My Sweet Plump Girl Bag 14




Tepat sebulan setelah kepindahannya, Rulli mendapatkan kabar tak menyenangkan. Ronald telah menjiplak roti bun yang Rulli buat dan menjualnya jauh dibawah harga jualnya. Bukan hanya itu, dia juga memakai Roti Ndut sebagai nama toko rotinya. Jelas sekali, Rulli gusar. Roti Ndut dan roti bun “My sweet plump” adalah sepaket brand yang dibuat olehnya. Orang-orang sudah mengenalnya, daripada namanya sendiri. Dan sekarang tega-teganya Ronald mengakui kedua nama itu sebagai brand miliknya.

Yang membuat sebagian besar pelanggan Rulli beralih ke tempat Ronald, dan hanya sedikit yang bertahan,Namun…begitulah Rulli. Dia tetap diam, meskipun Ronald telah mencurangi bisnisnya. Ajeng dan Sapto sampai geregetan melihatnya.

“Kebangetan lu, Rul. Orang pake brand elu, elu diam. Mestinya elu labrak dia. Elu sadar nggak sih, dia sudah mematikan bisnis elu! Air liur Ajeng sampai muncrat membasahi meja, saking gemesnya melihat sikap Rulli.”Kalau begini terus, bisa-bisa bisnis elu bisa gulung tikar Rul. Bukan hanya bisnis. Rumah ini juga bakal hilang, karena elu nggak mampu bayar! Bertindak dong Rul, jangan diam saja. Kayak orang tolol gitu! Timpalnya lagi dengan suara tinggi.

Sapto mengamini kata-kata Ajeng. Lelaki itu juga membujuk Rulli untuk bertemu dengan Ronald. Sayangnya Rulli mengabaikan saran sahabat-sahabatnya. 

“Sudahlah, kalian jangan pusing. Lebih baik kita focus bekerja. Memikirkan Ronald, hanya akan menghabiskan energi. Oh ya, Mas Sapto, tolong besok minta Mahmud untuk membeli roti bun di toko Ronald. Dan ada pekerjaan untukmu Ajeng. Gue ingin lu undang langganan kita besok sore, bisa kan?

“Untuk apa?”Ajeng dan Sapto saling melihat kearah Rulli. Mereka saling berbisik. Ide gila apa lagi yang akan Rulli buat.

“Besok kalian akan tahu sendiri” Rulli mengambil buku, beberapa detik kemudian dia sibuk mencatat. Ajeng dan Sapto lalu menyingkir. Ajeng menelpon, sedangkan Sapto menelpon Mahmud, ojek langganan mereka.

***
Acara afternoon tea itu sukses dan seru, Apalagi adanya permainan menebak mana yang asli dan palsu. Undangan disuruh mencicipi roti bun. Satu buatan Rulli dan satunya buatan Ronald. Yang benar akan mendapatkan amuse bouche yang dikemas menarik dalam mangkuk tembikar. Permainan ini sangat menarik, secara kasat mata, mereka susah membedakan mana roti bun yang asli. Bentuknya persis sama.Namun saat dimakan, perbedaan itu jelas terasa. Rotu bun buatan Rulli crunchy diluar, lembut didalam,rasa mentega dan moccanya juga benar-benar terasa. Rasanya benar-benar menyatu dan lumer di mulut. Sekali mencoba, pengennya lagi dan lagi.

Semua tamu undangan senang, dan puas dengan makanan yang disajikan Rulli termasuk Meta, anak pejabat teras yang pernah memesan amuse bouche pada Rulli. Dengan inisiatifnya sendiri, Meta,  yang ternyata seorang selebgram, membuat video langsung dan mengunggahnya ke laman media sosialnya. Respon teman-temannya luar biasa. Dalam sekejap, video itu di lihat dan di share banyak orang.

Hal ini sangat menguntungkan Rulli. Tanpa perlu perang urat saraf dengan Ronald. Rulli telah menjadi pemenang. 

Ajeng dan Sapto memberikan dua jempolnya pada Rulli. Mereka optimist. Rasa was-was dihati keduanya beranjak sirna. 

Setelah semua tamu pergi. Ada tamu kejutan buat Rulli. Nunung datang ke tempatnya dengan membawa parcel. Wajahnya murung, dan lingkaran hitam dibawah matanya, membuatnya seperti zombie.

 Ajeng yang melihatnya langsung menarik tangan Rulli. Dan membawanya kedalam. Mas Sapto menyambut Nunung sendirian.

“Hati-hati sama dia Rul, awas! jangan melehoy! Sorry! Gue bilang gini, karena gue nggak mau, Nunung memporak-porandakan hidup lu lagi! Bisik Ajeng khawatir. Dalam hatinya dia tak ingin Rulli menemui Nunung, tapi….bila dia bersikeras. Rulli bakalan marah padanya.

“Woles saja.Thanks perhatiannya.” Rulli mengedipkan matanya pada Ajeng. 

Ajeng langsung tersungkur dengan kedipan mata Rulli. Tenaganya seperti tersedot. Tak mampu menerima kedipan dari pemilik mata hazel itu. Gadis itu mendesah panjang. Menyadari cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Gadis itu ingin mencuri dengar pembicaraan antara Nunung dan Rulli, namun tiba-tiba perutnya sakit. Dia buru-buru ke toilet dan setelah usai menunaikan hajatnya. Dia kecewa Rulli telah pergi tanpa diketahui oleh Sapto.

Ajeng menjadi uring-uringan.”Kamu…kemana aja sih mas, kok bisa nggak tahu Rulli pergi”
“Rulli sudah gede, kenapa musti aku jaga. Kamunya aja yang lebay.”

Ajeng melengos, dia semakin senewen saat mengetahui Rulli pergi tanpa membawa ponselnya.


***
Rulli mengikuti kemauan Nunung. Gadis itu diam selama perjalanan dan tak menjawab satupun pertanyaan Rulli.

Taxi yang mereka tumpangi mengarah ke luar kota dan berhenti di sebuah hotel. Rulli merogoh sakunya, dan meringis saat menyadari dia tak membawa dompet atau ponsel miliknya. Kemudian membiarkan Nunung membayarnya. Kemudian mengajak Rulli masuk dan memintanya menunggu di Lobbi. 

Rulli bereaksi.“Nung…tolong jelaskan padaku, apa yang kamu inginkan? 

“Tunggulah sebentar.” Nunung pergi ke Reception.

Rulli semakin tak mengerti dengan sikap Nunung. Dan lelaki itu diam, duduk manis menunggu di Lobbi. Perasaannya semakin tak enak, saat Nunung mengajaknya ke kamar. 

Lalu gadis itu mengunci pintunya, kemudian dilucutinya satu persatu yang melekat dibadannya. Darah muda Rulli berdesir. Kemudian lelaki itu tersadar. Tangannya lantas mengambil paksa selimut yang tertata rapi diatas tempat tidur dan melemparkannya kearah Nunung.

Lelaki itu berbalik,emosinya memuncak.”Cepat pakai kembali pakaianmu itu! Tangan Rulli meninju tembok berkali-kali. Tangannya berdarah.

Nunung menangis.

“Kamu kenapa, heh? Kenapa sikap kamu begini. Apa kamu tahu, hatiku sakit melihatmu tadi. Aku bukan lelaki seperti Ronald” Suara Rulli bergetar.

Tangis Nunung semakin kencang.

“Bukankah itu yang diinginkan tiap lelaki. Aku tahu, kamu mencintaiku sejak lama, dan aku, selalu saja membuatmu susah. Hanya ini yang bisa kulakukan, sebagai permintaan maaf padamu”

PLAKKKKKKKK

Tanpa sadar, tangan Rulli menampar pipi Nunung. “Aku sangat kecewa denganmu, Nung” ucapnya lirih, kemudian dia melangkah pergi dengan hati berkeping-keping.





Comments

Post a Comment

Tulisan Beken