Passion #1





1.    Cincin Nenek
Kabut menggantung tebal diluar, membuat udara sangat dingin. Jalanan tampak gelap dan lengan. Namun, di dapur di rumah Veasna. Kesibukan sudah terasa. Ibu sedari duduk di depan perapian. Menjaga api di tungku tetap menyala. Saat apinya mati, tangannya cepat mengambil sebuah potongan bambu dan meniupnya kearah tungku. Efek panas tungku membentuk segerombol keringat di keningnya. Perempuan yang masih terlihat cantik itu tak peduli, dan tetap fokus meniup. Ia sangat khawatir, masakannya belum matang sebelum suaminya berangkat kerja.


Dan Veasna, bocah lelaki dengan potongan tubuh kerempeng terlihat sedang memotong-motong kacang pajang, di sebuah bangku panjang. Sesekali ia memperhatikan ibunya. Tatapannya mengandung rasa kasihan. Andaikan saja ia memiliki uang banyak. Ia akan menghadiahkan perempuan itu kompor gas. Sehingga ibunya tak perlu lagi bersusah payah mencari kayu bakar dihutan. Yang perjalanannya lumayan sulit karena harus mengarungi sungai yang arusnya deras. Veasna menghembuskan nafas berat.

“Veasna....tolong bawa kesini sayurnya” pinta sang ibu lembut.

Veasna turun, mencuci sayurnya terlebih dahulu kemudian memberikannya pada ibu. Hari itu, hanya kacang panjang yang bisa ia petik di kebun. Ibu dan nenek Veasna adalah perempuan yang hebat. Dengan segala kekurangan keluarganya. Tak membuat mereka mengeluh. Justru semakin membuat mereka berpikir bijak.

Halaman rumah Veasna cukup luas. Untuk menyiasati pengeluaran didapur. Mereka bahu membahu bercocok tanam di sekitar rumah mereka. Ada sayur mayur, terong, cabe, tomat, sawi,bayam, kacang panjang, serta singkong dan ketela.Bukan hanya sayuran, Ibu juga menanan kunyit, jahe dan tanaman obat lainnya.

Bila hasilnya banyak, tak jarang ibu membawanya sebagian ke pasar, dan menukarnya dengan beras, minyak dan gula. Bapak Veasna, pegawai rendahan. Gajinya tak cukup untuk menghidupi mereka berenam, termasuk dua adik Veasna yang masih kecil.

“Ibu....aku ingin melanjutkan sekolah”kata Veasna pelan, duduk disamping ibunya.

Ibunya menoleh, “sabar ya nak.....ibu dan Bapak belum memiliki uang.” jawab ibu membelai kepala Veasna. Sebenarnya ia ingin sekali menyekolahkan Veasna.  Harusnya Veasna sekarang kelas 2 SMP. Kadang ia suka kasihan melihat anak lelakinya itu sibuk membantunya dirumah, baik bekerja di kebun, mencari kayu atau menjaga kedua adiknya. Tapi.....mau bagaimana lagi, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan, ditambah lagi dengan menyekolahkan Veasna, tentunya beban mereka akan bertambah berat.
 “Ya....bu.....”Jawab Veasna putus asa.
“Juallah cincin ini, Mandisa. Kasian Veasna....dia harus sekolah. Jangan buat anakmu seperti kita, bodoh dan hanya menjadi pekerja rendahan seperti suamimu.” kata nenek Veasna , mertua Mandisa. Tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka. Dan melepas cincin emas di jemari manisnya.

“Tapi bu....itu adalah cincin perkawinan ibu, peninggalam almarhum bapak” Mandisa menolak pemberian mertuanya. Ia tahu ibu mertuanya sangat menyayangi cincin itu.
Wanita tua itu tersenyum.”Almarhum ayah mertuamu pasti akan tersenyum disurga, bila melihat cucunya pergi kesekolah. “Lekaslah berganti pakaian, dan pergilah kepasar. Pulangnya, kamu bisa mendaftarkan Veasna kesekolah, sebelum hari terlalu siang. Biar ibu dan Veasna yang memasak”.

Ibu Veasna menggangguk, dia tak membantah perkataan mertuanya. Perempuan itu lekas-lekas membersihkan diri dan berganti pakaian. Namun....ia menjadi muram kembali saat suaminya melarangnya.

“Bagaimana kita bisa me
mbiayai sekolahnya bu, belum untuk membayar uang buku, seragam, transpostasi juga uang sakunya. Gajiku tidak cukup untuk membayar semuanya.Kamu tahu itu kan. Bukan aku tak mau menyekolahkannya, tapi.....tak ada yang dapat kulakukan lagi.” Suaminya menunduk, suaranya sedih dan frustasi, tak bisa menyekolahkan anaknya.

Veasna yang tak sengaja menguping, lansung menjawab perkataan bapaknya.”Jangan khawatir pak, Veasna akan bantu bapak dan ibu mencari uang, supaya kalian tidak berat.”
Ibu menoleh, ia takut suaminya bertambah marah.

Bapak melihat Veasna“Dengan cara apa, Veasna. Katakan pada bapak, apa rencanamu?” tanyanya lembut

“Veasna bisa bekerja pak, apa saja. Ijinkan Veasna sekolah ya pak?”
Bapak dan Ibu tak bisa berbicara lagi. Ibu menepuk pundak bapak.”Kita usaha dulu ya, pak, lagian Ibu dan nenek juga pingin Veasna sekolah.”

“Baiklah........” bapak akhirnya menyetujui. Veasna tersenyum lebar dan memeluk bapak. Angannya untuk sekolah tinggal selangkah lagi. Nenek dan ibu yang melihat mereka tersenyum.

“Ayo Veasna, bantu nenek melanjutkan memasak....”

“Siap nek” remaja tanggung itu melangkah dengan semangat menuju dapur, mengikuti neneknya, yang masih gesit diusianya yang tak lagi muda.

Setelah membantu sang nenek, ia segera memandikan kedua adik kembarnya Kya dan Kissa, kemudian menyuapinya. Bocah perempuan itu makan dengan lahap, meskipun dengan lauk ala sekedarnya. Veasna melihat adik-adiknya dengan sukacita.
Jarak Veasna dan kedua adiknya terpaut cukup jauh. Sekitar 11 tahun. Umurnya sekarang 15 tahun. Kya yang lucu dan Kissa yang sensitive, seperti oase yang indah bagi keluarga Veasna. Rumah mereka kian ramai oleh celoteh bocah kembar itu. 

***
Matahari sudah mulai condong kebarat. Namun Ibu belum juga datang. Hati Veasna dilanda kecemasan. Tak lelah ia menunggu dibawah pohon melinjo yang tumbuh besar di pelataran rumahnya. Matanya tak lelah memperhatikan mobil angkutan yang bersliweran di jalan raya. Hingga waktu makan malam, Ibu juga belum tampak.

Veasna, nenek dan ayah semakin gelisah. Hingga mereka tak berselera untuk makan.
“Fikrar, carilah istrimu.Mungkin dia mendapatkan masalah dijalan” ucap neneknya tak dapat menyembunyikan kecemasan. Meskipun ia tahu, anaknya baru pulang bekerja. Tentunya ia masih capai.

“Cari kemana bu.....??”
“Carilah kemana saja!” nenek setengah emosi. Kya dan Kissa yang belum tidur, ketakutan mendengar suara nenek.

“Biar Veasna saja yang mencari ibu, Pak. Bapak dirumah saja, jaga nenek dan adik” kata Veasna kemudian.Sambil bergegas, mengambil senter. Ia sangat membutuhkan alat ini untuk penerangan, karena jalan didesanya belum ada lampu jalan.

“Hati-hati nak......” kata Bapak dan nenek.

Veasna mengangguk. Namun.....saat ia hendak membuka pintu, ibunya sudah berdiri disana. Dengan membawa bungkusan diatas kepalanya

“Ibuuuuuuuu....kami dari tadi cemas menunggu...”katanya dengan hati sumringah menyambut ibunya. Kemudian dia membantu menurunkan bawaan sang ibu dan membawanya keruang tamu dimana nenek dan bapak menunggu

 “Maaf.....kalian sudah menunggu lama. Setelah menjual cincin ibu, Mandisa kemudian langsung ke sekolah, mendaftarkan Veasna” kata ibu, kemudian menghabiskan segelas air yang dibawa Veasna, meluruhkan semua dahaga yang sedari tadi ditahannya.
“Tapi....kenapa lama sekali? Veasna tadi akan mencarimu. Ibu sangat khawatir, terjadi sesuatu dengan kamu di jalan.”

Mandisa melihat kearah ibunya.”Saat menunggu angkot, Mandisa melihat seorang ibu yang kewalahan membawa belanjaanya. Kemudian Mandisa menawarkan diri membantunya. Eh....dia mau. Mandisa kerumahnya. Rumahnya besar sekali. Disana Mandisa disuguhi banyak makanan. Ada banyak kue dan buah” Sampai disitu, perempuan itu berhenti bercerita. Melihat ke Veasna, Kya dan Kissa yang berungkali menelan air liurnya. “Tetapi...ibu tak tega memakannya. Ibu ingat kalian dirumah. Bukan hanya makanan, ibu juga diberi uang, dan baju. Dan ibu sengaja jalan kaki. Supaya uangnya bisa membeli sepatu buat Veasna” Lantas tangannya mengambil bungkusan yang ia bawa dan membukanya. Disana ada tumpukan baju, sepatu dan makanan.

Mata Veasna dan kedua adiknya membelalak, didepannya ada buah apel merah yang menggiurkan serta biskuit biskuit bertaburkan coklat dan keju. Makanan mahal, yang hanya berada dalam khayalan mereka selama ini. Mereka ingin sekali melahapnya. Namun...tak berani. Meskipun mereka kekurangan. Ibu mengajarkan mereka supaya jangan mengambil sebelum dikasih.

“Makanlah.....”kata ibu setelah terlebih dahulu menyisihkan buat nenek dan bapak.
Semua tersenyum bahagia. Mulut Kya dan Kissa tak henti mengunyah biskuit yang baru pertama kali dicobanya. Veasna melihat mata ibu dan neneknya berkaca-kaca.













Comments

Tulisan Beken