My Sweet Plump Girl Bag 12




Seminggu setelah kepergian Nunung. Rulli kini ditimpa musibah kembali. Wak Hamid ditemukan meninggal saat sedang sholat dhuhur di Musholla tak jauh dari tempat tinggal mereka. Kejadian itu, telak membuat hati Rulli patah. Bagaimanapun Wak Hamid sudah dianggapnya sebagai orangtuanya sendiri, sebagai  pengganti ibunya yang meninggal. Hubungan merekapun hangat.


Rulli tak mendapat firasat apapun. Semalam mereka masih ngobrol dan makan nasi liwet bersama dengan Mas Sapto yang baru datang dari kampung. Wak Hamid terlihat begitu bugar. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama.

“Nak Rulli, makanlah sepuasnya, siapa tahu ini nasi liwet terakhir Wak Hamid”. Kata-kata Wak Hamid dianggap Rulli dan Sapto sebagai candaan biasa. Andai dia tahu itu adalah kata perpisahannya. Tentunya dia akan terus menemaninya dan tak membiarkannya sendirian. Namun kematian adalah rahasia ilahi, dan Rulli ikhlas melepas Wak Hamid. 

Esok harinya. Pemakaman Wak Hamid berjalan khidmat. Anak dan cucunya semua berkumpul. Tak terkecuali Nunung. Dia sangat terpukul dengan kematian sang nenek yang begitu tiba-tiba. Dia terus menangis, seperti tak merelakan kepergian Wak Hamid. Rulli ingin menghiburnya, namun terhenti oleh kehadiran sesosok pemuda, berkulit sawo matang dengan potongan rambut rata. dan tanpa ragu melingkarkan tangannya ke pundak Nunung, seolah-olah ingin melindungi Nunung.

“Ehem”

Seseorang mencolek lengannya.

Rulli menoleh, dan melihat Sapto berdiri disampingnya.

“Dia itu Ronald, mantan tunangan Nunung” kata Mas Sapto setengah berbisik. Suaranya jelas menandakan rasa tak suka.

Dahi Rulli mengernyit. Nunung tak pernah menceritakan hal itu padanya. Tapi kenapa dia disini?Bukankah dia hanyalah seorang mantan. Sebersit pertanyaan menggantung dikepalanya. Dia cemburu. Matanya nanar menatap kearah mereka berdua.

Kemudian pandangan mereka bersiborok. Dalam satu garis Serta merta Rulli melemparkan senyumnya dan Ronald membalasnya dengan senyuman menyeringai bahkan terkesan menakutkan. 

Saat dia akan meninggalkan pemakaman, telinganya seperti mendengar suara Wak Hamid, suaranya jelas sekali.“Lindungi Nunung nak Rulli” lelaki itu kebingungan, dan menghentikan langkahnya. Dia menoleh kekiri dan kekanan.

“Kenapa Rul?” tanya  Mas Sapto heran.
“Apa tadi mas Sapto dengar suara Wak Hamid.

“Becanda saja kamu Rul, Wak Hamid kan barusan dikubur.” 

“Swear mas, aku tadi denger suara Wak Hamid. Suaranya jelas sekali.” Ucap Rulli meyakinkan. Jangan…jangan..itu…bulu kuduk Rulli merinding. Ia tak mau berdebat lagi “Cepetan yuk…..” ajaknya dengan langkah lebar.

***
Kematian Wak Hamid, menimbulkan masalah baru bagi Rulli. Dia baru saja dikubur, bunganya belum layu, namun anak-anaknya sudah meributkan soal harta warisan. Membuat keberadaan Rulli makin tersudut. Dia tinggal gratis disana, karena Wak Hamid, mengembalikan semua uang kontrakan kepadanya.

Bagaimana seandainya mereka tak memperbolehkannya menempati toko ini? Rulli bergumam sendiri, sambil menikmati sepotong roti bun dan segelas kopi latte buatannya.

Tok…tok…tok
Suara ketukan membuyarkan lamunan Rulli. Enggan, dia membuka pintu. Dan terkejut saat Nunung berdiri didepannya.

“Aku ingin berbicara denganmu sebentar.” Kata Nunung dengan wajah sendu.
Rulli mengangguk dan mempersilahkan dia masuk.. Dia merasa ada hal penting yang ingin Nunung sampaikan padanya. Dan membangunkan Mas Sapto yang sedang istirahat, supaya keluar sebentar.

“Owh….maaf…rupanya ada Mas Sapto disini, maaf ya mas” gadis itu merasa bersalah telah mengganggu istirahat Sapto.

“Nggak papa Nung, udah biasa Rulli begitu.” Kelakarnya. Dia mengambil kopi latte Rulli dan membawanya keluar.

Kekakuan menyergap mereka sejenak. Berkali- kali Rulli menghirup nafas dalam-dalam. Sedangkan Nunung, menunduk, memainkan jari jemarinya.

Kemudian, “Siapa lelaki yang terus bersamamu. Kalian kelihatan akrab sekali.” kata Rulli dingin, perasaannya masih terbawa oleh rasa cemburu dengan pemandangan di pemakaman Wak Hamid tadi pagi. 

Nunung mendongak, mengeksplorasi wajah Rulli yang berubah kaku. “Owh, dia Ronald, mantan tunanganku.”

Rulli  melipat kedua tangannya. Hatinya tiba-tiba nyeri. Melihat wajah Nunung yang berseri-seri saat menyebut nama Ronald.

Keduanya terdiam lagi. 

“Aku cari-cari kamu, ternyata kamu disini,Honey.” Ronald melongokkan kepalanya.Kemudian mencium mesra kening Nunung. Tanpa diminta dia bergabung bersama mereka. 

Rulli yang melihatnya langsung membuang muka. Dia tak suka dengan sikap ekpresif yang Ronald coba tunjukkan kepadanya. Sengaja sekali, ia membuatnya cemburu.

“Mau minum apa?” Rulli mencoba bersikap ramah. Meskipun tanganya ingin sekali menonjok wajah angkuh dihadapannya itu.

“Kalau kamu tak keberatan, segelas kopi dan sepotong roti bun. Boleh juga. Sekalian aku ingin mencicipi roti buatanmu, yang katanya terkenal.”

Untuk menghormati Nunung, Rulli menuruti permintaan tamunya. Dari balik korden, dia mengamati Nunung dan Ronald. Sambil memanaskan roti bun di microwave. Sorot mata Ronald seperti mengintimidasi Nunung. Gelagatnya tak enak. Baru kali ini, dia melihat Nunung sangat berbeda dengan yang dia kenal. Nunung menjadi pendiam dan kelihatan keder.

“Honey, apa kamu sudah bilang pada Rulli soal toko rotinya?”

Lamat-lamat Rulli mendengar percakapan antara Nunung dan Ronald. Hatinya bertambah gugup.

“Kalau kamu tak bisa, biar aku yang bicara padanya.” Timpalnya lagi dengan suara tegas.
Nunung mencegahnya. “Tapi….apa ini, tidak terlalu tergesa-gesa. Dia butuh waktu untuk mencari tempat.”

“Tidak, Bisnis tidak bisa diundur lebih lama. Lagipula Pamanmu sudah setuju dengan harga yang kutawarkan.”

“Ronald……!!” gadis itu kemudian pergi dengan tangis tertahan. 

Didalam, Rulli yang mendengarnya hanya bisa masygul. Dia harus angkat kaki segera dari tempat ini.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken