Passion #10




Berjualan

Selesai membantu ibu mencuci dan menjemur pakaian. Veasna duduk diatas bangku kayu,dibawah pohon mangga yang mulai berbunga. Menikmati semilir angin sepoi-sepoi.Pagi itu, matahari bersinar cerah, menghalau awan mendung yang tadi sempat menggantung.

Didepannya nenek sedang asyik menyiram tanaman sayuran, disitu ada sawi, selada, tomat, timun,cabe, terong, kenikir, kacang panjang, jahe,kunyit, kencur dan tanaman herbal lainnya yang tumbuh subur. Nenek memang telaten. Tak jarang dia suka menyapa tanaman-tanaman itu, yang selalu dipanggilnya genduk.”Tanaman itu juga mahluk hidup Veas. Mereka bisa merasakan kasih sayang kita juga” kata nenek, suatu hari, saat Veasna menanyakan perihal itu.


Veasna mangut-manggut, dia tak bisa membayangkan seandainya,tanaman bisa berbicara, dunia bakalan lebih ramai dengan celoteh-celoteh mereka. Veasna jadi pingin tahu, apakah mereka akan menyukai bola seperti dirinya, K-POP seperti saudara kembarnya, atau sinetron India dengan cerita yang bertele-tele seperti nenek dan ibunya? Veasna senyum-senyum sendiri mengingatnya.

“Ibu,lama tak melihat Alisa datang kesini, atau ibu yang terlalu sibuk? Mandika duduk disebelah anaknya, lalu tangannya cekatan menggelung rambutnya keatas. Dan menyisipkan setangkai bunga melati yang ia petik dari kebun diatas gelungan rambutnya. Sederhana namun sedap dipandang mata. Selain menambah keanggunannya, cara itu dipakai Mandika untuk membuat wangi tubuhnya.

 “Veasna lama tak bertemu dengannya bu. Mungkin sekarang dia sibuk sekolah.” Jawab Veasna. Tangannya memainkan daun mangga yang mengering, yang jatuh terbawa angin.Tiba-tiba perasaan kangen memenuhi rongga dadanya. Rasa yang membuatnya susah memejamkan mata. Teringat senyum dan lesung pipitnya yang manis. Sedang apakah Alisa sekarang? Memikirkannya dadanya terasa sesak. Dia menggigit bibir bawahnya, Perih.

Mandika mengerlingkan matanya pada anak lelakinya. Mencari tahu jawaban lewat matanya.
“Apa ibu mencintai bapak?” Veasna mengalihkan perhatiannya.

Mandika membuang nafas pelan,pandangannya menerawang pada serumpun tanaman kenikir, yang mengingatkannya pada almarhum suaminya.Lama dia menatapnya dengan mata tak berkedip, seolah-olah bayangan dia melihat bayangan suaminya disana.

“Bapakmu itu baik,Veas.Dia tidak neko-neko dan sayang sekali sama ibu dan kalian.Meskipun bapakmu tak pernah mendandani ibu dengan perhiasan.Tapi ibu bersyukur memilikinya.Sifatnya yang sabar, telaten dan tak pernah marah sama ibu, membuat ibu jatuh cinta padanya.”tuturnya dengan mata berbinar-binar.”Ibu jadi kangen bapakmu, Veas.”

Veasna terharu mendengar penuturan ibunya. Cinta ibu memang lugas. Kesetiaan dan kesabarannya telah memenangkan hati ibu.Nenek pernah bercerita dulu, bahwasannya, ibu adalah kembang desa dikampungnya.Banyak lelaki kaya yang ingin menyuntingnya.Namun,pilihan ibu justru jatuh pada bapak.Lelaki yang pekerjaannya kala itu masih serabutan.Untuk makan sendiri saja susah. Tapi bapak berani meminang ibu.Entah bagaimana cara ibu bisa bertahan,hingga Veasna dan kedua adik kembarnya lahir, tanpa ada riak-riak berarti. Mungkin karena sikap keikhlasan mereka dalam menerima garis yang telah ditentukan olehNYA.

Nenek kemudian ikut bergabung bersama mereka, tangannya membawa sekeranjang kecil buah timun yang baru dipetiknya. Veasna mengambilnya satu dan langsung memakannya lahap. 

“Bagaimana kalau kita jualan makanan masak bu, seperti sayur lodeh, soup, dan lauk pauk lainnya. Veasna yang memasak lalu kita jual keliling kampong, bisa juga dititipin ke warung-warung. Kita juga bisa meminta bantuan Kya dan Kissa untuk menjualnya disekolah.” Tiba-tiba muncul ide dikepala Veasna. Hasrat memasaknya menggebu. Dia bisa memodifikasi resep yang diajarkan Pak Mul padanya.

Ibu dan nenek saling pandang. Keduanya langsung sumringah.
“Ide bagus!Nenek juga bisa membantumu memasak Veas. Kamu tahu, orang-orang sangat menyukai masakan nenek.”Nenek begitu bersemangat menyambut ide cucunya.

“Ibu juga setuju!Nanti ibu akan tawarkan masakanmu pada langganan ibu.”
“Baiklah……karena hari masih pagi,Veasna akan memulai berjualan hari ini.” Ibu terperangah.”Apa tidak terlalu cepat ini Veas, bukankah kamu harus belanja bahan-bahan dulu?”

“Santai saja bu, lebih cepat lebih baik.Veasna sudah punya semua bahan untuk berjualan hari ini” Katanya,sambil tersenyum dan berlari ringan menuju dapur.

Nenek geleng-geleng kepala, cucunya memang sering penuh kejutan.”Apa perlu nenek membantumu, Veas?”teriak sang nenek

“Nggak usah dulu, nek.”dia sudah sibuk didapur. 

Mandika dan ibu mertuanya tak berani mengusiknya.keduanya kembali kerutinitasnya masing-masing. Ibu menyetrika baju-baju pelanggannya. Dan nenek kembali ke kebun.

Setengah jam kemudian……….

“Nenek…ibu, kemarilah!” Veasna berteriak memanggil ibu dan neneknya.Suaranya lantang sekali, membangunkan anak kucing liar yang sedang terlelap tidur.

“Trrararrararara…….silahkan dicicipin masakan Chef Veasna, ote-ote timun” Setengah jam kemudian, anak itu sudah membawa sepiring ote-ote timun kehadapan sang nenek dan ibu, lengkap dengan cabe rawit diatasnya.

Nenek mencicipinya,disusul ibu kemudian.”Wah……enak sekali ini Veas.” Kata ibu dan nenek berbarengan.

“Ini pasti laku”

“Heeh” ibu mencomot satu ote-ote timun lagi.
“Berapa kamu akan menjualnya, jangan terlalu mahal, nanti tak ada yang beli.” Kata sang nenek.

“Veasna sudah memperhitungkannya nek.Perbijinya 500 perak.” Dia tersenyum puas melihat wajah ibu dan nenek.

“Harga bagus itu”jawab ibu, sambil tak henti mengunyah ote-ote.
Karena memburu waktu,Veasna hari itu juga memulai berjualan. Ia memasukkan dagangannya dalam sebuah kotak plastic tranparan. Lalu,tanpa perasaaan malu, dia berkeliling kampong,dengan menaiki sepeda tuk menjajakan dagangannya.

“Doain dagangan Veasna laku ya nek, ibu” Dia berpamitan pada nenek dan ibunya.
“Semangatttt nak…..doa kami selalu menyertaimu”Ibu memberinya semangat



Comments

Post a Comment

Tulisan populer