Dipthong

Fidia's properti

Untuk kesekian kali, chandra berusaha untuk mengalihkan ingatannya pada seorang lelaki yang telah mencuri mimpinya, menepis semua khayal, dan telah mengobrak abrik isi kepala, serta perlahan-lahan mulai meracuni logika Chandra. Aku tahu ini salah! Tapi kenapa aku masih diam tak bergerak, dan mengharapkan secuil harapan meskipun hal itu musykil!

“Nixonnnnnn…I miss you!” ucap Chandra lirih,menatap layar ponsel. Menunggu sebait kata meneduhkan darinya. Lima menit rasanya seperti setahun.Perempuan itu menggigit bibirnya seperti orang gila.


“Chandra! Stop it, don’t love him.” Chandra mengerang, Noni memelotinya. Ia geram mendengar Chandra mengoceh tentang Nixon sejak pagi tadi.
Noni, sahabatnya sejak SMA, dialah yang tahu rahasia yang selama ini dia pendam. Mulanya Chandra menyimpannya sendiri. Tapi….kemudian dia tak kuat menanggungnya. Pesona Nixon telah menghipnotis dirinya sampai ke urat nadi. “I love him so much, Non”  Chandra mulai kehilangan kendali atas hidupnya.

Noni menatap sahabatnya dengan wajah kasihan setengah gusar. Chandra yang periang berubah menjadi pemurung, gara gara lelaki yang bernama Nixon.

“C’mon…..wake up, you just adore him, you are not falling in love with him.” Noni menyodorkan segelas coklat panas ke tangan Chandra. Perempuan itu menerimanya dengan tangan gemetar. Dan menyesapnya pelan-pelan. Beberapa teguk coklat panas, telah mengisi perutnya, yang beberapa hari ini sering kosong. Chandra terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan pagi ini, ia kabur ke rumah Noni.
”Ingat laki dan anak elo, Chan…”

“Iya…Ni….gue tahu, kita tak mungkin bersama. Kita jauh berbeda” elak Chandra tak berani menatap wajah Noni. Yang lebih galak dari ibunya sendiri.
Chandra membuang nafas pelan. Bicara tentang cinta, Hmmmm…..ntahlah, apakah dia masih menyintai Merdeka, suaminya. Hubungan mereka masih baik, namun semakin lama ia merasakan hubungan mereka seperti partner kerja. Sekian tahun bersama telah mematikan hasrat.

Mereka sibuk dengan dunia dan hobby mereka sendiri. Merdeka memang sayang anak. Semua untuk anak. Tapi untuk Chandra sendiri. Ah….. Merdeka acuh. Lelaki itu tak pernah memberinya sesuatu atau setidaknya menanyakan apa yang diinginkkanya. Sebagai perempuan mandiri, Chandra tak pernah meminta atau merengek minta sesuatu padanya. Dia kadang iri, pada teman-temannya, yang sering memamerkan kebaikan suaminya. Dan wajar bila Chandra juga menginginkan Merdeka bisa memperlakukannya seperti suami teman-temannya. Tapi sayang, Merdeka tidak sensitive. Dikasih kodepun Merdeka tidak ngeh. Chandra menjadi lelah.

Semakin Chandra memikirkannya. Hatinya semakin membeku. Dia sudah kehilangan Merdeka sejak lama.Merdeka yang ambisius dan pekerja keras. Kini mlempem seperti apem. Menulari hidupnya yang kian layu, monoton tanpa gairah.

Dan kehadiran Nixon, membawa perubahan pada hidupnya. Nixon perlahan membangunkan mimpinya. Perlahan, hati Chandra mulai bergeser pada laki-laki itu. Nixon beda dengan lelaki lain, dia tak pernah merayunya dengan kata-kata gombal. Nixon justru terus memberinya semangat untuk mencoba hal-hal baru.
“Bersamanya adrenalin gue memuncak. Jujur gue butuh seseorang seperti Nixon” kata Chandra pada Noni.

“Nixon hanya ada dalam khayalan elo saja Chandra. Dan Merdeka adalah realita elo!  Mestinya elo sadar itu! Bukannya malah menggilai Nixon.” Noni mengambil kue jadah didepannya, dan memakannya penuh nafsu.

“elo nggak ngerti non, elo belum ngerasain apa yang gue rasain sekarang. Wanita mana sih,yang tidak klepek-klepek, saat ada lelaki yang perhatian dengannya. Sedangkan suaminya sendiri tak memperdulikannya. Gue sadar kita memang beda, dan nggak tahu hubungan kita mau kemana nanti. Gue nikmati saja sekarang, masa bodoh dah.”
Intensitas suara Chandra mulai meninggi. Ia mempertahankan egonya.

“Terserah elo dah. But please, jangan bilang gue nggak pernah ngasih warning. So…kalau nanti ada apa-apa, jangan memelas datang ke gue.”
Kemarahan tampak jelas terpendar dari wajah Noni. Ia benar-benar kesal dengan sikap keras kepala Chandra.
***
Sambil menunggu pesanan jus mangganya datang. Chandra mengedarkan pandangannya ke ruangan café yang tak begitu luas. Lantas  matanya menangkap pasangan, lelaki dan perempuan yang duduk disudut café, mereka sedang melempar canda. Si Lelaki terlihat kharismatik dan si perempuan…….hei….dia seperti sangat mengenal suaranya.
Chandra, memusatkan pendengarannya. Ya…dia tak salah. Ia sangat akrab dengan suara perempuan itu.

Chandra penasaran. Dia melangkah dan pura-pura pergi ke toilet, yang melewati tempat duduk mereka. Mendekati meja mereka. Wangi vanilla, menusuk lembut hidung mungilnya. Chandra menoleh. Tak sadar dia memekik kecil dan buru-buru menutup mulutnya.
“Hi….Noniiii…….”

Chandra tak sadar menyapa sahabatnya.
Perempuan disampingnya tak kalah terkejut. Garpu yang dipegangnya sampai jatuh kelantai. Perempuan itu gugup Chandra memergokinya bersama seorang laki-laki.
“Hi juga” Noni berdiri dan melakukan cipika cipiki dengannya.Sikapnya sangat kaku. Dia lantas memperkenalkan Chandra pada teman lelakinya itu. Kemudian, buru-buru dia menarik lengan Chandra, dan membawanya ke toilet.”Elu ngapain disini?”
“Lah…elu, ngapain disini?” Chandra balik bertanya. Matanya menyelidik wajah sahabatnya.
“Nanti gue ceritakan, but please keep this secret.” Pintanya memohon dengan wajah memelas.
“Oke…..”

Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Dan Chandrapun akhirnya memutuskan pulang,urung menikmati jus mangga yang telah dipesannya.
Sore hari, Noni datang kerumah Chandra dengan membawa keju cake kesukaannya.
“Bagaimana hubungan elo dengan Nixon?” tanya Noni tiba-tiba.
Chandra tersenyum, dia dan Noni lebih 3 bulan tidak bertemu, tak saling telepon, apalagi bercerita. Mereka memutuskan untuk rehat sejenak, berpisah sementara waktu.
“He is just a best friend, no more” jawab chandra singkat.
“Bukankah elo sangat mencintainya?”

“Yep.....”
“Lantas......apakah elo dan Merdeka mau divorce?” Noni menggeser tempat duduknya.
“Ih...sadis, enggaklah. Gue punya Abel. Dia segalanya bagi gue. Haruskah demi keegoisan gue, gue cabik kebahagiaan Abel dengan bokapnya? Nggak Ni, gue nggak sekejam itu. Seburuk apapun Merdeka, dia adalah laki gue yang telah gue pilih, dan Abel adalah anak gue. Ada tanggung jawab besar di pundak gue”

Mata Noni mengembun, lantas dia terisak....mendengar jawaban Chandra.
“Kenapa Ni.....? Apakah Elo dengan Ical sedang bermasalah?”
“Hubungan gue dan Rama sudah terlalu jauh Chan. Gue bosan dengan Ical, yang terus menuntut gue menjadi istri perfect untuknya. Gue capek, gue pengen bebas darinya.” Noni tergugu dalam pelukan Chandra.

Chandra mendesah, lelucon yang tadi disiapkannya untuk Noni, kini ditelannya kembali. Bukan saatnya untuk mencandainya saat ini.

“Gue malu sama elo Chan, gue nasehatin elo, tapi look.....gue malah terjebak dengan perkataan gue.” Noni mengusap ingusnya dengan selembar tissue yang dibawanya.
“Hahahhaha..santai saja, it’s normal. I can’t judge you even you doing something wrong. Cinta memang penuh misteri. Sekarang bagaimana kita menghandlenya.” Kata Chandra diplomatis.

“Lantas apa yang harus gue lakukan Chan......?”

Chandra terdiam sejenak. Pertanyaan sama, saat dia sedang gila-gilanya dengan Nixon.
“Ask your self, do what you want to do, But remember Akbar, your son.....”
Jleb.........
Noni merenung lama.........
“Ni...elo sebaiknya pulang dulu gih, tadi babysitternya telp gue,katanya badan Akbar panas, tadi dia telpon elo, katanya..telpon elo mati.”
“HAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH” Noni segera menyambar kunci mobilnya , pulang. Tanpa sempat pamit pada Chandra.

Chandra lantas pergi ke kamar anaknya. Abel sedang tertidur pulas memeluk boneka Teddy bear. Chandra mengusap wajah putrinya yang begitu polos, diciuminya wajah anaknya, yang telah meluruskan langkahnya.







Comments

Tulisan Beken