My Sweet Plump Girl Bag 15





Sebuah undangan bersampul emas tergeletak di meja kamar Rulli. Hujan angin diluar semakin memperburuk  perasaan lelaki itu. Pandangannya mengabur, dadanya terhimpit beban membuat nafasnya tersendat. Semua waktu terasa sia-sia. Harapannya telah musnah seperti sebutir debu terhempas topan.Tak ada yang perlu ditunggunya lagi. Dewi pujaannya telah memilih pangeran lain. Dan dia tak ada hak untuk berontak. Selain menerimanya sebagai takdir. 


Ego lelakinya merutuk. Setan dalam dirinya menari-nari, mengulik-ngulik dasar hatinya. Menertawakan kedunguannya, dan mengoyak kewarasannya. Malam itu, kenapa dia begitu naïve. Tak mau mengambil keuntungan Padahal suatu kesempatan langka yang tak mungkin didapatkannya lagi. Andai dia bisa mengulanginya kembali, dia akan mereguk kenikmatan dan membawa lari dewinya. Supaya mereka bisa merenda hari berdua. Seperti yang diimpikannya.

Semua sudah terlambat. Mungkin, dewinya kini sedang tertawa dan berasyik masyuk dengan pangerannya. Lelaki itu meringis,kemudian meneguk sisa-sisa minuman beraroma alcohol di gelas terakhirnya. Kepalanya mulai berdenyut. 

Suara Titi Dj, yang diputar tetangganya, menerobos keras kedalam kamarnya yang pengap. Lagu itu semakin mengingatkannya pada mata sang dewi. Rindunya semakin mengikatnya kuat.  Rulli memegang kepalanya. Dia merasakan sensasi berputar, tubuhnya terhuyun.

Mata yang paling indah hanya matamu
 Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah
 Sinar yang paling indah dari matamu
Sampai kapanpun itulah yang terindah.

“Nunungggggggggg…..” rintihnya pelan. Kemudian seperti anak kecil dia menangis tersedu-sedu meratapi kemalangan nasibnya. Hidupnya tak lagi bermakna, ketika takdir merenggut sebagian mimpinya. Semua yang dikerjakannya seperti sia-sia. 

Bila aku tahu, rasanya begini

Aku takkan mau mencintaimu
                        Menggilaimu
                                    Merindukanmu

Rindu yang menghimpit dada
Rindu yang tak sanggup kutahan
Rindu yang membuatku hilang akal
Rindu yang membuat darahku membeku

Mencintaimu hanya membuat hatiku lara
            Perihnya menusuk relung hati
                        Perih yang hanya bisa kurasakan sendiri
                                    Sampai membuatku enggan bangun

Andai aku bisa memutar waktu
            Kuingin seperti dulu
                        Bercanda, bercerita tanpa ada rasa yang terpasung
                                    Kini keinginan itu seperti  keniscayaan

Cinta telah terpatri
            Tanpa pernah berharap lebih
                        Entah sampai kapan
                                    Aku kuat menjaganya.

Seandainya Tuhan menakdirkanku menjadi seorang hantu, aku mau Nung, asalkan aku bisa terus menemanimu. Gumannya pelan. Imajinasinya membawanya keruang tak bertepi.

***
Suara ciap-ciap anak burung, membangunkan Rulli. Dia menggeliat dan membuka jendela kamarnya. Udara pagi yang sejuk, mengisi pori-pori kulit pucatnya. Entah berapa lama dia mengurung dirinya dikamar. Dan kini ia terbangun dengan sebuah kesadaran baru. Lantas kakinya melangkah kekamar mandi, menguyur air dan membersihkan daki tebal yang menempel dibadannya.

Dilain tempat, Sapto terlihat senang, ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi Rulli. Dengan tergesa-gesa dia kesana. Dan memekik saat melihat Rulli keluar dari kamar mandi. Jantungnya hampir copot. Matanya seperti melihat Zombie.

Bobot tubuh Rulli susut drastic, dengan kulit pucat dan berewok panjang menghiasi wajah manisnya.

Untuk beberapa saat lelaki itu tertegun. Tak satupun kata keluar dari mulutnya.
“Kenapa mas? Seperti melihat hantu saja….”

Sapta tergagap. Rulli memang seperti hantu. Mungkinkah itu Rulli, atau hantu jadi-jadian yang menyerupai wajahnya. Lantas, matanya memperhatikan kaki Rulli yang menginjak tanah. Oh….dia benar-benar-benar Rulli. Ada kelegaan terpancar diwajahnya.

“Kamu keluar juga Rul, kami hampir putus asa melihatmu” akhirnya kata itu keluar juga dari mulutnya, dengan penuh kelegaan. Mereka sempat khawatir dengan keadaan Rulli. Kabar pernikahan Nunung dan Ronald telah membuatnya patah hati. Dan membuat Sapto dan Ajeng kelabakan karena harus mengurusi toko roti berdua. Sampai-sampai Ajeng mengajukan cuti di tempatnya bekerja.  Dan kini melihatnya tersenyum, hati Sapto turut senang. “Kamu mau makan Rul, biar aku buatkan.”

Rulli menggeleng,”tolong rapikan rambutku dulu mas….” Perutnya belum terasa lapar.
“Oke….kamu tunggu sebentar. Aku mau ambil gunting dulu!” Sapto teringat untuk menelpon Ajeng.

Saat Sapto tengah tenggelam merapikan rambut Rulli. Terdengar suara mobil berhenti didepan. Alis Rulli terangkat. Siapa pula pagi-pagi begini bertamu.

“Mas…cepet bukain pintu” gedornya dengan suara gaduh.
Sapto mesem,”Ajeng, Rul…..” dia sangat mengenal suara gadis itu. Suaranya khas, serak-serak basah. Seperti suara Syahrinie lagi nelen dondong.

“Cepet bukain pintu mas……” lelaki itu bersembunyi dibalik pintu.
Sapto nyengir. Tapi dia sengaja, membuatnya lambat, supaya Ajeng ngambek diluar. Setelah dikira cukup, dia  membuka pintu.

Cekrek……

Ajeng langsung menerobos masuk.” Rulli….dimana kamu Rul” dia mencari Rulli ke semua ruangan. Tetapi lelaki yang dicarinya itu tak ada. Dengan mulut manyun, dia mencari Sapto.
“Mas..ngak bohong kan tadi? Dia menggigit bibirnya cemas. 

Sapto menggeleng, dia melihat bungkusan plastic yang dibawa Ajeng. Dari baunya dia bisa tahu, itu adalah nasi padang di dekat rumah Ajeng. Tempat kost Sapto dulu.

“Terus…mana dia, mas” Ajeng mulai ngambek. Dan duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Sini dulu, makanannya, perutku lapar nih” Sapto tak dapat menahan air liurnya
“Ih..kagak boleh. Ini semua buat Rulli…..” Ajeng memonyongkan mulutnya.
Sapto tergelak. “Lantas buatku mana?” Lelaki itu suka sekali dengan sifat manja Ajeng.
“Beli sana sendiri…mas” jawab Ajeng sambil memainkan ponsel.

Kemudian…..

Tanpa Ajeng sadari. Rulli sudah membawa tiga piring lengkap dengan sendok dan garpu dan mengambil bungkusan plastic disebelah Ajeng. Lelaki itu membukanya. Ajeng kaget. Dan histeris……..

“Rullliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………….!!! Tega amat sih kamu! Tanpa sungkan dia memeluk Rulli. 

Rulli merasa tak nyaman,  segera melepaskan pelukan Ajeng.” Jeng, lihat-lihat dong, kasihan mas Sapto tuh, cemburu” dia mengerlingkan pandangannya pada Sapto yang menatap kearah lain.

Ajeng yang tak mengerti apa-apa melihat mereka berdua.” Emang kenapa dengan Mas Sapto? Maksudmu….Mas Sapto menyukaiku, diam-diam begitu?

Mas Sapto terbatuk-batuk. Dia menjadi salah tingkah.

“Kita makan dulu yuk….lapar banget nih…..?” katanya mengalihkan pembicaraan.

***










                                   
           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken