Biyung




Syabna membawa nampan ke dapur dan langsung meletakkannya ke dalam bak cuci piring. Gadis manis itu gundah. Untuk kesekian kalinya biyung menolak masakan yang dibuatnya. Lantas, ia menyeret kursi ke dekat jendela, lalu ia duduk disana. Matanya menembus titik-titik hujan, yang membawanya tenggelam dalam fikirannya sendiri. Perempuan itu sangat mengkhawatirkan keadaan biyungya yang semakin lama semakin lemah. Bujuk rayunya seolah tak mempan untuk membuat biyungnya makan, meskipun hanya sesuap nasi.


Hhhhhhhhhhhh……desahnya perlahan.

“Kucari dimana-mana, malah kamu merenung disitu….?”

Syabna menoleh, dan melihat Adam,kakaknya dengan pakaian basah kuyup menghampirinya. Syabna kemudian buru-buru mengambilkannya handuk dan baju ganti. Sebelum abang kesayangannya itu terserang flu.

“Biyung mana Syab?” Tanya lelaki itu setelah selesai mandi.
“dikamar. Biyung tak mau makan Kak….kalau begini terus, aku takut biyung sakit.” Kata Syabna cemas.

Adam tak begitu memperhatikan perkataan Syabna. Dia sibuk memasukkan potongan bakwan sayur ke mulutnya, dan mengunyahnya lahap.

Kesal dicuekin, Syabna meraih sepiring bakwan diatas meja dan memasukkannya ke lemari.
“Eh….sini bawa bakwannya. Kakak lapar tahu”

“Ihhh….makanya dengerin omongan Syabna dulu…” Syabna mulai cemberut. Dia merasa kakaknya masa bodo dengan keadaan biyungnya.

“Bukan begitu Syab, tapi saat perut kakak lapar, kakak tak bisa konsentrasi. Tolong bawa piringnya kembali. Biarkan kakakmu ini makan beberapa potong bakwan, setelah itu kita bicara serius.”Adam memohon.

Syabna tak tega dan membiarkannya menghabiskan hampir sebagian bakwan. Kakaknya begitu lahap. Syabna senang melihatnya.

“Gimana terus kak…….?”

“Hmmm…..mungkin masakanmu kurang enak kali Syab, atau mungkin biyung menginginkan masakan yang lain. Kamu tahu selera biyung kan?”

Syabna mengangguk. Biyung termasuk picky eater. Tak mudah memenangkan hatinya. Tapi…biyung sudah mengajarinya memasak, dan menurut penilaian biyung masakannya enak. Cocok untuk buka catering.

“Apa kamu sudah menanyakan apa yang diinginkan biyung, Syab?” Tanya Adam lagi.
“Sudah, sayangnya biyung tak mau menjawab. Biyung hanya diam membisu, sambil memandangi saputangan. Aku tak pernah melihat saputangan itu sebelumnya.” Kata Syabna, sambil keningnya berkerut.

Adam mengangguk-angguk mendengar penjelasan adiknya. Sikap ibu memang beberapa hari ini, tak seperti biasanya. Dia banyak melamun dan berdiam diri di kamar. “Apa kamu tahu, mungkin biyung punya masalah dengan orang lain, Syab.” Timpalnya lagi. Pernah dia malam-malam, mendengar tangisan tertahan dari kamar ibu. Sebenarnya hatinya tergerak untuk menanyakannya. Namun, dia lupa gara-gara dikejar deadline.

Syabna lagi-lagi menggeleng. “Begini saja, kak. Kakak mencari tahu lewat ibu. Aku mencarinya lewat tante Farah.” Tiba-tiba gadis itu teringat dengan sahabat biyung.

“Oke……” sahut Adam. Dia menjentikkan jarinya. Syabna sering dia andalkan untuk mengatasi masalah rumah. Sedangkan dia, sibuk dengan pekerjaan kantor.

Sebagai anak sulung, dia bertanggung jawab untuk melindungi keluarganya setelah bapaknya meninggal. Sayangnya pekerjaan kantor sering menenggalamkannya pada tugas-tugas tak berakhir. Beruntung dia memiliki adik seperti Syabna yang trengginas. Sehingga dia terbantu. Biyungnya juga termasuk perempuan mandiri. Sehingga tak merepotkan dirinya.

***
Di hari minggu yang berawan, Syabna sendirian pergi menemui Tante Farah dirumahnya, tanpa meminta ijin pada Biyung.Sedangkan Adam mengajak Biyung jalan-jalan ke taman bunga.

Rumah bercat ungu itu, masih sama. Tak banyak mengalami perubahan. Hanya tamannya saja yang semakin rimbun. Dulu dia sering kesini bersama bapak, namun semenjak beliau tiada. Dia nyaris  tak pernah menjejakkan kakinya disini. 

Tangan Syabna memencet bel, setelah menunggu beberapa saat. Sesosok perempuan cantik yang badannya masih terjaga datang membukakan pintu untuknya.

“Syabna….engkaukah itu. Subhanallah, cantik sekali kamu, nduk. Hayo….sini masuk.” Ada keharuan dalam nadanya. Perempuan itu langsung memeluknya, matanya setengah berkaca-kaca dan membawanya ke ruang tamunya yang tertata cantik.

“Mau minum apa kamu Cah ayu?”
“Air putih saja, tante tapi diisi coklat….” Jawab Syabna sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Kesukaanmu masih seperti dulu, nduk”kata perempuan itu sambil tertawa, lalu kakinya melangkah ringan menuju dapur.

Sambil menunggu Tante Farah, Syabna mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dan matanya tertumpu pada sebingkai foto diatas piano. Reflek, kaki panjangnya tergerak mendekatinya. Didalam foto itu,Tante Farah sedang menggendong anak kecil yang sedang membawa saputangan. 

“Ini siapa tan….” Tanyanya penasaran. Setahunya Tante Farah masih sendiri.

Melihat Syabna memegang foto. Tante Farah, langsung merebut foto ditangannya dan memasukkannya ke dalam laci. Dia tiba-tiba limbung. Syabna kaget.

“Tante…kenapa? Apa tante Farah sakit, kita kedokter yuk Tan…..? 

Tante Farah menggeleng,”Tante hanya pusing saja….”Tangannya memijit-mijit keningnya.
Melihat wajah tante Farah yang berubah pucat, Syabna mengurungkan niatnya untuk menggali informasi darinya. Perempuan muda dan cantik itu, lantas berpamitan. 

Disepanjang perjalanan, foto didalam bingkai emas itu menggelantung di kepalanya. Anak kecil dan sapu tangan itu mengingatkannya pada………biyung! Kepalanya mendadak pusing. Tak ada satupun clue yang terjawab.

Dia cepat-cepat melarikan motornya menuju rumahnya. Dan langsung menuju kamar Biyung. Dan mencari sesuatu didalam almarinya. Dia tak peduli telah lancang menggeledah almari biyung, hanya untuk memenuhi rasa penasarannya. Kemudian dia menemukan sebuah dompet hitam yang terselip dibawah tumpukan buku-buku koleksi milik almarhum bapak. Dia membukanya dan menemukan sesuatu yang mengguncang hatinya. Badannya seketika lemas. Airmatanya langsung luruh, membasahi pipinya yang ranum. Dia seperti tak percaya dengan apa yang dibacanya. Berkali-kali gadis itu mengucek-ucek matanya. Namun yang dilihatnya tetap sama.

Dia bukanlah anak kandung biyung. Tetapi anak tante Farah. Perempuan yang selama ini menjadi sahabat ibunya.









Comments

Tulisan populer