Passion # 2




Hangatnya Pelukan Bapak

Hampir sepanjang malam, Veasna terjaga diatas amben tua, yang selalu berderit saat ia membalikkan badan. Rasa antusias menunggu pagi membuat kantuknya hilang. Remaja tanggung itu lantas bangun dan mengelus sepatu barunya. Warnanya hitam polos. Berulangkali bibirnya menyungingkan senyum. Membayangkan betapa gagahnya dia esok pagi, memakai seragam dan sepatu baru. Buku dan bolpoin sudah ia masukkan ke dalam tas yang dibuatnya sendiri. Tas dari karung goni, bekas kopi yang didapat bapak dari pabriknya.


Kokok ayam jantan mulai bersahut-sahutan diluar. Veasnapun menyeret sandal bututnya ke dapur. Dan mulai menyulut api di tungku. Menjerang air panas, serta menanak nasi. Ia tak ingin membangunkan ibunya. Sebab semalam, ibunya tidur sangat  larut setelah merapikan seragam sekolah Veasna.

Sambil menunggu nasi matang. Dia pergi ke kebun di belakang rumahnya. Mengambil terung, tomat dan cabe secukupnya. Hari ini dia akan membuat terung kuah santan pedas, kesukaan ibu dan nenek. Kemarin, saat dia mencari kayu bakar, dia menemukan kelapa jatuh di dekat hutan dan membawanya pulang. Veasna memasak sambil bernyanyi kecil. Hatinya sungguh ceria. Setelah selesai memasak. Ia cepat-cepat menyapu rumah dan halaman. Kemudian bergegas membersihkan diri dan menganti pakaian.

Ibu dan nenek yang baru bangun, terkejut ketika melihat Veasna sudah rapi. Saat ke dapur, makanan sudah terhidang di meja makan. Begitu juga rumah dan halaman, sudah bersih.
“Wah.....kamu jam berapa bangun, nak?” tanya ibu heran. 

“Veasna tidak bisa tidur bu.”

Nenek yang mendengar jawaban polos Veasna, tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.”Kenapa tidak tidur, pasti kamu takut bangun kesiangan.”
Veasna tersipu malu.

“Ayo makanlah dulu. Supaya kamu mendapat energi” Ibu segera mengambilkan nasi dan sayur untuknya.

Tapi Veasna hanya memakannya sedikit. Nenek memarahinya. “Veasna....jangan buat nenek dan ibumu sedih. Tolong, habiskanlah makananmu. Belum tentu esok kita dapat makanan seperti ini lagi”katanya sedih

Veasna menunduk.”Bolehkah,nasinya kubawa untuk bekal sekolah, nek”jawabnya singkat. Nenek tidak salah. Dia tahu Ibu ketat sekali dalam mengatur keuangan. Supaya keluarga mereka dapat makan dua kali sehari, meskipun dengan nasi dan lauk ala kadarnya. Tak sedikitpun keluar keluhan dari mulutnya, walaupun gaji suaminya, hanya cukup untuk biaya makan selama 2 minggu. Dan sisanya ia, harus berupaya untuk menutupinya sendiri. Dengan bekerja serabutan sebagai tukang cuci, tukang gosok, kadang membantu bersih-bersih dirumah tetangga. Ia jalani kehidupannya dengan tenang, tanpa kerumitan.

Nenek mengangguk, dan membantu membungkuskan nasi untuk cucunya itu. 

Bapak yang baru bangun dan melihat Veasna sudah rapi, datang memeluknya. Mereka berpelukan untuk beberapa detik.“Baik-baik disekolah, kamu harus berhasil Veasna, dan tolong jaga Kya dan Kissa” kata bapak dengan mata berkaca-kaca. Veasna mengangguk dan berpamitan.

***
Wajah Veasna berubah sumringah, saat dirinya sampai di depan pintu gerbang sekolah. Diatasnya tertulis SMP PANCA KARYA. Baju seragamnya basah bersimbah peluh. Setelah berjalan kaki 5 Km dari rumahnya. Disana ada 3 bangunan yang dipergunakan untuk ruang kelas 1 sampai 3. Dan 1 bangunan terpisah yang digunakan sebagai ruang guru dan kepala sekolah.

Veasna berjalan tegap menuju kelasnya. Lalu, seorang anak bertubuh gempal dengan rambut kasar, berdiri menghadang langkahnya.  “kamu kelas berapa?” tanyanya tanpa basa basi.
“Satu” jawab Veasna singkat. Matanya tajam menelisik.

“Sama, aku juga kelas satu. Perkenalkan namaku Zamrony, anak saudagar tembakau” Ia membusungkan dada.Pongah.

“Veasna”
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas

Di kelasnya ada 20 murid, 8 laki-laki dan 12 murid perempuan. Ia duduk sebangku dengan Zamrony. Veasna belum sempat berkenalan dengan mereka semua. Karena Pak Tarno, guru bahasa Indonesia sekaligus Wali kelas mereka datang.

Pak Tarno orangnya lucu dan cakap dalam mengajar. Ada saja joke-joke segar yang ia lontarkan, supaya anak-anak tidak mengantuk. Veasna menyukainya. Dua jam pelajaran tak membuatnya bosan.

Lalu, saat pelajaran ke Matematika, Pak Ahmad, Kepala sekolah mereka, memintanya membereskan buku dan segera datang ke kantornya. Wajahnya terlihat serius sekali. Semua mata temannya tertuju padanya.

“Kamu salah apa?” Zamrony menyikut lengannya.
Veasna mengangkat kedua bahunya. Mungkinkah, ia dilarang pergi kesekolah ini, ah sepertinya tak mungkin. Ibu sudah membayar uang sekolahnya. Semalam ia lihat sendiri kwitansinya.Pertanyaannya ia dibantah sendiri.Fikiran Veasna tiba-tiba tak nyaman. Jarak antara kelasnya dan ruang kepala sekolah seperti lorong panjang, yang mencekik lehernya. Veasna berulangkali membuang nafasnya. Dan semakin tertekan saat membuka pintu ruang Kepala Sekolah.

“Pak Rohim......kenapa bapak ada disini?” Veasna terkejut saat melihat tetangganya berada diruang Kepala Sekolah. Pikirannya langsung melesat jauh. Apakah terjadi sesuatu dirumahnya, Ibu, nenek, atau kedua adik kembarnya.

“Bapakmu kecelakaan Na. Saya diminta datang menyusulmu”

“Baaapaaakkkkk keeeeceeeelaakaannnnn.....”Veasna setengah tak percaya dengan pendengarannya. Seketika wajahnya pucat. Parahkah bapak? Hinggapak Rohim datang menjemputnya?

“Pulanglah nak?” Kata Bapak Kepala Sekolah menepuk bahunya.
Setibanya dirumah. Pikiran buruk semakin menyergap Veasna, saat melihat sekumpulan bapak-bapak membawa keranda kerumahnya.

“Baaapaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkk” Veasna melolong, menghambur ke dalam rumah. Dan melihat ibu, bersimpun, menangisi tubuh bapak yang sudah kaku.

“Bapak.....kenapa tinggalkan Veasna” Tangisnya pecah. Kebahagiaan yang tadi pagi ia rasakan seketika tercerabut sampai ke akarnya.

“Sabar nak. Kita harus kuat” Ibu menghiburnya. Ia memeluk putra sulungnya. Kya dan Kissa yang belum tahu apa-apa datang dan ikut memeluk Veasna. Tangis Veasna semakin kencang, saat melihat kedua adik kembarnya.

“Veasna...tolong jaga Kya dan Kissa” tiba-tiba ia teringat kata-kata bapak tadi pagi.




Comments

Post a Comment

Tulisan Beken