My Sweet Plump Girl Bag 16




Suatu hari.....saat Rulli sedang sendirian di toko, sebuah sedan hitam masuk dan parkir dihalaman. Seorang laki-laki yang amat dikenalnya turun dan menyapanya. Ronald!Mau ngapain dia disini? Kedua alis Rulli bertaut.


“Bisa kita bicara sebentar, Rul?” pintanya tanpa basa basi dengan raut wajah serius.
Rulli mengangguk, dan menyilakannya duduk. Sedang dia menyeduh kopi untuk mereka berdua.

“Aku ingin kamu kembali pada Nunung” suara dan tatapan Ronald dingin, memandang Rulli.
“Kamu bicara apa, bukankah dia istrimu”

Ronald menyeringai, kemudian ia menyulut rokok dan dihisapnya kuat-kuat. Tatapan matanya menerawang. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Kontrak perkawinan kami sudah selesai. Apa kamu tidak tahu Nunung  mencintaimu, dan menikahiku, meskipun dia tahu aku sudah memiliki orang lain, karena aku menyelamatkan keluarganya dari lilitan hutang. Yang membuat Nunung ketakutan dan akhirnya memilih tinggal bersama neneknya!” Ronald menghembuskan asap rokok. Asapnya menyelimuti sebagian wajahnya. Dia meneliti Rulli. Dan tersenyum tipis.”Mungkinkah....kamu mendengar cerita yang berbeda, tentang hubungan kami sebelumnya. Nunung menjadi pihak tersakiti....?” 

Ronald seperti membaca pikirannya. Dia tak tahu banyak soal Nunung. Dia sangat tertutup padanya. Soal hubungannya dengan Ronald, dia mendengar setelah kematian Wak hamid. Itupun hanya sepotong-sepotong. Rulli menyeruput kopinya.

“Aku memang lelaki buruk Rul. Jujur saja, aku sepakat menjalani kawin kontrak dengannya semata-mata hanya untuk bisnis. Kulihat perkembangan bisnis rotimu maju pesat. Bila aku memiliki resep roti my sweet plum, itu akan sangat menguntungkan buat bisnisku. Dan satu-satunya cara adalah dengan mendekati Nunung. Dia yang membantumu didapur. Apalagi aku tahu, dia sedang butuh uang banyak.” Lelaki itu terkekeh.

Kepala Rulli mendadak pusing. Dia mencoba mencerna semua perkataan Ronald.Dia baru mengerti, kenapa nunung tiba-tiba menghilang. Mungkinkah dia membuat kesepakatan dengan Ronald. Kemudian kejadian dihotel, saat dia diajak Nunung. Semua keganjilan yang selama ini berkutat dikepalanya, mulai menemukan jawaban. Sebagai lelaki egonya terinjak. Bibit kebencian mulai muncul pada perempuan itu. Bukan hanya pada dia, tapi pada Ronald, suami perempuan itu. Seenaknya saja dia menyerahkan Nunung, yang masih sah menjadi istrinya. Memangnya dia penampungan. Orang bisa melemparkan sesuatu yang tidak disukainya lagi kepadanya. Bah.....persetan! 

Bukankah Nunung sudah memilih Ronald, andaikan saja dia mau terbuka padanya. Mungkin ceritanya lain.

“Terimakasih, sayangnya aku tidak tertarik lagi pada Nunung. Jadi telan lagi tawaranmu untuk menyerahkan Nunung padaku. Jalan kami sudah berbeda” kata Rulli tegas. Dia tak mau mengikuti permainan mereka.

Pembicaraan mereka terhenti,setelah kedatangan Ajeng dan Sapto yang baru mengantar pesanan kue. Ronaldpun pamit.

Ajeng langsung mendekati Rulli dengan penuh keingintahuan.”Tumben....dia kesini Rul, mimpi apa dia,jangan bilang ini tak ada kaitannya dengan Nunung?” suaranya sinis.Dia mengendus aroma ketidakberesan dalam sikap Ronald.

“Nggak ada apa-apa kok” jawab Rulli datar. Ia masih terpukul dengan cerita Ronald.

“Kamu gitu ya Rul, nggak sensi. Padahal aku sudah berbuat banyak untukmu. Aku tahu, cintaku bertepuk sebelah tangan padamu, Rul. Yang konyolnya hanya menganggapku tak lebih sebagai seorang sahabat. Anehnya, aku menyukainya. Apa kamu tahu. Gara-gara kamu Aku tidak tertarik, untuk mencari lelaki lain. Padahal, kalau aku mau, bisa saja aku memilih lelaki yang jauh lebih mapan dan tampan daripada kamu. Penampilan dan karirku mendukung. Namun,lagi –lagi, hasratku sudah habis untuk mencintaimu, Rul. Aku ingin berada disisimu, meskipun  hanya sebagai pacar gelap. Itu sudah cukup!!” Terlambat! Ajeng telah mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini rapat dipendamnya. Setelah mengatakan hal itu. Ajeng berlari kedalam, mengambil tas kemudian pergi membawa mobilya.

Rulli dan Sapto saling pandang. Keduanya terkejut dengan kata-kata yang diungkapkan Ajeng.
“Dia amat mencintaimu, Rul” kata Sapto perlahan.

“Aku tahu mas Sapto juga mencintai Ajeng” timpal Rulli. “Cinta memang rumit. Susah ditebak larinya kemana” lalu laki-laki itu menyibukkan dirinya didapur, satu-satunya tempat pelariannya. Dimana dia bisa mencipta dan mewujudkan mimpi-mimpinya dalam hasil karyanya. Sapto mengikutinya. 

“Apakah Ronald kesini, masih berhubungan dengan Nunung? Hati-hati Rul, kalau bisa lupakan Nunung. gadis itu hanya membawa kesialan buatmu” Tak urung, Sapto khawatir dengan kedatangan Ronald.

“Aku sudah melupakan Nunung, mas......”jawab Rulli tanpa menoleh. Lelaki itu menghargai pendapat sahabatnya. Sapto tahu sebagian perjalanan hidupnya. Dia dan Ajeng, selama ini menjaganya. Bukan hanya saat senang, saat terpurukpun mereka ada, menemaninya, menghiburnya. Tiba-tiba, Rulli merasa sangat bersalah pada Sapto, terutaman pada Ajeng.
“Kita kerumah Ajeng, yuk mas........” ajak Rulli kemudian

***
Empat tahun kemudian
Seorang lelaki berjalan hati-hati dengan kruknya, menuju sebuah cafe. Kemudian dia terlihat mencari seseorang. ”Rasta...kesini” lelaki yang duduk bersama dengan dua orang temannya melambai kearahnya.

“Maaf....kalian pasti lama menungguku.....”ucapnya sambil duduk di kursi.
“Nyonya besar, pasti telah membuatnya sibuk” kata salah seorang dari mereka.

“Iya...Nunung memang kelewatan, dia hampir-hampir tak memberiku kesempatan untuk keluar.”Sungut Rasta. “Ribet ternyata menjadi seorang suami dan ayah. Aku iri sama kalian yang masih bebas”

Semua yang berada disitu tergelak. “
“Sawang sinawang, Ras. Gue juga iri, ngelihat elu punya istri, yang masakin buat elu, yang jaga elu apalagi kalian sudah punya anak yang lucu” kata Rulli, diamini oleh anggukan Ajeng dan Sapto.

Tak ada yang menyangka bila akhirnya Nunung menjadi istri Rasta, setelah bercerai dengan Ronald. Mereka bertemu dan mengikat janji. Pun begitu dengan hubungan persahabatan Rulli dan Rasta yang sempat terputus. Tuhan mempertemukan mereka disebuah masjid. Saat Rasta tengah meratap meminta pertolongan pada Tuhan, supaya mengirimkan malaikat untuk membantunya membayar biaya operasi sesar istrinya. Dan Rulli membantunya.

“Terimakasih Rul.....elu baik banget sama gue. Gue nyesel telah banyak nyakitin elu dulu.” suara Rasta sungguh-sungguh. 

“Semua sudah diatur oleh Tuhan Ras, kita cuma jalanin doang. Udahlah....kita cerita yang senang-senang aja yuk. Supaya nggak stress bro.....!”jawan Rulli menepuk punggung Rasta.
Lelaki itu mengangguk. Dan kemudian larut dalam percakapan.

Sambil menikmati makanan dan suara lembut music instrumen budha bar. Rulli memperhatikan wajah sahabat-sahabatnya. Ajeng, dia semakin cantik diusianya yang matang. Dia membuka bisnis butiknya sendiri, disebelah Roti Ndut. Setelah kejadian itu. Ajeng tak pernah mengungkit soal perasaannya lagi padanya. Mungkin dia sadar, hal itu akan membuat lelaki lain kecewa. Sapto, masih tetap bijaksana, dengan bantuan Rulli dia membuka cabang Roti Ndut. Dia juga tak pernah mengutarakan cintanya pada Ajeng. Semua ditutupi dengan damai. Dan memilih untuk menguatkan persahabatan mereka. Dan dia sendiri,cintanya pada Nunung telah pupus. Dia juga enggan untuk mencari penggantinya. Semata-mata karena tak ingin menyakiti hati Ajeng. Sedang untuk meminang Ajeng, dia melihat Sapto. Dan memutuskan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dan enjoy dengan persahabatan mereka.

“Kalian kapan mau menyusul aku, heh” celetuk Rasta tiba-tiba.

Rulli, Ajeng, dan Sapto sama-sama melotot. “Ada pertanyaan lain nggak?” kata mereka hampir bersamaan.

Cinta memang rumit, serumit kehidupan mereka bertiga.

***Tamat ***

Comments

Tulisan Beken