My Sweet Plump Girl Bag 13




“Ini nggak masuk akal Rul. Bagaimana mungkin kamu mendapatkan tempat dalam dua hari?  Belum lagi pindahannya. Gila bener tuh orang. Sebel gue!” Ajeng sewot, saat Rulli dan Sapto kerumahnya, dan memberitahunya bahwa Ronald telah mengambil alih Toko Roti Ndut, tanpa memberitahu Rulli sebelumnya. Gadis cantik itu benar-benar gemas, karena Nunung sama sekali tak membela Rulli. Dia tak terima mereka memperlakukan Rulli seperti itu.


Rulli hanya tersenyum, menanggapi kesewotan Ajeng. “Daripada buang energi untuk mengeluh, lebih baik, elu bantu gue cariin tempat.” 

Ajeng geleng-geleng kepala. Rulli masih bisa kalem dengan situasi seperti ini. “mas Sapto, Rulli tadi habis minum apa sih, bisa kalem begitu?” tanyanya pada Sapto, yang langsung tertawa mendengar pertanyaan Ajeng. Kontan level stressnya menurun.

“Juice biji duren” jawabnya asal. Lalu, “Bener, kata Rulli, kita jangan buang waktu, lebih baik kita segera mencari tempat. Apa kamu sudah ada ide, Jeng? Tanya Sapto, dia sangat mengandalkan Ajeng.

“Belum mas, idenya masih nyangkut ditiang jemuran.” Jawabnya dengan intonasi tak sabar.
Tak urung Rulli dan Sapto tergelak. “Kamu makin seksi kalau marah Jeng.” goda mas Sapto.Dengan tatapan penuh makna.

Secara tak sengaja, Rulli memperhatikannya. Mungkinkah Mas Sapto diam-diam mencintai Ajeng? Ah…..dia tersenyum kecut. Merasa kecolongan. Selama ini dia disibukkan dengan urusannya sendiri, tanpa pernah memperhatikan perasaan sahabat-sahabatnya.

“Mas….aku tinggal sebentar yah. Ada urusan nih” Buru-buru dia mengambil kunci motor dan bergegas keluar. Tanpa pamit pada Ajeng yang sedang membuatkan minuman untuk mereka.
***
Waktu semakin mendesak. Ronald tiap dua jam datang mengecek kesiapan Rulli untuk pindahan. Sapto yang biasanya kalem sampai naik darah melihatnya. Tergambar jelas rasa tak suka diwajah Sapto. Bila saja Rulli tak  menyabarkannya. Mungkin dia akan memukul wakah songong Ronald.

“Nggak usah diladeni, Mas. Biarin saja dia begitu. Ikutan stroke kita ntar kalau ngurusin dia” Meskipun hatinya juga gedek melihatnya. Rulli berusaha tetap tenang, meskipun ia belum mendapatkan kabar baik dari orang-orang yang telah dihubunginya.

“Nggak bisa begitu Rul, kamu juga punya hak. Mereka keterlaluan, mentang-mentang Wak Hamid meninggal, seenaknya saja mereka berbuat begitu.” Kemudian dia menghentikan kalimatnya saat melihat Nunung  berjalan ke tempat mereka. “Ngapain kamu kesini, Nung. Apa kamu juga mau ikut menanyakan kapan kita akan segera pindah?”

“Ssssttttt……!!”Rulli menyikut lengan Sapto.

Nunung menggeleng. “Maaf mas, aku tak bisa membantu kalian.” Tatapan matanya sedih. Kemudian dia melihat ke Rulli.” Apa kamu sudah mendapatkan kontrakan?” katanya dengan suara bergetar.

“Belum……”jawab Rulli kaku. “Kamu jangan khawatir, besok pagi aku akan mengosongkan tempat ini, supaya kamu dan Ronald bisa segera menempatinya.” Sindirnya tajam, menutupi kegamangan hatinya.

Kepala Nunung kian menunduk. Ada banyak yang ingin diucapkannya, namun lidahnya terasa kelu. Sikap dingin Rulli, seperti sebilah pisau yang menyayat-nyayat hatinya.

“Pergilah, kalau tak ada yang kamu tanyakan lagi” timpal Rulli lagi.

Nunungpun membalikkan badannya, matanya mengembun, menahan airmata. Dia benci dengan dirinya sekarang. Yang tak bisa membantu Rulli. Ia kalah suara dengan Ronald yang ambisius ingin segera mengambil alih Toko Roti Ndut, dan pamannya yang begitu menggebu-gebu ingin mendapatkan uang cepat dari Ronald. 

***
Malam itu. Hujan deras mengguyur.

Rulli dan Sapto berteduh di depan Masjid dikota, sekalian menunaikan sholat isya’. Wajah mereka letih, setelah berjam-jam berkeliling mencari tempat kontrakan. 

Kruk-kruk-kruk. Suara cacing diperut Sapto berbunyi. Perutnya lapar sekali. Ia menoleh ke Rulli, yang masih khusyu’ berdoa. Lantas dia menepi di dekat jendela, dan merebahkan tubuhnya sejenak, melepaskan semua kepenatan sambil menunggu Rulli selesai. Cuaca yang dingin dan suasana masjid yang tenang,membuat mata Sapto mengantuk.Dia berusaha menahannya, namun rasa kantuknya lebih kuat. Iapun tertidur pulas, disana.

Rulli membangunkannya. “Mas…..bangun”

Sapto terkesiap dan langsung membuka matanya. Entah berapa lama dia tertidur disitu, yang pasti, tubuhnya terasa lebih nyaman.”Kita makan dulu ya Rul, perutku lapar.” 

Rulli mengiyakan. Wajahnya ceria seperti bunga matahari yang bersinar cerah. Sangat berbeda dengan tadi. Kusut dan murung. Lelaki itu terus tersenyum. Membuat Sapto curiga.

“Rulli sudah dapat tempat mas, kita jadi pindah besok.” Ucapnya meluapkan kegembiraannya.
Sapto masih bengong, ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.“Gimana ceritanya?”

“Pak Rahmat barusan menelponku, pas setelah selesai berdoa. Saudaranya pindah ke Semarang, dan dia menginginkan saya untuk membeli rumahnya dengan harga murah. Rulli bisa mencicilnya 3 kali, dalam jangka waktu setahun” Kata Rulli antusias.

“Alhamdulillah!!!!” seru Sapto turut bahagia.”Uangnya ada kan Rul?”

“Inshaallah ada mas.”

Kabar itu seperti membawanya kedunia mimpi. Ia mencubit pipinya, berkali-kali. Kebesaran Allah memang ada. Ditengah keputusasaannya dia teringat dengan nasehat Wak Hamid untuk bersedekah. Semua uang yang ada dalam dompetnya tadi ia masukkan ke dalam kotak amal masjid. Tanpa berharap apapun. Dan kini Allah benar-benar menepati janjinya.Rulli tak henti mengucap syukur. 

“Maaf, Mas Sapto apa bawa uang?

“Kenapa….?” Tanya Sapto menelisik.Tak seperti biasanya Rulli bertanya begitu.
 “Rulli tadi mensedekahkan semua uang didompet Rulli mas, jadi..untuk kita makan ntar, Rulli tak ada uang.” Jawabnya malu-malu.

“Ah….kamu itu Rul, seperti orang asing saja padaku. Woles sajalah. Biar aku yang bayar nanti.” Sapto menepuk bahu Rulli. Ia bangga memiliki sahabat seperti Rulli. “Yuk ah….mumpung hujannya sudah berhenti”  ajaknya pada Rulli. 

Beban berat dihati mereka lepas. Langkah mereka begitu ringan menuju warung kaki lima di sebelah masjid.

“Kalau tak keberatan, Mas Sapto tinggal sama Rulli. Kita ngurus toko roti bareng nanti.” Kata Rulli sambil menyuapkan nasi rames ke mulutnya.
Sapto mesem, “Terima kasih Rul, kamu memang teman yang baik.”

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken