Dilindungi Allah Dari Hutang Riba.


abovewhispers.com


Dua hari yang lalu, saya banyak menangis. Pasalnya, printer diwarnet rusak. Dan lucunya saya tak memiliki cukup uang untuk membelinya.Dirumah ada uang, tapi itu sudah saya plotkan untuk membayar cicilan. Sedangkan uang di bank tinggal 250 ribu. Kepala saya sudah pusing, darimana dapat uang. 

Dilema, bila tak cepat membeli, akan banyak mengecewakan pelanggan. Printer, termasuk salah satu alat vital diwarnet, setelah koneksi internet dan computer. Sebab, anak-anak  bermain game mereka juga mengerjakan tugas sekolah.

Misua sudah stuck, beliau menyarankan kita beli printer dengan cara kredit saja, supaya tidak mengganggu uang cicilan. Karena dari pagi…kita sudah banyak menolak orang yang datang ke warnet. Gegara printer rusak.

Bukannya seneng, tangis saya makin pecah. Saya sudah berkomitment untuk tobat dari hutang riba. Haruskah hanya karena printer seharga 2.5 juta,saya langgar komitment? Mosok sih, Allah nggak melindungi umatnya yang telah tobat?.Saya bergeming.”Tunggu besok yank, siapa tahu ada rezeki, tolak saya halus.”

Saya tipe orang yang lebih suka memberi daripada menerima, termasuk tipe pemalu untuk meminta ataupun meminjam sesuatu dari orang lain, meskipun itu keluarga sendiri. Didikan kakek yang keras, yang tak pernah memperbolehkan kami meminjam, terpatri kuat dalam otak saya. Namun….kemarin, saya telah melanggarnya.

Dengan menanggung rasa malu. Saya rendahkan diri saya untuk meminjam uang dari kawan. Berharap,dia dapat memberikan saya pinjaman lunak. Dengan harap-harap cemas, saya menunggu kabar darinya. Sayang..dianya sedang travelling.

Setelah usaha meminjam tak ada hasil. Saya tak mau lagi merendahkan dirilagi pada orang lain. Cukup pada Allah saja saya meminta pertolongan.

“Ya allah, saya butuh printer nih, tolong bantu saya mewujudkannya,serta tolong lindungi saya dari hutang” doa saya. Sambil terus membaca "hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir" dan surah al insyirooh berkali-kali.

Hati saya mulai tenang.Itu sudah sebuah keajaiban.

Esok paginya, misua menanyakan lagi keputusan saya soal kredit printer. Dengan tegas Saya menolak. Membeli printer dengan cara kredit, memang solusi instan yang baik, tetapi untuk jangka panjang tentunya akan memberatkan. Hutang kami bertambah, parahnya, terjerat riba lagi. Saya tidak mau. Saya yakin, pasti Allah akan bantu. Lagian saya tak mau gambling, dengan kondisi ekonomi saat ini. Iya kalau bagus, kalau enggak. Ntar kita yang berabe. Hidup semakin tak tenang karena mikirin bayar hutang.

 Misua akhirnya tidak mau memaksakan kehendaknya, kemudian setuju dengan saran saya sebelumnya, yaitu dengan cara mempost poned cicilan dulu, lalu uangnya dipakai untuk membeli printer baru.

Dan alhamdulillah, Allah maha baik. Harga printer turun. Kami bisa membeli Epson L310. Masih ada sisa uang. Bisa disimpan lagi untuk bayar cicilan yang memang belum jatuh tempo.
Sedangkan hasil pendapatan kemarin, setelah dikurangi uang belanja hari itu, saya serahkan semuanya pada misua untuk disedekahkan ke masjid. Lagi-lagi berharap supaya Allah menyelesaikan soal uang cicilan yang belum genap.

Semua beban didada saya lepaskan. Pasrah…sepasrah pasrahnya. Yang penting saya bekerja dan berdoa. 

Janji Allah itu memang ada, DIA tak pernah bohong pada umatnya.

Kami mendapat arisan. Subhanallah……uangnya cukup untuk mengganti uang printer kemarin, bukan hanya printer, Saya juga bisa membeli hape, yang emang kondisinya amat mengenaskan, diselotip sana sini. 

Tak henti-henti kami bersyukur. Allahu Akbar, Allah memang ada. Terimakasih, telah mendengar dan meneguhkan hati kami. Aamiin.

Comments

Tulisan Beken