hamid?” Wak Hamid menggulung lengan bajunya.

“Bukan begitu sih Wak, Cuma kasihan saja. Nanti kalau encoknya kambuh, bagaimana?” jawab Rulli khawatir.” Wak Hamid, santai saja, oh ya…apa Wak Hamid sudah sarapan, kalau belum, biar Rulli buatin.”

Mata Wak Hamid mengembun. Rulli memang lelaki baik. Dia menyayanginya seperti cucunya sendiri.”Nggak usah nak, biar wak buat sendiri, sekalian sama kamu. Sudah lama kita tidak makan bersama.”

***
Sendirian, pesanan banyak membuat Rulli gelagapan. “Gue bisa! Gue pasti bisa! Dia menyemangati dirinya sendiri. Sebelum pikiran negative datang menggerogoti semangatnya. Tak mau membuang waktu, Lantas dia sibuk membuat roti bun dan 500 amuse bouche pesanan salah satu pejabat teras, untuk ulang tahun anaknya.

Semua gara-gara Ajeng. 

Tiga minggu lalu Rulli melihat blog tentang makanan, dan melihat gambar macam-macam amuse bouche. Bentuknya mungil, dan ditata secara artistic telah menarik perhatiaannya. Kemudan dia membuatnya dan memberikannya pada Ajeng yang saat itu sedang galau.
“Ini apa? Tanya Ajeng dengan tatapan ingin tahu.

 “Perkedel” kata Rulli singkat, ia tahu Ajeng terpukau dengan cara penyajiaannya yang begitu mewah.


“Masak sih” gadis itu itu berkali-kali mempelototi makanan didepannya. Seakan tak percaya dengan jawaban Rulli. Diatasnya ada cream, potongan-potongan kecil jamur shitake dan dihias dengan taburan bunga lavender disekelilingnya.

“Cobain aja dulu, ntar baru komentar”
Ajeng mencicipinya, kemudian dia menangis. 

Tinggal Rulli yang terkejut.”Elu kenapa? Apa karena emuse bouche ini benar-benar enak?”
Ajeng menyeka airmatanya, gadis itu menganggukkan kepalanya.” Kamu memang top markotop Rul. Ini benar-benar mbahnya lezat! Makanan ini seperti makanan surga”

Rulli tertawa. “Emang kamu pernah mati, kok tahu makanan surga” Kemudian tangannya mengusap kepala Ajeng. 

“Please dong Rul.Hentikan. Sikap elu bikin gue patah hati” canda Ajeng.

“Woles sajalah, elu sudah gue anggap adik sendiri, nggak usah baper.”

Ajeng pura-pura cemberut,”hih……gue ikhlas kok Rul”

Tanpa sepengetahuannya Ajeng memposting amuse bouche yang dibuatnya di instagram miliknya, dan ternyata banyak yang yang suka. Sore hari, dia mendapatkan pesanan.

“Gimana Rul, mo diambil nggak? Rugi lho kalau nggak diambil. Ini kesempatan besar man, Toko roti ndut bisa semakin terkenal. Lu nggak usah promosi.” Ajeng membujuknya.

Rulli menerimanya dengan rasa senang dan gugup.“Tapi Jeng…..gue nggak jualan amuse bouche, gue jualan roti. Amuse bouche kubuat untuk menyenangkan pelanggan saja. Dan itu nantinya nggak setiap hari kubuat, nantinya itu sebagai kejutan.”

“Gue tahu, tapi ini kesempatan langka, Rul. Dan kalau gue jadi lu, gue bakal ambil.”
Rulli terprovokasi kata-kata Ajeng. Dia diam sejenak.”Baiklah, dengan catatan semua terserah gue”

“Oke, deal!” Ajeng berseru. Dia sudah lupa dengan kegalauannya.

Dan sekarang, ia sendirian. Mas Sapto pulang kampung mendadak, karena adiknya kecelakaan, Ajeng sakit dan kini Nunung pergi, tanpa pamit kepadanya. Rasanya ia ingin berendam es batu.

Untungnya masih ada Wak Hamid. Dia selalu membuat tertawa Rulli, sehingga saraf-sarafnya tidak tegang.

Setelah makan siang, Ajeng datang. Gadis itu masih batuk-batuk. Dia kesana karena Rulli tak mengangkat teleponnya, dan ibunya bilang, toko Rulli tutup. Dia khawatir dan langsung meluncur kesitu.

Rulli bukannya senang, malah marah-marah.“Elu ngapain kesini, please jangan nyebarin virus ke toko gue?”

Ajeng mengabaikannya. “Nunung kemana Rul, dari tadi gue nggak lihat”

Muka Rulli langsung berubah kusut.” Nanti gue ceritakan, gue sibuk sekarang, dan tolong kamu pulang dulu, gih. “

“Kagak, gue mo disini, temenin elu” kemudian dia mengambil ponselnya dan keras-keras menelpon Nunung.

“Kamu dimana Nung, apa nggak kasihan Rulli pontang panting sendiri.” Sebelum dia selesai bicara, Rulli merampas teleponnya dan mematikannya.

“Ajeng, gue nggak butuh bantuan. Gue bisa sendiri, jadi please nggak usah telpon-telpon orang, meminta belas kasihan untuk bantu gue” kata Rulli dingin. Dan meletakkan ponselnya dengan kasar.

Ajeng diam seribu bahasa. Dia tak berani lagi melawan Rulli. Kemudian dia menyingkir dan mengawasi Rulli yang bekerja dengan sangat efektif. 

Akhirnya Rulli bisa menyelesaikan semua pekerjaanya. Roti dan amuse bouche selesai. Rulli tersenyum puas.
 
“Ajeng…….bisakah kamu membuatkanku secangkir teh madu” pintanya.
“Siap komandan” Ajeng bergegas ke dapur. Dia bangga melihat semangat Rulli.









Comments

Post a Comment

Tulisan Beken