My Sweet Plump Girl Bag 9



Siang itu, langit tak begitu bersahabat. Awan tebal dan hitam berarak, menutupi sebagian langit.

Rulli menengadahkan mukanya kelangit. Titik titik hujan mulai turun, kian lama kian deras.
“Shhhhhhh” desah lelaki itu, dan buru-buru menepi di depan sebuah minimart sebelum  dia dan barang bawaannya basah.

Kemudian seorang perempuan turun dari sebuah mobil sedan merah, dan menuju kearahnya.
“Rulli! Ayo ikut! Ajak Ajeng.

Rulli tak menanggapi. Dia malah asik menghisap rokok filternya dalam-dalam. Gadis itu kemudian menepuk pundaknya keras.

“Alamak! Lu gue ajak ngomong diam saja. Emang kamu nunggu siapa disini?”
“Nggak ada…” 

“Ya sudah, buruan.” Kemudian dia membukakan pintu untuk Rulli. “Apa elu tahu, Nunung khawatir banget sama elu. Dia tadi menelponku, ketika elu memaksa ke pasar dan lupa tidak membawa ponsel.” Katanya, mengikatkan sabuk pengaman dibadannya.

Rulli tak bereaksi. Dia tahu, semenjak dirinya menderita amnesia, dia banyak menyusahkan orang-orang disekitarnya. Dia menjadi marah pada dirinya sendiri.

“Maaf, sudah merepotkan elu.” Katanya dengan muka menunduk.

Ajeng memegang tangan Rulli. ”Rul, kalau ada apa-apa dengan elu, gue orang yang pertama yang bakalan sedih. Lu tahu kan, dari dulu gue demen sama elu. Elunya aja yang nggak perhatian.” Ajeng melirik Rulli disampingnya. Kemudian gadis itu sadar, percuma juga bicara panjang lebar dengan Rulli.” Ah…sudahlah, lupakan omongan gue tadi.” Kemudian Ajeng membawa mobilnya, membelah hujan.

Pas di lampu merah. Rulli melihat motor disampingnyanya. Mata Rulli menatap dengan seksama pengendara motor itu.Sekelebat bayangan muncul, dia sepertinya sangat mengenal motor dan pengendaranya itu, tapi….dimana, siapa dia? Berulangkali Rulli memijit keningnya, berusaha keras, mengeluarkan memori dikepalanya. Rulli menjadi gugup.

“Elu kenapa, Rul” tanya Ajeng dengan cemas. Dia melambatkan mobilnya

Rulli menggeleng. “Nggak papa kok. Cepetan yuk!” dia teringat dengan janjinya untuk membuat roti bun.
***
Setibanya ditoko, Rulli segera kedapur, dan tertegun melihat roti bun sudah terhidang di atas meja. Sedangkan Nunung masih sibuk melayani pembeli. Lantas Ajeng membantunya.
Dia memandangnya dan membauinya lama sekali. Nunung membuatnya dengan sempurna. Dia lantas menggigitnya. Matanya terpejam saat roti bun itu melewati kerongkongannya. Aroma mocca mengingatkannya pada seseorang. Memorinya melintas dengan cepat. Ia seperti merasakan dejavu. Tak sadar tangan Rulli gemetar.

“Rulli…..besok biar aku saja yach yang kepasar. Kamu tunggu toko aja.” Kata Nunung yang sudah berdiri disampingnya. Gadis itu tak melihat kegugupan Rulli.

“Jangan khawatir. Aku nggak papa kok, dan tolong jangan telpon Ajeng, kasihan dia nanti.” Kata Rulli sambil melihat kearah Ajeng.

“Santai saja Rul! Aku suka direpotin sama kamu, kok”bantahnya. Ia melemparkan senyum manisnya ke Rulli.

“Bagaimana kamu bilang tidak apa-apa Rul! Apa kamu tahu betapa takutnya aku! Bagaimana bila kamu tersesat, sedangkan kamu tidak ingat siapa dirimu! Nunung menggebrak meja.Dia sewot dengan jawaban Rulli

Rulli dan Ajeng sampai terkejut. Melihat reaksi Nunung.Untungnya pada saat itu, hanya mereka bertiga. Pembeli terakhir beberapa menit yang lalu pergi.

“Tenang Nung!” bujuk Ajeng, mencoba menenangkan Nunung. Ajeng memeluknya.
“Kapan ingatannya pulih, Jeng. Tiap hari aku dilanda kekhawatiran.Aku takut dia takkan bisa kembali kesini. Aku rela dia tak mengingatku, asal dia ingat siapa dirinya.” Isaknya dalam pelukan Ajeng. Hari ini dia begitu lelah. Dia didera perasaan bersalah tiap kali melihat Rulli.
“Ssshhhh...kita berdoa saja.Oke” Ajeng menepuk punggung Nunung. Hubungan mereka kian akrab, setelah Rulli terkena amnesia. 

Nunung mengangguk, diusapnya airmatanya. Kemudian matanya tertumpu pada Rulli yang sibuk menggambar sesuatu. Dan tak peduli dengan keadaan sekitar. Gadis itu menarik nafas. Merasa kasihan padanya. Lantas dia pergi kedapur, membuatkan minuman untuk mereka bertiga.

“Siapa dia Rul?” tanya Ajeng penasaran, tumben dia melihat Rulli menggambar dengan wajah sangat serius, sampai dahinya berkerut. Diam-diam gadis itu memperhatikan gambar sketsa yang dibuat Rulli dan Ajeng sepertinya mengenal wajah dalam sketsa itu. Ajeng ingin bertanya lagi, namun niat itu diurungkannya, gadis itu menunggu sampai lelaki disampingnya itu selesai menggambar.

Dengan ekspresi ingin tahu, Rulli menyodorkan sketsa itu ke Ajeng. “Aku melihatnya tadi dilampu merah” wajahnya berubah murung.

“Dia Rasta,kalian dulu akrab, dan berita buruknya, dia yang telah membuat dirimu amnesia” kata Ajeng emosi. Kedua tangannya mengepal. Kemudian dia langsung mengambil tasnya, dan tergesa-gesa pergi.

PRANGGGGGG….

Nampan yang dipegang Nunung jatuh, dan gelasnya pecah menjadi beberapa bagian dilantai. Gadis itu terkejut mendengar nama Rasta. Rulli menoleh. 

Nunung mengejar Ajeng. “Kamu mau kemana?”

“Mencari Rasta!!” Ajeng masuk kedalam mobilnya dan segera membawanya pergi. Yang ia inginkan saat ini adalah menemukan Rasta.

Nunung kembali ke toko dan melihat Rulli sedang membersihkan pecahan kaca. Dia melihat Rulli sangat rapuh.

“Semua itu gara-gara aku, Rul” timpal Nunung. ”Andai aku lebih sensitive. Semua ini tak bakalan terjadi” kata Nunung pelan.
Suasana berubah melankolis.

Rulli berdiri dan langsung mendekap Nunung. “Ssstttt….kamu nggak salah Nung.” Bisiknya lembut di telinga Nunung. 

Nunung menegang. Kepalanya menengadah, menatap dengan penuh curiga kemata lelaki didepannya. “Rulli….apakah kamu ingat siapa aku?”
Rulli mengangguk.

Nunung memeluknya erat. Sampai Rulli kehabisan nafas.” Oh Tuhan! Benarkah…..?” Jerit Nunung sambil melompat-lompat kegirangan.

“Nung….aku nggak bisa nafas nih” Rulli protes. Dia memencet hidung Nunung.
“Ups..sorry! gadis itu tertawa bahagia dan melepaskan pelukannya. Dan menyeret Rulli ke tempat duduk. Memintanya bercerita.

“Ingatanku kembali saat mencicipi roti bun buatanmu.Terimakasih, roti buatanmu benar-benar lezat, rasanya persis dengan roti buatanku. Kamu tahu tidak, aku membuatnya saat memikirkan dirimu” 

Nunung terkesima. Dia begitu takjub, roti buatannya bisa membawa Rulli kembali.
“Bagaimana dengan Ajeng, mas Sapto, Rasta, dan Pak Rahmat, apakah kamu juga telah mengingat mereka?” tanya Nunung hati-hati.

“Hmmmm….” Jawab Rulli singkat. Kemudian ”Sebaiknya, kamu sembunyikan dulu soal ini, aku tak mau mereka heboh.”

“Tapi, kasihan mereka” dia tahu Ajeng dan mas Sapto sangat menunggu hal itu.
“Please…….” Rulli memohon.

Nunung tak bisa berkata apa-apa lagi selain menyanggupi permintaan Rulli.
“Oh ya…..sebaiknya roti bunnya diberi nama. Apa kamu ada ide?” tanya Nunung kemudian.
Rulli berpikir sejenak. “My sweet plump” jawabnya” bagus tidak?” ia ingin terus mengingat Nunung.

Nunung mencibir,”Ih……kepanjangan tahu” Bagaimana kalau roti bulat” usul Nunung.
Rulli tak setuju. Dia ingat dengan  tahu bulat, yang dijual keliling.
“Terus apa dong….?” Nunung mulai cemberut.
“My sweet plump, udah nggak boleh protes. Aku suka sekali nama itu” jawab Rulli












Comments

Post a Comment

Tulisan Beken