Kulkas




Landuy membuka celengan kaleng yang disimpannya diatas almari. Tutup kaleng itu dibuka, dan dikeluarkannya kepingan uang logam seribuan didalamnya. Beberapa detik kemudian, dia sibuk menghitung. 1000….2000…..10000…….setelah di total semuanya 500 ribu.

landuy tertegun menatap uang recehan didepannya yang sudah tertata rapi. Matanya menerawang keatas plafon yang mulai rontok catnya.


Seminggu yang lalu, istrinya Juleha, merengek minta dibelikan sebuah kulkas. Warnanya merah putih, seperti bendera Negara Indonesia.Landuy ingin menolaknya. Selain dia belum punya cukup uang, dia juga tak perlu kulkas. Apa yang mau disimpan disana nanti? Mereka keluarga sederhana. Makannyapun sederhana, tempe, tahu termasuk teri. Sayuran kadang metik di kebun, kadang nyari disawah, kalau pingin sayur lodeh papaya, tinggal minta ke tetangga. Mereka tinggal didesa, semua hidup rukun dan saling berbagi.

Namun….mengingat Julehan sedang hamil muda, Landuy cuma bisa diam. Ia takut anaknya ileran nanti. Hih!

“Sudah, turutin saja, keinginan istrimu itu Nduy……siapa tahu anakmu nanti membawa berkah. Harus diturutin Nduy, biar anakmu nggak ileran.”

“Hmmmmm” Landuy menjawabnya dengan tak bersemangat. Kemarin ia sudah melihat-lihat harga sebuah kulkas, Harganya mahal diatas satu juta limaratus ribu rupiah. Uangnya dia kurang.

“Kalau kamu punya kulkas, simbok kan bisa tiap hari minum air dingin.”Timpal simbok lagi.
Landuy menoleh. Ia kesal. Simbok, malah ikut-ikutan memprovokasi untuk beli kulkas.

“Weleh, biasanya simbok minum juga dari kendi.” Sindirnya halus. “Lagian warna kulkas yang diminta Juleha tidak ada.” Landuy mengusap peluh di keningnya. Dan menyebutkan warna yang diminta oleh istrinya.

“Itu tantanganmu le. Gunakan kreatifitasmu.”
Landuy tak percaya simbok bisa bicara intelek begitu.”Wuidih..kata-kara simbok canggih sekarang. Belajar dimana mbok…..”

Simbok tertawa terkekeh, “Simbok tahu dari bapak-bapak pejabat yang dating kesini.” Kata perempuan tua itu, sambil mengunyah sirih dengan nikmat.

“Baiklah….Landuy pergi dulu, mbok….”lelaki itu mencium tangan simboknya.
“Ati-ati le”

Landuy mengangguk.
***
Ini sudah hari ketujuh, Landuy mengayuh sepedanya, keluar masuk kampong dan perumahan, untuk mencari kulkas bekas. Sebab untuk membeli kulkas baru keluaran toko uangnya tak mungkin cukup

Cuaca panas  menyengat, membuat badan Landuy lelah. Ia lantas berhenti di sebuah pos kamling, dan merebahkan badannya disitu sejenak.

“Es dawet mas? Seorang penjaja es putar berhenti, lalu duduk disebelahnya. Topi yang ia kenakan ia pakai untuk mengipasi wajahnya yang menghitam terbakar matahari.
Landuy tak menolak.

Penjual es dawet itu sumringah, dan segera membuatkannya segelas es dawet dan memberikannya pada Landuy.

Tanpa bersuara Landuy  menyeruput es dawetnya. Rasa segar lantas memenuhi kerongkongannya. Es dawetnya enak, manisnya alami tanpa ditambah pemanis buatan. Dalam hitungan menit,ia menghabiskan es dawetnya. Ia lalu merogoh sakunya, mengambil beberapa helai seribuan dan memberikannya pada mas tadi.

“Mau kemana mas?” Tanya penjual dawet itu basa basi.

“Mau nyari kulkas bekas mas, mungkin mas tahu…siapa yang mau jual kulkas?” jawab Landuy penuh harap.

“Waduh……nggak tahu saya mas. Coba mas buat tulisan saja. Kan orang bisa baca langsung.”

Landuy berpikir cepat. Lelaki itu mengangguk-angguk. Bener juga, ia tak perlu lagi bertanya kebanyak orang. Hah! Kenapa hal itu tak pernah dipikirkannya. Namun…..ia kembali murung.

“Apa mas…bisa bantu saya?” Dia membisiki penjual es dawet.

“Hahahhahahaha….saya juga nggak bisa baca tulis mas…..”
Lelaki disampingnya itu tertawa keras. Landuy bengong. “gimana sih mas, ngasih saran, tapi dirinya sendiri nggak bisa baca tulis.”
“Elho…wong saya cuma ngasih ide” dia masih terkekeh, menertawai nasib mereka yang sama-sama buta aksara.” Nah….itu ada bala bantuan mas” tangannya menunjuk segerombolan anak-anak pulang sekolah.

“Hayo….siapa yang mau es dawet?” teriaknya memanggil anak-anak itu.
“Gratis mas….?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Iya! Dengan catatan kalian harus membantu bapak ini menuliskan sesuatu” jawabnya sambil mengambil karton bekas air kemasan, di tempat sampah dekat pos kamling. “Kalian mau kan…..?”

“Mau…mau” jawab mereka kompak. Dan membantu menuliskannya diatas karton dengan spidol besar. BUTUH CEPAT KULKAS BEKAS! Lalu memberikannya pada Landuy.
Landuy tersenyum, memberinya tali raffia, dan menggantungkannya dibadannya. ”Terimakasih, sudah menolongku.” Ucap Landuy menepuk bahu penjual es dawet.
“Eh….ada yang ketinggalan mas?”

Landuy kaget, perasaan dia tak ketinggalan apa-apa.
“Bayarin es dawet mereka dulu, Semuanya 10 ribu!” Kata Si penjual Es dawet sambil nyengir.

Landuy melotot. Merasa dirnya dikibulin
“Itung-itung sedekah sama anak-anak.” Timpal penjual es dawet.
“Oooooo…begitu ya. Asem kamu” kata Landung. Namun dia mengeluarkan uang juga dan memberikannya pada penjual itu.
“Terimakasih mas, semoga usahanya kali ini lancar”
Landuy mengangguk dan meneruskan perjalananya, mencari kulkas bekas.

***
Kulkas warna merah putih berdiri manis di ruang tamu. Landuy sengaja mengecat sendiri kulkasnya, sesuai kehendak Juleha. Ia membelinya dari tukang sampah, Harganya 200 ribu.

Juleha merasa tersanjung dengan hadiah suaminya. Meskipun kulkas itu bekas, tak mengurangi kadar terimakasihnya. Wajahnya terus tersenyum. Cintanya makin besar pada Landuy. Begitu juga simbok. Tiap hari dia memuaskan dirinya dengan minum air dingin.
Dua hari kemudian simbok sakit radang tenggorokan, dan misuh-misuh kalau penyebab sakitnya karena air yang ia simpan dalam kulkas. Simbok jadi menyalahkan Landuy, kenapa ia menuruti permintaan istrinya.


Landuy cuek.
Sebulan kemudian, Juleha yang biasanya selalu memberikan senyum manis padanya. mendadak uring-uringan, setelah membayar tagihan listrik. “Apa-apaan ini mas, mahal sekali listrik yang kita bayar bulan ini” gerutunya. Ia sewot, mengetahui hampir setengah gaji suaminya ludes hanya untuk membayar biaya tagihan listrik. Belum lagi stok beras dirumahnya habis. Bila terus-terusan bagaimana dia bisa menabung untuk membayar kelahiran anaknya nanti. Perempuan manis itu mendesah panjang.

“Ini semua gara-gara kulkas, kita jual saja kulkasnya mas?” katanya tiba-tiba.
Landuytak begitu mendengarkan gerutuan istrinya, ia malah asyik bercengkrama dengan burung tekukur kesayangannya. Juleha semakin sewot

“Mas.....kamu denger omonganku tidak sih?”

“Omongan yang mana?”

“Kulkasnya dijual saja, aku sudah tak membutuhkannya lagi! Daripada kita bayar listrik mahal.”

“Lah...piye to kamu ini, dulu merengek-rengek minta dibelikan kulkas, sekarang setelah ada, minta dijual. Mbok ya mikir panjang dulu kalau minta sesuatu, kita perlu apa nggak?” kata Landuy panjang lebar.

Juleha jadi cemberut,” itu bawaan orok mas” elaknya, ngeles.
“Yo wes ben lah, biarin aja kulkasnya disitu, biar dianggap orang kaya.” Landuy tertawa sinis.

Istrinya makin keki.

Esoknya, Landuy kaget. Lemari pakaiannya kosong. Dia mencari istrinya yang sedang membantu simbok di kebun.

“Jule sayang....dimana kamu simpan semua bajuku?” Tanyanya lembut.
“Dirumahlah mas, emangnya di kebun?”
“Iya...tapi dimana?”
“Carilah sendiri mas.....kamu tahu kan, aku sedang sibuk ini?”
Landuy pulang dengan perasaan masygul. Setibanya dirumah matanya tertumpu pada kulkas, yang colokannya tergeletak dilantai. Ia membukanya dan terkejut. Semua bajunya ada didalam kulkas itu.

Oalah Julehaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

Jember 02 agustus 2017.












Comments

Post a Comment

Tulisan Beken